Saturday, 29 August 2015

UTOPIA

Pernahkah kamu mengharapkan akan datangnya keajaiban dari Tuhan agar Ia menjawab semua doamu tentangnya?

Atau pernahkah kamu terlalu lelah untuk menunggu dan memilih untuk berhenti bahkan mengakhiri semuanya?

Aku pernah !
Ingatan tentang orang itu kembali berputar di kepalaku. Ya ! Ingatan yang telah ku kubur 6 tahun yang lalu, kini terbuka kembali ketika dia menyapaku.

'Fanya ???'

'Dillan ?!' Kataku dengan nada terkejut. Bagaimana tidak? Orang yang dulu pernah menjadi bagian dalam kehidupanku kini berdiri dengan gagahnya di hadapanku. Wajahnya, senyumnya, bahkan matanya... Oh Tuhan, cabut nyawaku saat ini juga. Dia Dillan dan dia masih sama seperti 6 tahun yang lalu. Sekeras apapun aku mencoba mengubur semua kisah, kenangan, harapan, bahkan perasaanku padanya 6 tahun yang lalu runtuh seketika saat ia kembali menyapaku. Hati kecilku  berteriak bahwa aku merindukannya.

'Ya ampun, aku gak nyangka kita bakalan ketemu. Kamu dimana aja selama ini? Gimana kabarmu, Anya?'

Deggg !!!
Anya? Dia masih mengingatnya? 6 tahun yang lalu, hanya dia satu-satunya orang yang memanggilku dengan nama itu. Nama yang bahkan tak ingin aku ingat lagi.

'Anya... Heiii'
Ku lihat dia menggerak-gerakkan tangannya di depan wajahku dan mengembalikan jiwaku yang pergi entah kemana karena keterkejutanku.

'Ehh... Dillan. Iya iya... Aku juga gak nyangka kita bakalan ketemu. Selama ini aku di Bandung, Di  dan seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Kamu?'
Aku balik bertanya untuk menutupi perasaanku yang sebenarnya bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.

'Aku juga baik, An. By the way, kamu ada keperluan apa disini?'

'Hmm... aku lagi nunggu temenku, kebetulan dia kerja disini. Kamu sendiri, ngapain disini?'

'Aku datang untuk fitting baju, An'

'Menikah ? dengan siapa?' pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku.

'Hahaha, belum Anya. Belum menikah, kami akan tunangan bulan depan. Orangnya sedang di toilet, An. Kamu gak tau sama sekali?' tanyanya dengan wajah terkejut. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku. Kaget? iya. Ku lihat raut wajahnya berubah menatapku. Tatapan kesedihan...

'Anya... terimakasih sudah hadir dalam kehidupanku 6 tahun yang lalu. Aku mohon jangan menghilang lagi, An'  katanya sambil menggenggam erat tanganku. Tanpa aba-aba, airmataku meluncur begitu saja. Ya Tuhan, kenapa harus seperti ini? Dia memelukku...

'Kenapa? kenapa, Di? kenapa harus kita? Aku benar-benar gak sanggup, Di.' tanyaku disela-sela tangisanku yang semakin menjadi-jadi. Dia? Dia hanya diam dan memelukku erat. Namun perlahan-lahan ku rasakan pelukannya mulai mengendur.

'Anya.. kenalin ini calon tunanganku dan Reina kenalin ini Anya sepupuku'
Dia mencoba mengenalkanku dengan orang yang nantinya akan bersanding dengannya. Oh Tuhan, situasi macam apa ini? Ku lihat tatapan kesedihan terpampang jelas di wajah Dillan, sepupuku. Ya! Sepupu yang tidak pernah ku ketahui sebelumnya hingga pertemuan 6 tahun yang lalu menghancurkan semua harapan dan perasaanku.

'Fanya...'
'Reina...Senang bertemu denganmu Fanya. Kamu satu-satunya sepupu yang selalu diceritakan kepadaku. Aku harap kamu akan datang dalam acara pertunangan kami nanti. Fanya.. Dillan, aku  masuk duluan yah, mau coba gaunku dulu hehehe' 

Aku hanya bisa mengangguk sambil tersenyum kecil. Ku rasakan Dillan menarikku ke dalam ruangan yang sepi dan kembali menarikku dalam pelukannya. Aku hanya bisa terdiam dengan airmata yang tak berhenti mengalir.

'Maaf... Maafin aku, kita harus bertemu di situasi seperti ini. Untuk saat ini dan untuk yang terakhir kalinya, aku mau melupakan siapa kita dan apa hubungan yang mengikat kita saat ini. Aku hanya ingin kamu tau, perasaanku tetap sama seperti 6 tahun yang lalu. Aku mencintaimu Fanya Prawesti.'

Aku hanya bisa terdiam dalam tangisanku, aku merasakan dia melepaskan pelukannya, mengecup pelan keningku dan berjalan menjauh... Aku jatuh tersungkur di lantai dan pecahlah tangisanku. Dia, senyumnya, matanya... bukan milikku lagi. Aku salah. Kupikir waktu 6 tahun cukup menguatkanku untuk bisa tegar berdiri dihadapannya. Saat ini juga, aku ingin kamu tahu bahwa aku masih menyimpan perasaan yang sama seperti 6 tahun yang lalu. Kenyataan menjatuhkan semua impianku dan menghancurkan perasaanku...

Itulah mengapa, lebih menenangkan  menunggu seseorang yang belum pasti bisa kau dapatkan daripada menunggu sesuatu yang sudah pasti tak akan menjadi milikmu...

Kamu adalah titik yang semakin menjauh ketika aku berusaha mendekat
Kamu adalah sesuatu yang hanya bisa aku pandangi namun tak bisa aku gapai
Kamu adalah Utopiaku
Dillan, Aku mencintaimu












Monday, 17 August 2015

Long Distance Relationship

"...akan selalu ada pengorbanan dalam setiap penantian"

Bagi pasangan yang tidak pernah merasakan Long Distance Relationship,  pertemuan adalah hal yang biasa saja. Namun bagi pasangan yang sedang menjalani Long Distance Relationship, pertemuan adalah waktu yang tepat dan berharga untuk mengungkapkan kesedihan, kekesalan, dan kebahagiaan.

Tidak banyak pasangan yang mampu menjalani hubungan seperti ini. Hubungan tanpa melihat satu dengan lainnya secara langsung, hubungan tanpa skinship. Oleh sebab itu banyak orang mengatakan pasangan yang hebat bukan hanya pasangan yang tiap hari bertemu tanpa ada bosannya, tetapi juga pasangan yang sedang menjalani LDR. Mengapa?
LDR itu susah karena membutuhkan komitmen serta kepercayaan yang teguh saat berjauhan karena akan ada banyak godaan melebihi pasangan yang menjalani CDR (Close Distance Relationship).

Itulah mengapa saya mengatakan bahwa akan ada pengorbanan dalam setiap penantian. Berkorban waktu, perasaan, dan kebahagiaan.

But it's okay...
Semua pengorbananmu akan terbayar ketika kamu bertemu dengan pasanganmu. Jarak akan membuktikan seberapa besar kesetiaanmu kepada pasanganmu...

You are My...

Semua berjalan dengan semestinya dan tak terbayangkan hingga saat ini !

Satu hari, dua hari, berganti menjadi satu bulan hingga bertahun-tahun. Banyak kisah yang dijalani bersama. Suka dan duka mewarnai perjalanan panjang ini.

Hei! ini kisahku, aku penulisnya. Tahukah kamu ? Jari-jariku ini menjadi saksi bisu, bagaimana aku berusaha melatihnya agar bisa menari indah untuk menulis kisah ini dengan coretan pena diatas lembaran-lembaran kertas yang kusebut diary ?

Terkadang ia bisa menari dengan indah tanpa mengenal lelah dan paksaan ketika kisah yang akan ditulis adalah kisah yang bahagia... namun, ia enggan menari ketika kisah tersebut adalah kisah yang menyedihkan. Walaupun demikian aku tetap berusaha melatihnya, agar dia tidak hanya menari dengan coretan pena dilembaran kertasku ketika kisah tersebut indah dan bahagia, namun ia juga harus tetap menari ketika kisah itu merupakan kisah yang menyedihkan, mengharukan hingga menguras air mata. Dengan begitu jari-jariku ini akan terbiasa dalam segala situasi yang harus diabadikan.

Berkat jari-jariku,  kini kisahmu, kisahku, kisah kita ada didalam diary-diary itu. Lembaran pertama  mengingatkanku bagaimana cara kita bertemu hingga perpisahan itu merenggut semua kebahagian kita. 

Kau sahabatku, tak ada yang bisa menggantikan kenyataan itu hingga saat ini. Jarak bumi ke bulan itulah penyebabnya. Aku tidak tahu dengan pasti apa yang membuat semuanya terjadi bahkan ketika aku mencoba menulisnya, jari-jariku, lembaran kertasku hingga coretan-coretan pena itu bertanya kepadaku, apa yang sebenarnya terjadi?. Aku hanya bisa diam dan terus memaksa mereka mengikuti keinginan hatiku untuk menuliskan sesuatu... ya ! sesuatu tentang dirimu...

Ini MISTERI yang belum dapat kupecahkan saat ini... Perjalanan ini sudah terlalu panjang. Namun, jika suatu saat kita harus bertemu lagi... mari kita menjadi sahabat dan mungkin bisa menjadi saudara...
Mari dijalani, sobat !

Malam yang gelap... sungguh sangat menyedihkan ketika bintang itu tak nampak dalam penglihatanmu ! Menunggu?  sampai kapan ? Ketika pagi kembali merenggut gelapnya malam yang ditandai dengan hadirnya sinar matahari...
Sepertinya sedikit terhibur, namun awan gelap mulai menutupi cahaya tersebut dan kemudian... hujan turun..... berharap dapat melihat pelangi, namun hujannya tak kunjung reda hingga malam tiba... kembali mengharapkan bintang itu nampak, tapi kenyataan berkata lain. Kini, terlihat seorang anak kecil yang juga sedang menunggu cahaya bintang yang tak kunjung datang !
Berbeda... anak itu kemudian mengalihkan pandangannya pada setiap tetes air hujan yang jatuh. Ia menikmatinya... dan kemudian melupakan apa yang ditunggunya sedari tadi... Kedatangan cahaya bintang itu menjadi misteri. Tapi jika cahaya bintang itu nampak kembali... mari kita saling bersapa dan melupakan kekesalan hati karena penantian yang cukup panjang :)

Friday, 5 June 2015

Kamu dalam DOAKU (1)

Aku menyadari bahwa aku tidak tahu siapa yang akan menjadi teman hidupku nanti. Aku juga tidak tahu, apa yang akan terjadi dengan hidup dan pilihanku ketika bersama teman hidupku. Namun satu hal yang aku tahu... Tuhan memberikan kebebasan bagiku untuk menentukan dengan siapa akan kujalani masa depanku... Setiap pilihan memiliki konsekuensinya. Kebebasan untuk memilih dan menentukan yang terbaik harus digunakan sebaik mungkin.

Kebebasan untuk menentukan pilihan ada ditanganku. Namun aku menyadari bahwa terkadang pilihanku mengecewakanku ataupun sebaliknya. Oleh karena itu aku memilih untuk tetap bebas dalam menentukan pilihan, tetapi dia yang ku pilih serta aku yang memilih akan selalu ku bawa kepada DIA yang memberikanku kebebasan. Apakah dia yang terbaik bagiku? atau apakah aku akan menjadi yang terbaik untuknya?

Aku selalu menyebutkan namanya ketika aku memilihnya dulu. Seberat apapun mataku menahan kantuk, namanya tidak pernah terlewatkan dalam setiap doaku... Dia, pilihan pertama dan menjadi lelaki kedua setelah papa yang selalu kusebut dalam doaku. Tuhan tahu aku benar-benar tulus ketika menyelipkan namanya dalam doaku. Walaupun pikiranku saat itu ketika mendoakannya tidak tertuju pada teman hidup dikarenakan umur dan pikiranku masih tergolong remaja. Namun di dalam lubuk hati yang terdalam, aku benar-benar ingin selalu bersamanya. 

Aku tidak merasa di kecewakan oleh orang yang selalu aku doakan ini, bahkan aku merasa akulah yang paling bersalah dari hancurnya hubungan ini... 
Sepertinya aku salah berdoa. Aku hanya mendoakannya agar dia menjadi yang terbaik bagiku dan akan selalu bersamaku. Aku lupa ! Lupa mendoakan diriku sendiri agar menjadi yang terbaik untuknya...

la la la la la
Segala hal bisa diperbaiki. Tidak ada yang perlu disesali... Kebebasanku untuk memilih mengajarkanku untuk setia pada pilihanku dan tidak lupa menyebutkan namamu, namaku... nama kita, ketika aku berdoa.

Aku tidak tahu apakah aku perempuan yang beruntung karena memilih dan dipilih kamu, ataukah kamu lelaki yang beruntung karena telah dipilih dan memilih aku.... yang aku tahu, hatiku memilihmu dan berharap kamulah yang akan menjadi teman hidupku... kamu yang kini selalu ada dalam setiap doa-doaku...

Allah Menyediakan (4) #PTRB

Tulisan ini merupakan renungan berantai yang ditulis oleh beberapa teman secara bergiliran. Tulisan ini adalah tulisan Keempat. Tulisan ketiga dapat dibaca di blog kakak terkasih Lastriana Ginting, disini : http://lastrigintinglagie.blogspot.com/2015/05/memantaskan-diri-3ptrb-tulisanini.html?spref=fb



“Apa yang tak pernah dilihat mata dan tak pernah didengar telinga. Yang tak pernah timbul di dalam hati, semua disediakan bagi yang mengasihi Dia…”Allah Sanggup

Kalau dalam tulisan-tulisan sebelumnya bercerita mengenai pasangan hidup, maka dalam tulisan kali ini saya ingin merenungkan betapa kasih Tuhan sangat nyata dalam kehidupan saya khususnya selama saya melaksanakan praktek pendidikan lapangan 6. Sebagai seorang mahasiswa Fakultas Teologi yang akan menjalani masa praktek selama 4 bulan di GKI Ngagel Surabaya, saya mengalami ketakutan yang luar biasa karena saya tidak mengetahui dengan baik mengenai GKI Ngagel. Saya takut tidak diterima dengan baik, takut tidak memiliki teman, takut tidak bisa melakukan apa-apa dan masih banyak ketakutan lainnya. Ketakutan tersebut terasa sangat nyata ketika saya menginjakan kaki di GKI Ngagel, hingga membuat saya mengalami sakit selama seminggu karena kecemasan yang saya ciptakan sendiri. Sakit di tempat orang yang belum kita kenal dengan baik bahkan belum akrab sama sekali bukan sesuatu yang menyenangkan. Namun apa yang tidak pernah saya pikirkan dan yang tidak pernah timbul di dalam hati saya, itulah yang Tuhan sediakan. Saat itu ada beberapa pegawai kantor gereja yang membantu saya, memberikan obat, makanan bahkan mengantar saya ke dokter untuk diperiksa.

Begitu halnya dengan pertemanan saya. Selama tiga minggu menjalani masa praktek di GKI Ngagel, entah kenapa saya sulit sekali untuk membangun hubungan yang baik dengan pemuda. Alhasil selama tiga minggu pertama, hari-hari saya dipenuhi dengan tangisan karena saya merasa sendiri. Saya sangat berharap Tuhan mau menggerakan hati satu orang saja agar mau berteman dengan saya. Ketakutan saya berkurang satu. Bukan hanya satu orang yang dekat dengan saya tetapi banyak sekali orang dari setiap tingkatan usia dan bukan hanya dekat melainkan mengasihi saya layaknya anak, cucu, serta saudara.

Ketakutan tidak bisa berbuat apa-apa juga bisa dipatahkan. Saya dipercayakan dalam banyak hal, bahkan dalam pelayanan kedukaan mulai dari memimpin penutupan peti jenazah hingga pemakaman dipercayakan kepada saya.

Banyak hal luar biasa yang Tuhan sediakan bagi saya, ketika saya benar-benar berharap kepada-Nya. Bahkan tempat yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya pun disediakan bagi saya, Palangka Raya. Selama satu bulan saya diutus dari GKI Ngagel untuk menjalankan masa praktek disana. Sama halnya yang terjadi di Ngagel, itu juga yang terjadi di Palangka Raya. Tuhan selalu menyediakan.

Kedua tempat ini menyimpan cerita tersendiri di hati saya. Cerita tentang hidup dan pengharapan. Cerita tentang airmata dan kesakitan yang dipakai dan diubah Tuhan menjadi rasa syukur serta sukacita yang mendalam.  Saya tidak tahu GKI Ngagel … saya tidak tahu GKI BaPos Palangka Raya. Yang saya tahu Tuhan tidak akan membawa saya sejauh ini hanya untuk ditinggalkan. Kalaupun Ia pergi, Ia tetap mengawasi saya dan memastikan tempat tersebut aman dan baik buat saya.

Jangan pernah takut untuk memulai sesuatu yang baru dengan Tuhan. DIA, Bapa yang selalu menyediakan yang terbaik bagi anak-anakNya.

Wednesday, 29 April 2015

Tentang Rasa (1)

"...Biar ku simpan rasaku ini...walau entah sampai kapan nanti. Biar ku nikmati rasa ini...ku tak perlu engkau tahu bahwa aku suka padamu..."

Biar Ku Simpan Rasa Ini - Maudy Ayunda




"Kevin kalo besar nanti mau jadi apa?"

"Kevin mau jadi orang yang ahli dalam membuat mobil sama pesawat mama..."

"Emang Kevin mau ngapain kalo Kevin bisa bikin mobil sama pesawat?"

"Kevin pengen bawa mama, papa, tante Dini sama om Rudi jalan-jalan. Oh iya sama Jessy juga... biar Jessy gak nangis lagi mama"

"Loh Jessy itu siapa?" tanye tante Dini

"Jessy itu Jenny Bossy, tante Dini" 

"Kok Jenny Bossy? emang Jenny kenapa sama Kevin?" 

"Jenny kan  kalo ingin sesuatu harus di turutin tante, itu namanya bossy yah kan tante?jawaban itu membuat seluruh ruangan di penuhi suara tawa yang menggelegar, tiba-tiba disudut ruangan terdengar suara anak kecil yang sedang menangis

"Tante, itu Jessy. Sepertinya Jessy udah bangun tante, tuh kan tante... Jessy dikit-dikit nangis"

"Hahaha, Kevin ada-ada aja..." -- "Jenny, sini sayang... kamu kenapa nangis?"

"Kepin jahat mama, Kepin di sekolah suka manggil Jenny, Jessy"

"Kepin gak jahat kok Jessy, itu nama panggilan Kepin buat Jessy" Kevin kecil mendekati Jenny dan mengusap airmatanya

"Jessy gak boleh nangis yah, nanti kalo kita udah besar... Kepin bakalan bikin pesawat buat Jessie, trus nanti kita terbang deh" 

"Kepin janji?"

"Janji, Jessy"

"Nah, tuh kan Kevin udah janji... Jenny gak boleh nangis lagi yahh... sekarang mama mau tanya, Jenny kalo besar nanti mau jadi apa?"

"Jenny mau jadi istrinya Kepin aja mama... biar bisa naik pesawat, hehehe" jawaban polos itu disambut suara tawa yang tak kalah hebat dari sebelumnya.

"Emang Jessy gak mau jadi apa gitu?" tanya Kevin kecil

"Gak... Jenny cuma mau jadi istrinya Kepin aja kayak mama sama papa yang selalu sama-sama. Kepin gak mau yah deket-deket Jenny?"

"Jessy lucu yahh... Kepin mau kok" Ungkap Kevin kecil yang langsung disambut oleh senyuman dari Jenny.

***
Pagi ini hujan turun lagi... membuat tubuhku semakin menyatu dengan selimut, guling dan tempat tidurku.  Jam dinding menunjukkan pukul 05.00 dan itu artinya aku harus bangun, mandi dan bergegas ke sekolah. Namun, entah mengapa pagi ini aku begitu malas bergerak apalagi berangkat ke sekolah. Aku kembali menyelimuti tubuhku dan berterimakasih pada hujan yang sudah bersedia turun di pagi ini.

"Jenny... bangun nak, sudah setengah enam loh ini. Nanti kamu telat ke sekolahnya sayang" ungkap suara yang berasal dari balik pintu kamarku yang tak lain adalah mamaku sendiri.

"hmm..."

"Jenny, jenny... ayok bangun sayang! kamu mau sampai kapan tidurnya?" 

"Aduh mama... kali ini Jenny bolos aja yah mah. Kasihan kan hujannya udah turun trus gak Jenny nikmati. yah mama yahh..." Pintaku dengan suara memelas. kali ini mama tidak berdiri di balik pintu kamarku lagi. Mama sekarang ada di dalam kamarku dan sibuk membangunkanku yang sebenarnya sudah bangun daritadi. Aku teringat ternyata semalam aku lupa mengunci pintu kamarku. Alhasil inilah yang terjadi.

"Gak ada bolos-bolos. Kamu bangun dan langsung mandi sekarang juga...mama siapin sarapan dulu" kata mama sambil menarik selimutku dan membawaku ke kamar mandi.

"Iya mah... iya mah... Jenny mandi kok. Jenny ke sekolah..." jawabku dengan nada kesal. Dalam hatiku, aku meminta maaf pada hujan karena tidak bisa menikmatinya di pagi ini, lain waktu mungkin bisa. 


***

"Halo papa..." sapaku sambil mengecup pipi papa.

"Halo sayang, ayok cepetan makan.. setelah itu kita langsung berangkat aja soalnya papa ada rapat hari ini. Takutnya macet nanti di jalan" ungkap papa yang langsung di balas dengan satu anggukan dariku. Tiba-tiba dering hpku berbunyi, ada sms yang masuk.

From : Kevin
To      : Jenny
Udah siap belum, Ssy? gw jemput yah, hari ini kuliahnya jam 7 jadi bisa sekalian nganterin lo, Ssy.

From : Jenny
To      : Kevin
Ya owohh, tengkiyuu Pin. Lo emang sobat gw banget pin. Tapi kalo lo mau jemput gw, mending lo dateng skarang dalam waktu 5 menit soalnya gw males banget pergi sama papa pagi ini, ntar di ceramahin Pin. Cepetan datang yaaahh... aku padamu lah Pin ahahhaaha

From : Kevin
To      : Jenny
Siapp bos, Jessy !!!

Aku tersenyum membaca sms dari Kevin. Oh yah, aku dan kevin sudah bersahabat sejak kecil... Kevin memang dua tahun diatasku tapi itu tidak membatasi persahabatan kami, soalnya selain rumah kami hanya berjarak 15 meter, orangtua kami bersahabat sejak SMA sampai saat ini. Kami sempat berpisah selama 6 bulan karena Kevin pindah ke Surabaya waktu kelas 3 SMP tetapi kemudian karena papa dipindahkan ke Surabaya, jadi kami sekeluarga juga pindah ke Surabaya. Kevin selalu memanggilku Jessy singkatan dari Jenny Bossy. Dia memanggilku Jessy sejak aku kelas 3 SD karena sikapku yang suka memerintah dan apa yang aku inginkan harus terpenuhi. Awalnya kesal dipanggil seperti itu, tetapi lama kelamaan aku mulai terbiasa dengan nama aneh itu.

"Selamat pagi om, tante, ssy"

"Eh, Kevin. Selamat pagi, ayok duduk disini Vin. Tumben pagi-pagi udah kesini, nggak ada kuliah yah? tanya papa

"Ada om, kuliahnya jam 7 pagi jadi Kevin sempat-sempatin buat datang nganterin Jessy kesekolah. Biar Kevin ada temannya juga. Lagian kasihan kalo om harus nganterin Jessy setelah itu balik ke kantor jadinya lama. Nanti om kejebak macet. Kevin sama Jessy kan searah om " ungkap Kevin panjang lebar. Kevin memang paling bisa meyakinkan papa dengan kata-katanya dan tidak jadi masalah bagi orangtuaku kalau Kevin memanggilku dengan panggilan Jessy. 

"Aduh Vin, terimakasih banyak yah... tau gitu om berangkat daritadi daripada nungguin Jenny yang susah dibangunin. Ya sudah, om berangkat duluan yah, Kevin sama Jenny hati-hati di jalan yah, nak" Papa berjalan menuju ke arahku dan mengecup keningku kemudian bergegas berangkat ke kantor.

"Yee papa, tadi aja aku gak di omelin sekarang si kevin sok baik ini dateng, aku kena marah. Papa payahh" gerutuku dalam hati

"Udah-udah, ayok habisin makanannya sayang. Kasihan Kevin udah dateng kamu belum selesai-selesai makannya. Nanti Kevin telat masuk kampus loh" kata mama sambil menuangkan jus pepaya untuk Kevin

"hahaha, si kevin sih udah biasa mama. Telat juga gak papa kan, vin?" tanyaku sambil menyikut lengan Kevin yang duduk tepat disampingku.

"hehe, iya Ssy. Udah biasa telat waktu SMA sama kamu bukan waktu kuliah" ungkap Kevin sambil tersenyum puas padaku.

"Iya… Jenny itu memang suka telat dari dulu. Makanya waktu kamu masuk kuliah tante sama om pusing harus nungguin si putri bangun dulu" ucap mama sambil tertawa bahagia melihatku.

"yahh mama, kok Jenny lagi yang disalahin? makanannnya udah habis mah, Jenny berangkat yah mah..." Kataku sambil mengecup pipi mama kemudian menarik tangan Kevin. Sebenarnya itu caraku agar aku bisa terbebas dari tuduhan-tuduhan yang benar itu.

"Oke sayang, hati-hati yah... Kevin terimakasih yah nak" kata mama sambil melambai-lambaikan tangan melihat kepergianku dengan Kevin.

***
“Ssy, nanti kalo lo ketemu Vanessa… titip salam buat dia yah”

“Oh jadi lo bela-belain nganterin gw cuma mau titip salam buat Vanessa?”

“Gak bawel, sekalian nganterin lo biar lo gak di culik sama orang jahat”

“ah tau ahh”

“Udah deh, gw lagi gak pengen berantem pagi ini” Ungkap Kevin sambil mengacak-acak rambutku

“Apaan sih?” Aku menepis tangannya. Kevin yang sepertinya tau aku sedang marah,  memutuskan untuk diam hingga tiba di sekolahku. Saat aku hendak  turun dari mobil, tangan Kevin tiba-tiba menarikku kemudian mengecup keningku

“Ssy… maafin gw yah… kalo lo gak mau salamin juga gak papa.. gw tau kok lo gak suka sama Vanessa”

“Tau ahh… gw males sama lo..” aku pun segera turun dari mobil Kevin dan berlari kearah gerbang sekolah.


“Vin, sakit vin… gw gak bisa nganggap hubungan ini hanya sebatas sahabat atau kakak beradik saja vin… karena gw sayang sama lo melebihi itu” ungkapku dalam hati sambil menahan tangis.

Sunday, 26 April 2015

Nama Itu... SAMA !!!

 “…Cause when I'm with him, I am thinking of you. What you would do if you were the one…”
Thinking Of You – Katy Perry



Surabaya, 25 April 2015      

Kejadian itu membuatku tertawa sendiri di dalam kamar. Benar-benar memalukan!

“Karena kalian disini belum saling mengenal satu dengan yang lain, jadi ada baiknya kita kenalan dulu yah, gimana kak R…?”

“Bener kak D, mendingan kita kenalan dulu nih. Siapa tau ada yang nemuin jodohnya disini. hahaha. Oke, kita nyanyi lagu apa kabar kita bergembira yah. Nanti kalo aku bilang lima berarti kalian harus cari pasangan lima orang yang bukan berasal dari gereja yang sama dengan kalian. Oke”

“Oke, kak” jawab kami serempak tanda setuju

“Oke… kita nyanyi yah. Musiiiiikkkk”

“…Apa kabar kita bergembira, tepuk tangan kedipkan matamu….--- Putar putar putar putar cari yang lain…”

“LIMA !!!”

“…Putar putar putar putar cari yang lain…”

“SEPULUH !!!”


Aku pun sibuk mencari orang yang bukan berasal dari gereja yang sama denganku dan ternyata itu merupakan hal tersulit yang pernah kulakukan. Berada ditengah-tengah orang yang tidak aku kenal sama sekali. Entah mereka remaja atau pemuda, SMP, SMA, KULIAH atau KERJA pun tidak ku ketahui karena sebenarnya aku sudah sangat mengantuk saat itu. Aku sibuk dengan khayalanku tiba-tiba aku dan yang lain diminta untuk menyanyikan lagu tersebut sekali lagi.


“…Putar putar putar putar cari yang lain…”

“LIMA BELAS !!!”

“Buseeettt dah, banyak banget” gerutuku dalam hati, namun apa daya tangan tak sampai. Akupun kembali mencari orang-orang disekitarku dan dengan keahlianku menyelinap sana-sini didukung oleh tubuhku yang kecil membuatku bisa menerobos masuk dalam satu kelompok yang tidak aku kenal sama sekali.


“Oke yah, nah sekarang tetap dalam kelompok kalian. Dalam waktu 15 menit, kalian harus berkenalan dengan semua anggota kelompok kalian. Di mulai dari sekarang”

Sebenarnya aku jengkel dengan kakak yang bertugas sebagai MC saat itu. Acaranya tidak dikemas dengan baik, membosankan untuk orang sepertiku. Dan lagi, apa daya tangan tak sampai… kami hanya bisa diam dan ikuti aba-aba dari MC. Untungnya saat itu aku tidak perlu berjalan menyalami satu persatu orang yang ada disitu karena mereka ternyata lebih duluan menyalami kami dan juga berkenalan. Bolehlah, setidaknya tidak perlu terlalu mengeluarkan tenaga ekstra.

“Hai, aku G”

“A”

“H”

“A” begitu seterusnya jawabanku pada setiap orang baik laki maupun perempuan yang memperkenalkan diri mereka padaku.

“Hai, aku J”

Kaget aku mendengar nama itu. Nama yang hanya bukan sebatas nama saja tapi memiliki arti penting bagiku. Jiwaku kembali kedalam tubuhku ketika orang tersebut menyalamiku.

“Ohh.. ehh, iya… namamu siapa?”

“Namaku J, kamu?

“ehh… iya, aku A”

“Salam kenal”

“Iya”


Setelah perkenalan itu aku larut dalam khayalanku. Entah karena ngantuk atau karena aku benar-benar salah tingkah ketika mendengar nama itu lagi… nama yang hanya beberapa orang saja yang tau,  nama yang membuatku memikirkannya kembali…