Monday, 12 August 2013

Latar Belakang dan Tafsiran Ayub

Hahaha... ini mungkin latar belakang dan tafsiran paling hancur yang pernah saya buat ^_^


Ayub 8 : 1-7
1 Maka berbicaralah Bildad, orang Suah: 2 "Berapa lamakah lagi engkau akan berbicara begitu, dan perkataan mulutmu seperti angin yang menderu? 3 Masakan Allah membengkokkan keadilan? Masakan Yang Mahakuasa membengkokkan kebenaran? 4 Jikalau anak-anakmu telah berbuat dosa terhadap Dia, maka Ia telah membiarkan mereka dikuasai oleh pelanggaran mereka. 5 Tetapi engkau, kalau engkau mencari Allah, dan memohon belas kasihan dari Yang Mahakuasa, 6 kalau engkau bersih dan jujur, maka tentu Ia akan bangkit demi engkau dan Ia akan memulihkan rumah yang adalah hakmu. 7 Maka kedudukanmu yang dahulu akan kelihatan hina, tetapi kedudukanmu yang kemudian akan menjadi sangat mulia.

LATAR BELAKANG
KITAB AYUB

Kitab Ayub terdiri dari 42 pasal. [1]Menurut Blommendaal kitab Ayub yang asli hanya terdiri dari 2 pasal saja, yaitu pasal 1,2 dan 42:7-17 sedangkan selebihnya adalah tambahan bahan dalam bentuk puisi dan berisikan pembicaraan antara Ayub dan kawan-kawan (pasal 3-42:6). Rupanya cerita Ayub ini adalah cerita kuno yang kemudian ditambahkan oleh seorang penulis dengan memasukkan pikiran-pikirannya. Kitab Ayub termasuk dalam Sastera Hikmah (Hikmat) sehingga kitab ini tidak mempunyai hubungan dengan sejarah Israel.
Kitab Ayub bukanlah kitab yang berasal dari Israel melainkan berasal dari Edom. Hal ini dapat dibuktikan dengan pemakaian bahasa dalam penulisannya menggunakan bahasa Semitis Selatan dan juga terasa pengaruh bahasa Aram di dalamnya. Diduga kitab ini ditulis sesudah masa pembuangan. Sedangkan [2]menurut Alkitab Penuntun, tempat terjadinya peristiwa adalah di tanah Us yang kemudian menjadi wilayah Edom yang terletak di bagian tenggara laut mati/sebelah utara Arabia. Sehinga latar belakang kitab Ayub bersifat Arab dan bukan Ibrani.
[3]Sumber lain juga mengatakan bahwa kisah Ayub tampaknya berasl dari negeri Edom yang tetap dipertahankan sebagai latar belakangnya. Potongan-potongan dari Ayub ditemukan di antara Naskah Laut Mati, dan Ayub tetap menonjol dalam legenda Haggadah (upacara-upacara keagamaan yang di dalamnya dibacakan cerita-cerita leluhur atau cerita-cerita yang dapat memperkaya iman jemaat. Para sarjana sekular percaya bahwa bagian pengantar dan penutup dari kitab ini yang merupakan kerangkanya disusun untuk menempatkan puisi sentralnya ke dalam bentuk prosa "kitab rakyat" seperti yang diungkapkan oleh para penyusun Jewish Encyclopedia (Ensiklopedia Yahudi). Di dalam prolog dan epilog, nama Allah adalah Yahweh, sebuah nama yang bahkan digunakan oleh orang-orang Edom. Para pakar sekular sepakat bahwa puisi sentralnya berasal dari sumber yang lain.
Penulis kitab dan waktu penulisan :
[4]Ada berbagai-bagai pendapat tentang pengarang kitab ini. Dua tradisi Talmud mengatakan bahwa Ayub hidup di masa Abraham atau Yakub. Lewi ben Lahma mengatakan bahwa Ayub hidup di masa Musa, yang kemudian menulis Kitab Ayub itu sendiri. Yang lainnya berpendapat bahwa Ayub sendirilah yang menulis kitab ini, atau Elihu, atau Yesaya. Dari bukti-bukti internal, seperti misalnya kesamaan perasaan dan bahasa dengan apa yang ditemukan dalam Kitab Mazmur dan Amsal (Mazmur 88 dan 89), maraknya gagasan tentang "hikmat," dan gaya serta sifat komposisinya, diduga bahwa kitab ini telah ditulis pada masa Raja Daud dan Raja Salomo. Namun, sebagian orang menempatkannya di masa pembuangan Babel. Dan Tradisi Talmud memperlakukan kisah Ayub sebagai sebuah perumpamaan.
[5]Ada pula sumber yang berpendapat lain tentang tanggal penulisan kitab ini. Dua tanggal penting yang dicatat adalah :
1.     Tanggal kehidupan Ayub sendiri dan peristiwa-peristiwa yang diceritakan dalam kitab ini
2.     Tanggal penulis kitab ini yang diilhamkan. Beberapa fakta menunjukkan bahwa Ayub sendiri hidup sekitar zaman Abraham (2000 SM) atau sebelumnya. Fakta-fakta yang penting adalah :
a.   Ayub masih hidup selama 140 tahun setelah peristiwa-peristiwa dalam kitab ini (42:16) yang menyarankan jangka hidup yang hampir 200 tahun
b.   Kekayaannya dihitung dari jumlah ternak (1:3 dan 42:12)
c.    Pelayannaya sebagai imam dalam keluarganya seperti Abraham, Ishak dan Yakub (1:5)
d.  Sistem keluarga pimpinan ayah menjadi kesatuan sosial mendasar seperti pada zaman Abraham (1:4-5, 13)
e.   Serbuan orang-orang Syeba (1:15) dan orang-orang Kasdim (1:17) yang cocok dengan zaman Abraham
f.   Seringkali (31 kali) penulis memakai nama yang dipakai para patriarkh bagi Tuhan, yaitu Shaddai (Yang Maha Kuasa)
g.  Tidak ada petunjuk sama sekali kepada sejarah Israel atau hukum Musa sehingga memberi kesan tentang zaman pra-Musa (1500 SZB)
[6]Ada 3 pandangan mengenai tanggal penulisan kitab ini :
1.      Selama  zaman para leluhur sekitar 2000 SZB dan mungkin ditulis oleh Ayub sendiri
2.      Selama zaman Salomo atau tidak lama setelah itu sekitar 950-900 SZB
3.      Selama masa pembuangan sekitar 586-538 SZB, penulisnya tidak dikenal. Jika bukan Ayub sendiri pastilah penulis memiliki sumber-sumber lisan atau terinci dari zaman Ayub.
[7]Sulit untuk menentukan penulis kitab ini karena Kitab Ayub sendiri tidak memberikan keterangan eksplisit tentang identitas penulisnya. Tradisi Yahudi dalam tulisan para rabi menunjukkan usulan yang beragam. Secara umum dapat disimpulkan bahwa penulisnya adalah orang penting yang hidup sebelum atau pada jaman Musa. Sebuah tradisi Yahudi bahkan menyebut Musa sebagai penulis kitab ini (Baba Bathra 14b). Beberapa teolog Injili modern tetap memegang pandangan ini. Beragam argumen telah dipaparkan sebagai dukungan[8] tetapi secara esensial argumen tersebut biasanya berkaitan dengan dua pertimbangan.
1.        Pertama, penerimaan kitab ini oleh orang-orang Yahudi walaupun tokoh dan nuansa kitab ini bukanlah Yahudi. Penerimaan seperti ini pasti memiliki alasan yang sangat kuat sehingga dapat mengalahkan rasa nasionalisme bangsa Yahudi sendiri.
2.        Kedua, latar belakang cerita yang menyiratkan situasi pada masa patriakh sebelum jaman Musa. Teolog modern lain, baik injili maupun liberal mulai mempertanyakan pandangan di atas. Mereka memilih untuk skeptis terhadap kepenulisan kitab ini atau bahkan secara eksplisit menolak pandangan tradisional. Mereka menduga bahwa kitab ini tercipta melalui sebuah proses penulisan yang panjang dan kompleks. Mereka meyakini bahwa beberapa bagian dari kitab ini adalah tambahan yang dilakukan seorang atau beberapa editor. Walaupun mereka tidak mencapai kosensus tentang bagian-bagian yang diduga sebagai tambahan, namun secara umum mereka setuju bahwa beberapa bagian berikut ini merupakan tambahan, yaitu : perkataan Elihu (pasal 32-37), pujian tentang hikmat (pasal 28), perkataan TUHAN (pasal 40:6-41:34), narasi pendahuluan (pasal 1-2) dan penutup (42:7-17).

[9]Sebagian teolog menganggap kitab ini ditulis pada zaman Salomo. Argumen yang digunakan adalah kesaksian dari beberapa bapa gereja awal (Gregorius Nazianzen pada akhir abad ke-4) dan nuansa hikmat yang kental dalam kitab ini. Nuansa ini dianggap sesuai dengan masa perkembangan popularitas hikmat pada jaman Salomo.
[10]Penyelidikan yang teliti menunjukkan bahwa tidak ada satu pandangan pun yang konklusif. Hal ini disebabkan tidak adanya petunjuk yang eksplisit dan sedikit petunjuk yang ada yang bisa ditafsirkan dalam beragam cara. Bagaimanapun, pandangan tradisional tampaknya lebih bisa diterima, walaupun kita tidak harus memikirkan Musa sebagai penulisnya. Kemungkinan penulis tersebut dihormati oleh Musa atau berkaitan dengan dia.
Pertama, sebagaimana sudah disinggung di sebelumnya, sikap orang Yahudi yang mau memelihara dan mengakui otoritas kanonik Kitab Ayub pasti membutuhkan alasan yang sangat kuat. Kitab ini bahkan tidak termasuk ke dalam antilegomena, yaitu kitab-kitab yang sempat diperdebatkan otoritasnya (Kitab PL yang termasuk kategori antilegomena adalah Ester, Pengkhotbah, Kidung Agung, Yehezkiel dan Amsal).[11] Kita memang tidak mengetahui secara pasti mengapa Kitab Ayub begitu dihargai di kalangan orang Yahudi sekalipun para tokoh di dalamnya bukanlah orang Yahudi, namun kita juga tidak bisa mengabaikan fakta bahwa penerimaan suatu kitab pasti berkaitan dengan otoritas penulisnya. Penulis ini pasti merupakan orang saleh yang terkemuka pada zamannya.
Kedua, latar belakang cerita yang bersumber dari zaman sebelum Musa. Sebagaimana sudah sering disinggung oleh para teolog, Kitab Ayub memberikan petunjuk yang cukup jelas bahwa kisah di dalamnya terjadi pada zaman yang sangat kuno :
1.        Tidak ada keterangan atau sebutan yang berkaitan dengan Hukum Taurat
2.        Tidak ada sistem keimaman atau korban yang baku. Ayub bertindak sebagai kepala keluarga yang juga berfungsi sebagai imam (1:5; 42:8), sama seperti Abraham (Kej 12:8, 15:9-11, 22:2, 9-10)
3.        Umur Ayub kemungkinan besar melebihi rata-rata usia para patriakh (42:16, bdk. Kej 25:7, 35:28, 50:26)[12]
4.        Peristiwa yang ada kemungkinan besar terjadi sebelum TUHAN secara khusus berkarya melalui bangsa Israel. Hal ini diketahui dari para tokoh dalam cerita ini yang bukan termasuk orang Israel. Tanah Us (1:1) hampir dapat dipastikan bukan daerah dari bangsa Israel (Kej 10:23; Rat 4:21), dengan demikian menyiratkan bahwa Ayub bukan orang Israel. Walaupun Alkitab juga memberikan petunjuk bahwa TUHAN tetap memakai orang kafir sebagai hamba-Nya sekalipun Ia sudah memilih bangsa Israel – misalnya Yitro (Kel 3:1; 18:1-12) – tetapi gambaran umum dalam Alkitab tetap lebih mendukung relasi khusus antara TUHAN dan bangsa Israel.
5.        Sebutan “TUHAN” jarang dipakai untuk Allah (hanya 32 kali). Sebutan yang lebih umum adalah “Allah” (sekitar 130 kali).
Para teolog yang menolak pandangan tradisional tentang kepenulisan Kitab Ayub memang mengakui bahwa kisah dalam kitab ini terjadi pada masa patriakh. Walaupun demikian, mereka berpendapat bahwa latar belakang peristiwa tidak selalu identik dengan latar belakang penulisan. Dengan kata lain, sebuah peristiwa belum tentu ditulis segera sesudah peristiwa itu terjadi. Pendapat di atas memang bisa saja benar. Kitab Ayub mungkin ditulis jauh setelah peristiwa di dalamnya terjadi. Bagaimanapun, hal ini hanyalah sebuah dugaan belaka. Tidak ada petunjuk yang pasti tentang hal ini. Dengan cara yang sama, tidak ada alasan kuat untuk membantah kemungkinan bahwa kitab ini ditulis segera sesudah peristiwa terjadi.
Argumen ketiga di atas merupakan argumen yang mendukung pandangan tradisional yang merupakan jawaban terhadap dugaan bahwa kitab Ayub melewati proses penulisan yang panjang dan kompleks. Sebagai contoh, perkataan Elihu yang seringkali dianggap tambahan dan tidak esensial bagi keseluruhan kitab. Elihu memang terkesan muncul secara tiba-tiba karena dia tidak disebutkan sebelumnya sebagai sahabat Ayub (bdk. 2:11-13). Dia juga menghilang secara tiba-tiba di bagian penutup (bdk. 42:7, 9). Bagaimanapun, hal itu tidak berarti bahwa keberadaannya tidak esensial. Cara Elihu ditampilkan tersebut dapat dijelaskan dengan mudah. Nama Elihu tidak disebutkan di 2:11-13 karena ia masih sangat muda dan tidak termasuk orang yang terkenal hikmatnya (32:6-7). Karena itulah ketika ia mulai berbicara, penulis memberikan keterangan khusus tentang asal-usul Elihu (32:2). Menghilangnya nama Elihu di bagian akhir kitab juga dapat dijelaskan karena ia tidak termasuk orang yang dianggap bersalah oleh Allah (42:7, 9). Sebagai tambahan, sekarang semakin banyak teolog yang meyakini peranan sentral Elihu dalam keseluruhan cerita. Beberapa di antara mereka bahkan menduga bahwa Elihu adalah penulis dari Kitab Ayub. Berikut ini adalah beberapa argumen yang seringkali dikemukakan untuk menunjukkan pentingnya peranan Elihu:
1.        Nama Elihu diberi keterangan yang relative lebih detil (32:2, 6; bdk. 2:11)
2.        Hikmat Elihu terlihat dengan jelas dari usianya yang muda dan tidak adanya kesalahan dalam dirinya
3.        Perkataan Elihu adalah satu-satunya yang tidak dibantah oleh Ayub
4.        Perkataan Elihu merefleksikan inti dari jawaban TUHAN terhadap Ayub dan dengan demikian sekaligus berfungsi sebagai inti dari keseluruhan kitab.[13]
Dari semua penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pandangan modern tidak memberikan bukti yang kuat. Pandangan tersebut hanyalah sebuah dugaan. Sebaliknya, walaupun pandangan tradisional juga tidak memberikan bukti yang konklusif namun pandangan ini tetap memiliki kemungkinan yang lebih besar dibandingkan pandangan lain. Keyakinan sebagian teolog bahwa Musa atau Elihu merupakan penulis Kitab Ayub tetap tidak boleh diabaikan begitu saja.
Ciri-Ciri Khas
Tujuh Ciri utama menandai kitab ini. :
1.      Ayub, penduduk Arab Utara, seorang yang bukan Israel yang benar dan takut akan Allah, mungkin telah hidup sebelum keluarga perjanjian Israel ada. (1:1)
2.      Kitab ini menyajikan pembahasan terdalam yang pernah ditulis mengenai rahasia penderitaan. Sebagai puisi dramatic, drama dalam kitab ini berisi rasa kesedihan yang mengharukan dan dialog intelektual yang menggugah perasaan
3.      Kitab ini mengungkapkan suatu dinamika penting yang beroperasi dalam setiap ujian berat yang dialami orang saleh : sementara iblis berusaha untuk menghansurkan iman orang saleh, Allah bekerja untuk membuktikan iman itu dan memperdalamnya.
4.      Kitab ini memberikan sumbangan tak ternilai kepada seluruh penyataan Alkitabiah tentang pokok-pokok penting seperti Allah, umat manusia, penciptaan, iblis, dosa, kebenaran, penderitaan, keadilan, pertobatan dan iman
5.      Sebagian besar kitab ini mencatat penilaian teologis yang salah tentang penderitaan ayub oleh teman-temannya.
6.      Peran iblis sebagai ‘penuduh’ orang benar ditunjukkan dengan lebih jelas dalam ayub dari kitab  PL lainnya.
7.      Secara dramatis, kitab ayub mempertunjukkan prinsip Alkitabiah bahwa orang percaya diubah oleh penyataan dan bukan informasi (42:5-6)
Tujuan Penulisan Kitab
Hampir semua teolog sepakat bahwa tujuan Kitab Ayub adalah memberikan penjelasan tentang keadilan Tuhan bagi orang benar. Penderitaan yang dialami oleh Ayub merupakan sesuatu yang sulit untuk dipahami menurut konteks keagamaan pada waktu itu. Konsep tradisional mengajarkan bahwa ketaatan akan membawa berkat (1:1-3), sedangkan ketidaktaatan menghasilkan kutukan. [14]Berkaitan dengan hal ini dalam tradisi PL sendiri dikenal dua macam aliran tradisi hikmat. Aliran hikmat yang pertama adalah aliran yang bersifat keduniawian seperti yang secara baik termuat dalm kitab Amsal, aliran ini dikukuhkan oleh pandangan theodisi yang mengatakan bahwa Tuhan mengganjar orang benar dan menghukum orang jahat. Aliran hikmat yang kedua adalah aliran yang menekankan bahwa hikmat dan kuasa Tuhan nyata dalam karya-karya kreatif Allah (band Yes 40:12-13, Ayub 28). Aliran ini menekankan sifat Tuhan yang transendens, yang penuh rahasia dan rasa takut dan gentar pada diri manusia apabila manusia berhadapan dengan kuasa Tuhan itu. Dalam kerangka pikir seperti inilah Ayub dan tiga orang sahabatnya bergumul tentang keadaan Ayub. Bagi Ayub yang tidak merasa bersalah (bdk. 1:5; 10:7; 13:18, 23; 27:5; 31:1-40), penderitaannya tampak sebagai sesuatu yang tidak adil. Sebaliknya, para sahabat Ayub dengan yakin menuduh Ayub telah berbuat dosa tertentu (bdk. 4:7-8).
Pergumulan seperti inilah yang ingin dijawab dalam Kitab Ayub. Jika kita meneliti dengan lebih seksama, maka kita akan menemukan sesuatu yang lebih dalam daripada pergumulan manusia di atas. Sejak awal kitab ini para pembaca sudah diberi petunjuk bahwa inti persoalan bukan terletak pada penderitaan Ayub. Yang paling disorot [15]Tremper Longman III & Taymond B. Dillard, dalam bukunya An Introduction to the Old Testament sebenarnya bukan alasan mengapa Ayub menderita, tetapi keputusan Allah yang memberkati orang benar.[16] Setan menganggap keputusan tersebut bersifat kontraproduktif karena kesalehan seseorang menjadi tidak murni. Seseorang cenderung untuk hidup dengan saleh hanya karena menginginkan berkat TUHAN (1:9-11; 2:3-5). Dengan demikian, yang menjadi aktor yang paling disorot dalam kisah ini sebenarnya adalah Tuhan, bukan Ayub. Bagian selanjutnya dari Kitab Ayub membuktikan bahwa keputusan Tuhan yang memberkati orang benar memang bisa dipertanggungjawabkan. Paling tidak Ayub merupakan bukti konkrit dari tepatnya keputusan tersebut. Sejak awal Ayub menolak untuk meninggalkan Tuhan sekalipun ia tidak memiliki berkat apapun secara materi (1:21-22; 2:10). Pada akhir cerita, Ayub tetap meyakini Tuhan dalam segala yang Ia perbuat (42:1-6). Ayub bukan hanya bertahan, tetapi ia sendiri justru mengalami perkembangan kerohanian (42:5). Menariknya, sebagai respon terhadap kesalehan Ayub ini, TUHAN memberkati dia lebih daripada sebelumnya (42:10-17). Berkat ini tidak diberikan pada saat Ayub sedang bergumul supaya tidak menimbulkan kesan bahwa Ayub bertahan semata-mata karena menginginkan berkat itu. Berkat ini diberikan setelah Ayub mempertahankan kesalehannya untuk membuktikan bahwa tuduhan setan terhadap keputusan Allah adalah tidak tepat.

[17]Struktur Kitab Ayub

Pasal 1-2          Sidang Ilahi Setan mencoba ayub, walaupun demikian Ayub tetap setia kepada Allah.
Pasal 3-27        Perdebatan antara Ayub dan kawan-kawannya, yaitu Elifas, Zofar, dan Bildad. Menurut kawan-kawannya itu Ayub menderita karena dosa-dosanya.
Pasal 28-31      Hikmat dipuji Ayub membela diri bahwa dia tidak bersalah.
Pasal 32-37      Elihu kawan yang keempat muncul dengan mengatakan bahwa selain Allah bisa memberi pederitaan agar orang yang berdosa itu bertobat, maka Allah juga bisa member pencobaan kepada orang saleh untuk mencobai mereka
Pasal 38-42:6   Allah sendiri datang dan menjawab, “Aku adalah pencipta segala sesuatu makanya Aku terlalu besar untuk dimengerti oleh manusia”. Lantas Ayub mengaku bahwa ia orang kecil saja yang memang tidak bisa mengerti kebesaran Allah.
Pasal 42:7-14   Allah mengatakan bahwa kawan-kawannya itu tidak benar dan Ayub memperoleh kembali kesehatan, kekayaan dan kebahagiaannya.

TAFSIRAN
“AYUB 8 : 1-7”

Ayat 1 : Maka berbicaralah Bildad, orang Suah:
-          Bildad orang Suah : Keturunan Suah, merupaka salah satu dari anak-anak Abraham, oleh Keturah, yang tinggal di Saudi Arabia, yang disebut dalam Kitab Suci. Lihat Kejadian 25:1, 25:2 Kejadian, Kejadian 25:6.
Ayat 2 : "Berapa lamakah lagi engkau akan berbicara begitu, dan perkataan mulutmu seperti angin yang menderu?
-          Berapa lamakah lagi engkau akan berbicara begitu : Dalam kalimat ini, Bildad orang Suah itu mulai kesal dengan Ayub yang selalu berbicara tentang Tuhan yang mungkin menurut Bildad adalah sesuatu yang konyol.
-          perkataan mulutmu seperti angin yang menderu : Septuaginta menerjemahkannya, "Semangat mulutmu adalah berlimpah kata-kata". Disini menurut Bildad setiap perkataan yang keluar dari mulut Ayub, baik itu keluhan kepada Tuhan atau Ayub bergumam, layaknya seperti angin yang menderu, siapa yang menghalangipun tidak bisa.
Ayat 3 : Masakan Allah membengkokkan keadilan? Masakan Yang Mahakuasa membengkokkan kebenaran?
-          Masakan Allah membengkokkan keadilan? : Tentu saja TUHAN tetap adil kepada Ayub. Namun di balik pertanyaan retoris Bildad terdapat nada menghakimi bahwa Ayub sedang menuai dosa yang ia taburkan. Masalah keadilan TUHAN ini, walaupun pasti tercakup dalam keluhan Ayub, sebelumnya bukan merupakan pemikiran utamanya. Ayub telah merenungkan nasibnya lebih dari perspektif metafisika tentang transendensi TUHAN dan keterbatasan manusia. Dengan memusatkan perhatian pada aspek keadilan, para penghibur itu hanya berhasil meningkatkan pencobaan sahabat mereka. Teodise Ayub sama tidak memadainya dengan teodise para sahabat itu. Karena itu, Ayub berpikir bahwa TUHAN pasti sangat tidak senang kepadanya. Namun, nuraninya menolak untuk mengakui bahwa ia telah melakukan suatu pelanggaran yang sepadan dengan penderitaannya. Jadi, di manakah keadilan? Di manakah TUHAN yang baik yang dikenalnya selama ini?
-          Masakan Yang Mahakuasa membengkokkan kebenaran? : Memiliki makna yang sama dimana kebenaran dan keadilan dari TUHAN dipertanyakan.
Ayat 4 : Jikalau anak-anakmu telah berbuat dosa terhadap Dia, maka Ia telah membiarkan mereka dikuasai oleh pelanggaran mereka.
-          Jikalau anak-anakmu telah berbuat dosa terhadap Dia : Disini Bildad sepertinya mencoba mempengaruhi pikiran Ayub tentang TUHAN dengan membuat perbandingan antara Ayub dan anak-anaknya (7 anak lelaki dan 3 anak perempuan). Jika kita lihat pada pasal sebelumnya dikatakan dengan jelas dosa dari anak-anak Ayub. Oleh sebab itu Bildad mengatakan hal seperti itu.
-          maka Ia telah membiarkan mereka dikuasai oleh pelanggaran mereka : Ia yang dimaksud adalah TUHAN. Mereka yang dimaksud adalah anak-anak Ayub yang sudah melakukan dosa. Disini, mungkin Bildad mau mengatakan bahwa jika anak-anak dari Ayub yang berdosa, maka TUHAN akan menimpakan tulah kepada mereka (dikuasai oleh pelanggaran mereka).
Ayat 5 : Tetapi engkau, kalau engkau mencari Allah, dan memohon belas kasihan dari Yang Mahakuasa.
-        Tetapi engkau : engkau yang dimaksudkan adalah Ayub.
-        kalau engkau mencari Allah : suatu kalimat nasihat. Disini Bildad menasihatkan Ayub untuk kembali dan merendahkan diri kepada TUHAN.
-       memohon belas kasihan dari Yang Mahakuasa : memohon belas kasihan mungkin bisa ditafsirkan bahwa Bildad menyarankan kepada Ayub agar Ayub benar-benar meminta pengampunan daripada TUHAN.
Ayat 6 : kalau engkau bersih dan jujur, maka tentu Ia akan bangkit demi engkau dan Ia akan memulihkan rumah yang adalah hakmu.
-          kalau engkau bersih dan jujur : Kalau Ayub hidup bersih dan jujur. (hidup benar dihadapan TUHAN.
-          maka tentu Ia akan bangkit demi engkau : Ia adalah TUHAN, jadi Bildad seakan-akan mau mengatakan bahwa jika Ayub memang hidup benar dihadapan TUHAN, maka TUHAN akan membelanya. Tuhan tidak akan terus-terusan membiarkan Ayub menderita.
-          Ia akan memulihkan rumah yang adalah hakmu : Memulihkan, menjadikan pulih; menjadikan suatu keadaan kembali (baik, sehat) seperti semula. Rumah, Di dalam PL maupun PB kata rumah bisa dijadikan kata dengan arti kiasan soal hidup rumah-tangga secara keseluruhan, soal hidup keluarga, atau soal keturunan (Misalnya: Kej 7:1) dan lagi soal jangkauan penguasaan (Misalnya: rumah perbudakan = Mesir. Lihat Kel 13:3).
Jadi maksud dari perkataan Bildad yaitu seakan-akan Bildad mau menghakimi bahwa Ayub sudah bersalah kepada TUHAN sehingga Ayub dihukum oleh TUHAN. Dan satu-satunya cara agar Ayub terbebas dari hukumannya, Ayub harus berserah, merendahkan diri di hadapan TUHAN. Yang dimaksud dengan kalimat dalam ayat 6b ini adalah TUHAN akan memulihkan atau memperbaiki kembali keluarga Ayub secara keseluruhan karena keluarga Ayub merupakan bagian dari hidup Ayub dan itu merupakan haknya,
Ayat 7 : Maka kedudukanmu yang dahulu akan kelihatan hina, tetapi kedudukanmu yang kemudian akan menjadi sangat mulia.
-          Maka kedudukanmu yang dahulu akan kelihatan hina : Kedudukan, bisa saja tempat tinggal tapi bisa juga suatu tingkatan atau martabat. Bildad mengatakan ini karena ia tahu bahwa kehidupan Ayub dan keluarganya seperti apa. Oleh sebab itu Bildad mengatakan hal ini agar supaya Ayub mau hidup benar karena Bildad beranggapan bahwa Ayub adalah seorang yang berdosa.
-          tetapi kedudukanmu yang kemudian akan menjadi sangat mulia : ini merupakan perbandingan dengan kalimat yang sebelumnya. Jadi kedudukan Ayub yang dahulu (mungkin berdosa) adalah suatu kedudukan yang hina tapi jika Ayub mau hidup benar dihadapan Tuhan maka Tuhan akan memulihkannya.



[1] Dr. J. Blommendaal, Pengantar Kepada Perjanjian Lama, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2009), Hal 150
[2] LAI, Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan, (Jakarta : LAI, 1993, hal 754-755
[3]www.google.com, Latar Belakang Kitab Ayub
[5] LAI, ibid
[6] LAI, ibid
[7] www.google.com, Pengantar Perjanjian Lama/Kitab Ayub
[8] Archer,  A Survey of the Old Testament, hal 505.
[9] Edward J. Young, An Introduction to the Old Testament (Grand Rapids: Erdmann’s, 1970), hal 319-320.
[10] www.google.com, Pengantar Perjanjian Lama, opcit
[11] Norman L. Geisler & William E. Nix, A General Introduction to the Bible (Chicago: Moody Press, 1968), hal 163-165.
[12] Sebagian teolog menduga Ram, nenek moyang Elihu (32:2), adalah keturunan Yehuda (Rut 4:18-19, 1Taw 2:8-10, 25-27, Mat 1:3-4). Sebagian teolog lain menolak anggapan ini karena orang Bus kemungkinan besar bukanlah orang Israel (bdk. Kej 22:20-21, Yer 25:23). Kita tidak dapat memastikan apakah Elihu dalam Kitab Ayub merupakan keturunan Yehuda atau tidak. Jika benar, maka Elihu bisa jadi hidup pada jaman sesudah para patriakh. Mengingat pada waktu kisah di Kitab Ayub terjadi Elihu masih sangat muda dan Ayub sendiri termasuk kategori yang lanjut usia (32:4, 6), tetap ada kemungkinan bahwa Ayub dan tiga orang temannya lahir pada masa para patriakh.
[13] J. P. Weinberg, “Authorship and Author in the Ancient Near East and in the Hebrew Bible”, Hebrew Studies 44 (2003) hal 157-168.
[14] Prof. Dr. S. Wismoady Wahono, Di sini Kutemukan, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2009), hal 232
[15] Tremper Longman III & Taymond B. Dillard, An Introduction to the Old Testament (Grand Rapids : Zondervan, 2006), hal 225.
[16] J. P. Weinberg, “Authorship and Author in the Ancient Near East and in the Hebrew Bible”, Hebrew
Studies 44 (2003) : 157-168.
[17] LAI. ibid