Sunday, 27 July 2014

The Script - Long Gone And Moved On

That's Right !!!

                       


Long Gone and Moved On 

When's the day you start again
And when the hell does you'll get over it begin
I'm looking hard in the mirror
But I don't fit my skin
It's too much to take
It's too hard to break me
From the cell I'm in

Oh from this moment on
I'm changing the way I feel yeah
From this moment on
It's time to get a real

Cause I still don't know how to act
Don't know what to say
Still wear the scars like it was yesterday
But you're long gone and moved on
Cause you're long gone
But I still don't know where to start, still finding my way
Still talk about you like it was yesterday
But you're long gone and moved on
But you're long gone, you moved on

So how'd you pick the pieces up yeah
I'm barely used to saying me instead of us
The elephant in the room keeps scaring off the guests
It gets under my skin to see you with him
And its not me that you're with

Oh from this moment on
I'm changing the way I feel yeah
From this moment on
It's time to get a real

Cause I still don't know how to act
Don't know what to say
Still wear the scars like it was yesterday
But you're long gone and moved on
Cause you're long gone
But I still don't know where to start, still finding my way
Still talk about you like it was yesterday
But you're long gone and moved on
But you're long gone, you moved on

No I can't keep thinking that you're coming back
No
Cause I got no business knowing where you're at
No
And its gonna be hard yeah
Cause I have to wanna heal yeah
And its gonna be hard yeah
The way I feel that I have to get real

I still don't know how to act
Don't know what to say
Still wear the scars like it was yesterday
But you're long gone and moved on
But you're long gone
But I still don't know where to start, still finding my way
Still talk about you like it was yesterday
But you're long gone and moved on
But you're long gone, you moved on

But you're long gone, you moved on
eh eh, oh oh
eh eh, oh oh
But you're long gone, you moved on ...

Saturday, 26 July 2014

RAISA - Pemeran Utama (Official MV)

Pertama kali denger lagu ini, sumpah pas banget sama keadaan yang aku alami. "PEMERAN UTAMA", lagu ini dengan sendirinya menceritakan bahwa terkadang kita sadar bahwa "dia" adalah orang yang bener-bener kita sayangi setelah kita terpisah....





"Pemeran Utama"


Ya aku mengerti betapa sulit untuk kembali
Dan mempercayai penipu ini sekali lagi

Pemeran utama hati
Pemicu detak jantung ini
Baru kini kusadari
Setelah berlayar pergi
Itu kamu

Ya aku wanita
Yang seharusnya lebih perasa
Tapi malah aku mencabik
Lukai kau yang baik
Dan buat hatimu sakit
Meski malu untuk akui
Aku mau..
Kau kembali

Pemeran utama hati
Pemicu detak jantung ini
Baru kini ku sadari
Setelah berlayar pergi

Pemicu detak jantung ini
Baru kini ku sadari
Setelah berlayar pergi Itu kamu

Friday, 25 July 2014

Liturgi SoDa Gembira (Sabtu, 05 April 2014)

SoDa “Sore muDa” Gembira GKI Salatiga
Sabtu, 05 April 2014
“PEMILU”
PF : Pnt. PH. Dwiprasetyo
MC : Kak Benaya dan Vinka

A.     Persiapan
B.      Lagu Pembukaan

Tiba Saatnya
Tiba saatnya kami berkumpul bersatu
dari s'gnap suku dan bangsa
berdiri dihadapan tahta anak domba
satu suara..menyatakan

Reff :
Kes'lamatan bagi ALLAH
yang duduk dan bertahta
kami naikkan pada anak domba

pujian dan kekuatan
hormat dan kekuasaan
kemuliaan bagi DIA selamanya

C.      Doa Pembukaan
D.     Pengakuan Dosa :
Sobat muDa diberikan kesempatan untuk berdoa secara pribadi, kemudian ditutup oleh MC.



E.      Berita Anugerah
Kolose 1:13-14 : “Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang kekasih; di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa.”

F.       Pujian
Kutak Pandang dari Greja Mana
Ku Tak Pandang Dari Gereja Mana
Asal Kau Berdiri Atas FirmanNya
Kalau Hatimu Seperti Hati ku
Kaulah Saudara Dan Saudariku

Lebih Dari Pemenang
Lebih dari pemenang dalam s’gala perkara
Iblis t’lah dikalahkan oleh kuasa darah-Nya
Jika Allah di pihak kita siapa dapat melawan
Kita lebih dari pemenang

Reff:
Haleluya, kibarkanlah panji-Nya
Yesus Raja segala raja
Haleluya, bangkitlah gereja-Nya
Kita lebih, lebih dari pemenang



G.     Pelayanan Firman

Bagaikan Bejana
Bagaikan bejana siap dibentuk
Demikian hidupku di tangan-Mu
Dengan urapan kuasa Roh-Mu
Ku dibaharui selalu

Jadikan ku alat dalam rumah-Mu
Inilah hidupku di tangan-Mu
Bentuklah s’turut kehendak-Mu
Pakailah sesuai rencana-Mu

Reff:
Kumau s’perti-Mu Yesus
Di sempurnakan s’lalu
Dalam seg’nap jalanku
Memuliakan nama-Mu
H.     Doa Setelah Firman
I.        Pengakuan Iman Rasuli
J.        Persembahan
Nas Persembahan : 2 Korintus 9:7
“Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.”

PKJ-146, BAWA PERSEMBAHANMU
  1. Bawa persembahanmu dalam rumah Tuhan
    dengan rela hatimu, janganlah jemu.
    Bawa persembahanmu, bawa dengan suka.
Refrein:
Bawa persembahanmu, tanda sukacitamu.
Bawa persembahanmu, ucaplah syukur.
  1. Rahmat Tuhan padamu tidak tertandingi
    oleh apa saja pun dalam dunia.
    Kasih dan karunia sudah kau terima.
  2. Persembahkan dirimu untuk Tuhan pakai
    agar kerajaanNya makin nyatalah.
    Damai dan sejahtera diberikan Tuhan.
K.      Pengumuman
L.       Doa Syafaat
M.   Penutup

KJ 336:1-3 : Indonesia, Negaraku


  1. Indonesia, negaraku,
    Tuhan yang memb’rikannya;
    kuserahkan di doaku
    pada Yang Mahaesa.
  2. Bangsa, rakyat Indonesia,
    Tuhanlah pelindungnya;
    dalam duka serta suka
    Tuhan yang dipandangnya.
  3. Kemakmuran, kesuburan,
    Tuhan saja sumbernya;
    keadilan, keamanan,
    Tuhan menetapkannya.

Liturgi SoDa Gembira (Sabtu, 24 Mei 2014)

Liturgi SoDa “Sore muDa” Gembira
Sabtu, 24 Mei 2014
“WORKAHOLIC”
PF  : Pdt. Elfriend Sitompul
MC : Sdr. Sestu dan Sdri. Ribka

1.      Pembukaan
Satu Hal Yang Ku Rindu
Satu hal yang kurindu
Berdiam di dalam rumah-Mu
Satu hal yang kupinta
Menikmati bait-Mu Tuhan

Reff:
Lebih baik satu hari di pelataran-Mu
Daripada s’ribu hari di tempat lain
Memuji-Mu, menyembah-Mu
Kau Allah yang hidup
Dan menikmati s’mua kemurahan-Mu

2.      Doa Pembukaan
3.      Pujian
PKJ 014 – Kunyanyikan Kasih Setia Tuhan
Kunyanyikan kasih setia Tuhan
selamanya, selamanya.
Kunyanyikan kasih setia Tuhan
selamanya, kunyanyikan s’lamanya.

Reff :
Kututurkan tak jemu kasih setiaMu Tuhan;
kututurkan tak jemu kasih setiaMu
turun-temurun.

Kerja Buat Tuhan
Kerja buat Tuhan selalu manise
Biar pikul salib selalu manise

Reff :
Saya kerja buat Tuhan
Sungguh senang-senang e
Di panggil Tuhan selalu manise
Membawa diri ke ladang Tuhan saudara
Serta Tuhan selalu manise

4.      Pengakuan Dosa
(Sobat Muda diberikan kesempatan berdoa secara pribadi, setelah itu MC tutup dengan doa bersama.)

5.      Berita Anugerah
Sobat Muda yang terkasih, bagi kita yang dengan penuh ketulusan merendahkan hati di hadapan Tuhan kini dengarkanlah Firman-Nya dari 1 Yohanes 4:9-10
Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus Anak-Nya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup oleh-Nya. Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.

Amazing Grace
Amazing Grace, how sweet the sound,
That saved a wretch like me
I once was lost but now I’m found,
Was blind, but now, I see.

T'was Grace that taught
my heart to fear.
And Grace, my fears relieved.
How precious did that Grace appear
the hour I first believed.

Kasih Allah Tak Berkesudahan
Kasih Allah tak berkesudahan
S’lalu baru setiap hari
Rahmat-Nya pun tak pernah berakhir
Seumur hidupku

Reff:
Dengan sukacita kukan menari
Dengan sorak-sorai memuji
Kunyanyikan pujian haleluya
Nyanyi bagi Dia Sang Raja
Nyanyi bagi Dia Sang Raja, selamanya


6.      Pelayanan Firman
Firman-Mu Berkata
Firman-Mu berkata Kau besertaku
Maka kuat roh dan jiwaku
Tangan-Mu Tuhan s’lalu kunantikan
Di setiap langkah kupercaya

Reff :
Dengan sayap-Mu kuakan terbang tinggi
Di tengah badai hidup ku tak menyerah
Kau kekuatan dan perlindungan Bagiku
Pertolonganku di tempat Mahatinggi
Ku mengangkat tanganku aku berserah
Kau kunantikan, Kau yang kusembah
Yesusku Rajaku

7.      Pengakuan Iman Rasuli (Majelis Pendamping)
8.      Persembahan
Nas Persembahan
Mazmur 96 : 8 “Berilah kepada TUHAN kemuliaan nama-Nya, bawalah persembahan dan masuklah ke pelataran-Nya!”

KJ 302 : 1-3, Kub’ri Persembahan
1. Kub’ri persembahan 
    pada Tuhanku
    Sambil puji Yesus, 
    Jurus’lamatku.
  1. Dengan sukaria
    kub’ri padaMu
    dan merasa kaya
    dalam Tuhanku.
  2. Mari kawan-kawan,
    rela hatilah
    bawa persembahan;
    datanglah seg’ra.
9.      Pengumuman (Pengurus Komisi Muda J )

10.  Doa Syafaat

11.  Penutup
Tutur Kata
Bagaikan air sirami tanah gersang
Rasa sejuk menyegarkan
Bagai cahaya mentari hangat memelukku
Damai di jiwaku

Lembut, indah, tutur kata-Mu
T’rangi jalanku
Menghibur hatiku
Memb’ri pengharapan

Reff:
Untuk selamanya sampai selamanya
Perkataan-Mu bertumbuh di hatiku
Siang dan malam s’lalu kurenungkan
Janji-Mu yang indah kuberjalan di dalamnya

“Tuhan Memberkati”

Larangan Tahbis Perempuan Dalam Jabatan Keimamatan


     Sistem Patriarki adalah  sebuah sistem sosial yang  menempatkan laki-laki  sebagai  sosok  otoritas utama yang sentral dalam organisasi sosial. Ayah  memiliki  otoritas terhadap perempuan,  anak-anak dan  harta  benda.  Secara  tersirat  sistem  ini  melembagakan  pemerintahan  dan  hak  istimewa laki-laki  dan  menuntut  subordinasi  perempuan. Sistem  inilah  yang  menjadi budaya masyarakat turun-temurun  sehingga  dimata  masyarakat  perempuan  selalu dinomor duakan dalam segala hal. Budaya seperti  ini  bukan  saja  terjadi  dalam  keluarga,  tempat  kerja, dan  dalam  masyarakat  luas,  namun tanpa disadari, budaya tersebut telah masuk ke dalam gereja khususnya Gereja Katolik.
      Gereja Katolik dalam menilai perempuan, berangkat dari cerita Hawa yang dianggap sebagai ibu dari semua manusia. Tradisi umum memandang Hawa sebagai perempuan yang lebih rendah oleh Adam (karena dosa). Bersumber dari materi yang tertulis dalam kitab suci, dibuat ajaran dan peraturan untuk ibadah. Kekuasaan mulai ditentukan seperti dalam gereja Katolik yang berkuasa adalah laki-laki. Perempuan tidak boleh menjadi imam dan memimpin upacara atau ibadah. Pekerjaan perempuan cenderung melayani laki-laki.[1]
    Pergumulan untuk mewujudkan kesetaraan antara perempuan dan laki-laki dalam kehidupan Gereja Katolik tidak dapat dipisahkan dari pertanyaan tentang peran kaum perempuan dalam kehidupan gereja, khususnya dalam fungsi-fungsi kepemimpinan dalam gereja. Karena de facto fungsi-fungsi kepemimpinan dalam Gereja hampir semua dipegang oleh mereka yang menerima tahbisan (laki-laki)[2] Perempuan tidak memiliki kesempatan untuk menerima tahbisan.
     Larangan tahbisan imam bagi kaum perempuan bukanlah suatu hal yang baru dalam Gereja Katolik. Walaupun dewasa ini ada sekelompok orang Katolik yang mendukung tahbisan perempuan dalam memegang jabatan keimamatan, namun pihak Vatikan dengan jelas mengajarkan bahwa tahbisan imam hanya diberikan dan diperuntukkan kepada pria. Bahkan pada tahun 1994, Paus Yohanes Paulus II dalam Imbauan Apostolik, memberikan suatu larangan tegas untuk berdiskusi lebih lanjut tentang “kemungkinan tahbisan imam diberikan kepada kaum perempuan”.
    Paus Yohanes Paulus II dalam surat Apostoliknya, Ordinatio Sacerdotalis, dengan jelas menyatakan bahwa tahbisan imam hanya dapat diberikan kepada para pria. Di dalam surat itu misalnya Paus mengutip Paus Paulus VI, yang mengatakan alasan sesungguhnya, yaitu bahwa, “Kristus menentukan demikian.”[3] Pernyataan inti dalam Ordinatio Sacerdotalis (1994) yaitu dimulai dengan argumen tradisi bahwa “sejak dari permulaan didalam Gereja Katolik tahbisan imam hanya diberikan kepada laki-laki” (Contoh : Kristus memilih laki-laki untuk menjadi rasul); kedua, Menolak pendapat bahwa Yesus memilih laki-laki sebagai rasul hanya karena dimotivasi oleh alasan sosio-budaya pada zamannya (patriarki); ketiga, argumen mariologis, guna menolak tuduhan bahwa Gereja Katolik mendiskriminasi perempuan; keempat, suatu penegasan dari Paus bahwa keputusan magisterum Katolik tidak menerima tahbisan imam kepada perempuan, keputusan tersebut bersifat definitif dan tidak bisa diganggu gugat. Namun dengan adanya Imbauan Apostolik ini maka berbagai kritikan muncul dari berbagai pihak pula. Oleh sebab itu pada tahun 2008, kongregasi Ajaran Iman mengeluarkan satu dekret didalamnya ditegaskan bahwa para perempuan yang ditahbiskan dan semua yang bertanggungjawab turut serta dalam tahbisan itu secara otomatis diekskomunikasi.[4] Akibat yang ditanggung karena memperjuangkan tahbis imam bagi perempuan dapat kita lihat dalam kisah Roy Bourgeois. Roy Bourgeois adalah imam Katolik Roma yang diberhentikan dari jabatannya pada tanggal 4 Oktober 2012 karena keterlibatannya dalam memperjuangkan “tahbis imam bagi perempuan”. Menurut Bourgeois, perempuan juga dipanggil untuk menjadi imam merupakan hal yang sulit dan menyakitkan. Dia menyatakan bahwa laki-laki dan perempuan diciptakan setara, oleh sebab itu tidak boleh ada tingkatan antara laki-laki dan perempuan dalam jabatan keimamatan.[5]
   Anggapan terhadap gereja Katolik mengenai adanya ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam hal tahbis imam ditentang oleh gereja. Mereka mengatakan bahwa bukan berarti perempuan yang tidak menerima tahbis imam, dianggap tidak penting. Justru bagi mereka perempuan juga dianggap penting tetapi tidak berarti pula bahwa perempuan harus menerima tahbis imam. Contoh kongkrit yaitu Maria (ibu Yesus). Maria bukanlah seorang imam, tapi peranannya membuat ia memperoleh tempat istimewa dan mendapatkan penghormatan tertinggi.
        Berdasarkan fakta yang telah dipaparkan sebelumnya tentang “larangan tahbis imam pada kaum perempuan” dalam konteks Gereja Katolik, maka timbul pertanyaan “mengapa larangan tahbis imam pada kaum perempuan tergolong dalam masalah etika khususnya etika Kristen?” Sebelumnya kita tahu bahwa Perkembangan zaman dan perubahan pola pikir serta kebudayaan kini mengangkat dan penjadikan perempuan sebagai pusat perhatian. Makna kehadiran seorang perempuan yang memprihatinkan saat ini menunjukan kenyataan pahit yang secara tidak sadar membelenggu masyarakat. Isu tentang perempuan kemudian diangkat dalam masalah ketidaksetaraan dan gender. Kualitas perempuan seakan direndahkan oleh kodrat sebagai perempuan dengan keadaan terbelenggu secara biologis dan sosial. Secara biologis perempuan terikat dengan siklus reproduksi tetapi secara sosisl budaya patriarkis yang menempatkan perempuan dalam kedudukan dan peran yang tidak setara yang menimbulkan sikap marginalisasi, subordinasi, dan steriotip. Inilah kenyataan diskriminasi yang sungguh menyudutkan kaum perempuan. Ketidakadilan dan gender dilembagakan sehingga menjadi masalah yang terstruktur.
    Oleh sebab itu, dalam hal “larangan tahbis imam bagi perempuan” khususnya dalam gereja Katolik, permasalahan etika dari fakta diatas yaitu adanya suatu ketidakadilan dalam gereja. Ketidakadilan tersebut dilihat dari cara mereka memperlakukan perempuan dan laki-laki. Budaya patriarki yang seharusnya sudah tidak berlaku lagi untuk zaman sekarang ini, namun dalam gereja Katolik, budaya tersebut masih sangat nampak. Hal tersebut dikarenakan gereja masih terikat pada tradisi-tradisi kuno yang dimana perempuan dinomorduakan dari apapun termasuk didalam gereja, perempuan juga masuk dalam urutan nomor dua setelah laki-laki yang berada pada urutan pertama.
     Ketidakadilan yang terlihat dalam gereja yaitu dalam hal “tahbis imam”. Tidak diketahui motif lain dari gereja Katolik yang menolak dengan keras “tahbis imam bagi perempuan” selain karena ketaatan mereka terhadap tradisi-tradisi yang ada dalam kitab suci dan keterikatan pada hukum-hukum dan norma-norma yang berlaku, yang pasti dari cara mereka memperlakukan perempuan dengan menciptakan tingkatan-tingkatan dalam gereja maka kesetaraan antara laki-laki dan perempuan tidak ada artinya dimata mereka. Walaupun mereka mencoba membuat alasan-alasan tentang “mengapa hanya laki-laki saja yang bisa menjadi imam dalam gereja Katolik? dan mengapa perempuan tidak bisa ditahbiskan untuk menjadi imam dalam gereja Katolik?”, namun alasan-alasan tersebut tidak kuat untuk dijadikan pegangan dalam menangkal segala bentuk kritikan dari berbagai pihak, perihal “larangan tahbis imam”.
    Gereja Katolik sepertinya menggunakan jalan etika kewajiban dalam mengambil sebuah keputusan, yaitu dimana memang dalam etika kewajiban yang menjadi patokan adalah kehendak Allah namun kehendak Allah dinyatakan dalam aturan, norma dan hukum-hukum. Ketaatan pada aturan itu adalah keharusan. Dalam etika kewajiban yang menjadi penekanannya yaitu “bukan” apa tujuan yang harus dicapai melainkan apa tuntutan yang harus ditaati. Etika kewajiban memusatkan perhatian pada hukum-hukum sehingga kurang menanggapi kebutuhan dan penderitaan manusia. Sama halnya dengan gereja Katolik yang masih berdiam dalam keterikatannya dengan hukum-hukum, norma dan tradisi yang berlaku. Oleh sebab itu, kebutuhan dan penderitaan manusia khususnya kaum perempuan yang mengalami ketidakadilan dalam gereja karena adanya ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuanpun diabaikan karena mereka beranggapan bahwa mereka harus tetap memelihara tradisi-tradisi dan hukum-hukum yang berlaku. Seperti “tahbis imam perempuan” tidak bisa dilakukan karena dalam Alkitab Yesus memilih rasul-rasul yang adalah laki-laki, oleh sebab itu perempuan tidak bisa menerima tahbis imam seperti halnya laki-laki. Mereka dikelilingi oleh seperangkat aturan-aturan yang berlaku.
     Permasalahan etika mengenai “tahbis imam bagi perempuan” dalam gereja Katolik tentang ketidakadilan yang terjadi dalam gereja, tanggapan Kristen mengenai hal ini yaitu berdasarkan konsep Alkitabiah dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Yang pertama, dalam kejadian 1, manusia baik laki-laki maupun perempuan diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Baik laki-laki maupun perempuan semuanya ambil bagian dalam gambar dan rupa Allah. Ini berarti laki-laki ataupun perempuan sama dalam hal menjadi penerima janji-janji Allah dan juga dalam kewajibannya terhadap Allah. Bagi Allah, tidak ada yang merupakan warga kelas dua (kesetaraan). Kesetaraan laki-laki dan perempuan sebagai citra Allah juga merupakan suatu keyakinan dasariah dalam Perjanjian Baru. Dalam pewartaan dan tindakannya, Yesus membela martabat setara antara laki-laki dan perempuan. Ia mengikutsertakan laki-laki dan perempuan dalam karya-Nya yang menyelamatkan. Kedua, bahwa segala karunia yang telah Tuhan berikan kepada seseorang harus digunakan dan dikembangkan (Rom. 12:1-8). Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Allah telah memberikan kepada setiap anggota tubuh Kristus pemberian atau karunia khusus untuk digunakan memuliakan Dia dan untuk melayani satu sama lain (I Pet 4:10). Sebagai anggota tubuh Kristus kita punya karunia yang bermacam-macam (I Kor. 12:4-31) dan ada tugas khusus yang harus dilakukan setiap orang sesuai dengan karunianya (Ep. 4:4-16). Jadi tidak satupun dari karunia ini yang diberi label "hanya untuk laki-laki".
     Oleh karena laki-laki dan perempuan sama-sama diciptakan dan sama-sama juga diselamatkan oleh Yesus Kristus di kayu salib, maka keduanya memiliki peran yang sama pula dalam menyampaikan karya penyelamatan Yesus kepada orang lain. Oleh sebab itu tidak ada yang namanya ketidakadilan karena kedua-duanya setara. Agar setara dalam pelayanan keselamatan, maka sudah tidak menjadi suatu masalah lagi bagi kaum perempuan untuk diterima dalam jabatan imam yaitu jabatan sebagai pemimpin jemaat khususnya dalam gereja Katolik. Karena seperti kata rasul Paulus bahwa di dalam Kristus tidak ada ada laki-laki maupun perempuan karena semuanya satu didalam Kristus.[6] Ketiga, karena semua orang yang dibaptis atas nama Kristus “mengenakan Kristus” (Gal 3:27) dan “menjadi ciptaan baru dalam diri Kristus” (2 Kor 5:17), maka semua orang yang dibaptis memiliki kesanggupan untuk mempresentasikan Kristus, karena mereka berada didalam Kristus. Tindakan in persona Christi inilah secara tradisional dikemukakan sebagai alasan mengapa hanya laki-laku yang bisa menerima tahbisan imam (Kristus adalah laki-laki, oleh sebab itu hanya laki-laki saja yang bisa mempresentasikan Kristus). Namun, karena laki-laki dan perempuan memiliki martabat yang sama maka baik laki-laki dan perempuan dapat mempresentasikan “persona Kristus”. Berdasarkan tiga landasan dari tanggapan Kristen yang telah dipaparkan diatas mengenai ketidakadilan yang terjadi dalam hal tahbis pendeta yang hanya diperuntukkan untuk kaum laki-laki, sebenarnya harus diubah. Kekristenan tidak setuju jika yang diistimewakan hanyalah kaum laki-laki sedangkan perempuan di urutan kedua. Padahal didalam Tuhan semuanya setara.


[1] A. Nunuk P. Murniati. Getar Gender. (Magelang : IndonesiaTera, 2004). 9-10
[2] Sulistyowati Irianto. Perempuan dan Hukum. (Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2006). 199
[3] Stefanus Tay & Ingrid Tay. Dapatkah wanita menjadi imam? (http://katolisitas.org/5975/dapatkah-wanita-menjadi-imam). 1 Juli 2013
[4] Georg Kirchberger.Berbagi : Tahbisan Imam Bagi Kaum Perempuan?. (Maumere: APTAK , 2013). 67-68
[6] Georg Kirchberger.Berbagi : Tahbisan Imam Bagi Kaum Perempuan?. (Maumere: APTAK , 2013). 72

Allah Yang Menderita Di Tengah Pesta Natal Umat-Nya (Bacaan : Matius 2:13-15)

 Natal merupakan moment yang tidak akan pernah dilewatkan oleh setiap umat Kristiani. Hal ini dikarenakan natal hanya dirayakan satu kali dalam setahun dan natal merupakan hari dimana setiap umat Kristiani merayakan kelahiran Yesus Kristus. Setiap orang akan memaknai serta merayakan natal dengan cara yang berbeda. Bertolak dari Injil Matius 2:13-15, kita diajak untuk melihat makna natal yang tersembunyi dibalik kisah dalam bacaan kita ini.
Jika kita memperhatikan kisah kelahiran Yesus dengan baik, maka kita akan melihat bahwa kehidupan yang Yesus jalani adalah kehidupan yang penuh dengan penderitaan dan penolakan. Mengapa? karena sejak dalam kandunganpun Yesus sudah ditolak oleh orang terdekatnya yakni Yusuf, walaupun pada akhirnya Yusuf membatalkan apa yang sudah direncanakannya (Lih. Mat.1:19). Penolakan tersebut tidak hanya berhenti di Yusuf saja, melainkan terus berlanjut ketika Herodes mencoba menyingkirkan Yesus dengan segala cara, yaitu dengan jalan ingin membunuh-Nya. Upaya Yusuf dan Maria untuk menyelamatkan Yesus dari kekejaman Herodes  tidak pernah lepas dari campur tangan Tuhan, namun yang menjadi pertanyaan: mengapa Tuhan menyuruh Yusuf membawa Maria dan Yesus ke Mesir? Tidak adakah tempat lain selain di Mesir? Bagi orang Israel, Mesir (Ibrani : Mitsrayim), merupakan tempat yang kelam karena disanalah mereka dijajah dan tidak mendapat kebebasan. Oleh sebab itu, dalam sejarah bangsa Israel, Mesir juga dikenal sebagai negeri yang penuh dengan kejahatan. Lalu mengapa Tuhan menginginkan mereka menyingkir ke Mesir? Bukankah jika Yesus di Mesir akan banyak penderitaan juga, mengingat mereka adalah orang Yahudi? jawabannya adalah karena Tuhan ingin membentuk Yesus melalui penderitaan yang harus Ia lewati ketika Ia berada di Mesir karena di tempat asal-Nya sendiri, Ia telah ditolak. Oleh sebab itu, Yesus mampu membebaskan orang-orang yang mengalami penderitaan, karena Ia sendiri telah dahulu mengalaminya. Kisah kelahiran Yesus pada saat itu selalu identik dengan penderitaan karena ditolak dimana-mana.

            Sejenak kita merenungkan kembali tema kita dalam bacaan ini “Allah yang menderita di tengah pesta natal umat-Nya”. Timbul pertanyaan mengapa Allah menderita ? jawabannya karena sejak dalam kandungan hingga dewasa, Ia sudah mengalami penolakan oleh orang-orang disekitar-Nya. Penolakan tersebut bukan saja terjadi pada zaman Yesus lahir namun tanpa disadari penolakan tersebut juga terjadi pada saat ini, disaat setiap umat Kristiani merayakan akan kelahiran Yesus. Natal yang dirayakan oleh umat Kristiani saat ini sebenarnya bukanlah untuk merayakan kelahiran Yesus melainkan untuk menunjukan kemewahan yang ada. Umat Kristiani merayakan natal sebagai peringatan akan kelahiran Yesus tapi Yesus sendiri ditolak oleh umat-Nya, Ia tidak diundang didalam pesta kelahiran-Nya bahkan pesta kelahiran-Nya bukan untuk diri-Nya melainkan untuk memuaskan diri kita sendiri. Natal tidak dirayakan dalam rangka mengingat kisah kelahiran Yesus yang penuh dengan penderitaan dan kesederhanaan, namun natal dirayakan sebagai ajang untuk menunjukan kemewahan yang ada , karena bukan natal namanya jika anggaran yang dikeluarkan tidak mencapai puluhan juta sedangkan masih banyak orang-orang yang menderita dan membutuhkan uluran tangan dari kita diluar sana. Natal dirayakan bukan lagi untuk memperingati apa yang Yesus alami melainkan natal sekarang sudah disekulerkan. Mungkin umat Kristiani saat ini terlalu dimanjakan dengan kemewahan yang ada sehingga mereka lupa bagaimana cara untuk berbagi dengan orang-orang lain yang menderita. Oleh sebab itu, melalui Firman Tuhan yang datang kepada kita saat ini, kita diajak untuk memaknai kelahiran Yesus sebagai suatu bentuk ungkapan kasih Allah yang nyata dalam kehidupan kita agar melaluinya kita dapat belajar merasakan Yesus Kristus dalam kesederhanaan dan penderitaan supaya kita dapat membuka hati kita untuk lebih peduli kepada sesama kita yang hidup dalam kekurangan serta yang dilanda bencana. (ATS)

Perjumpaan dengan Tuhan

Bacaan           :
Kejadian 28:10-19
Mazmur 139:1-12, 23-24
Roma 8:12-25
Matius 13:24-30,36-43


Setiap manusia pernah mengalami yang namanya masalah dan pergumulan hidup karena hanya orang matilah yang tidak merasakan namanya masalah dan pergumulan hidup didunia ini. Dari berbagai macam persoalan dan pergumulan, ada persoalan hidup yang disebabkan karena kesalahan pribadi dan mungkin ada yang tidak kita ketahui penyebabnya. Persoalan hidup yang disebabkan oleh kesalahan pribadi dapat kita lihat dari kehidupan Yakub. Itu dapat kita lihat dalam Kejadian 28:10-19. Untuk memperoleh hak kesulungannya, Yakub menipu ayah dan kakaknya yang pada akhirnya ia terjebak masalah dan melarikan diri. Namun, kebenaran Firman Tuhan yang datang kepada kita pada saat ini tidak terfokus pada seberapa besar masalah yang dihadapi oleh Yakub, melainkan terfokus pada perjumpaan Yakub ketika ia berada ditengah pelarian. Kisah Yakub dalam hal ini terdiri dari dua jilid kehidupan Yakub. Jilid pertama yaitu kehidupan Yakub sebelum di Betel dan jilid kedua sesudah Yakub di Betel. Kehidupan Yakub sebelum ia melarikan diri dan bermalam di Betel merupakan kehidupan yang bisa dibilang buruk (merampas hak kesulungan yang walaupun itu memang hak dari Yakub tapi Yakub menggunakan cara yang salah yaitu menipu). Akan tetapi setelah Yakub bermalam dibetel ada perubahan yang terjadi pada Yakub. Apa yang menyebabkan sehingga Yakub berubah (sudah tentu berubah menjadi lebih baik) ? jawabannya karena Yakub mengalami perjumpaan dengan Tuhan ketika ia berada dalam pelariannya.
Saya bukanlah seorang peramal hebat yang bisa meramal kehidupan saudara. Saya tidak tahu apakah perjalanan kehidupan saudara sama dengan perjalanan Yakub atau tidak. Tapi saya yakin tanpa kita sadari, sebagai orang Kristen, kita seringkali sama persis dengan Yakub dalam jilid pertama kehidupannya. Kehidupan yang penuh dengan tipu muslihat, kehidupan yang selalu mengabaikan kehendak Tuhan. Kita tahu akan kebenaran Firman Tuhan namun cenderung mengabaikannya. Orang yang hidupnya seperti ini menurut rasul Paulus dalam Kitab Roma adalah orang yang masih hidup menurut DAGING. Hidup menurut daging yaitu seluruh kehidupan kita dikendalikan oleh sifat manusia, bukan dipimpin oleh Roh Tuhan. Karena kita dipimpin oleh DAGING, maka seringkali kita lebih mementingkan diri kita sendiri, iri hati, amarah, masih sering terjadi perseteruan dalam lingkungan keluarga, gereja bahkan masyarakat. Jangan dulu kita perhatikan diluar sana, lihat kehidupan kita dulu. Terkadang kita rajin sekali beribadah dan mendengar Firman Tuhan di kebaktian minggu, ibadah PA, ibadah pemuda/remaja namun kehidupan kita tidak ada berubah-berubahnya sama sekali. Ibadah dan persekutuan hanyalah formalitas (yang penting orang lihat saya pergi beribadah). Namun kehidupan sehari-hari khususnya dalam keluarga, hubungan suami-istri dan juga anak tidaklah baik, hubungan dengan sesama tidaklah baik, dalam pekerjaan tidaklah jujur. Hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan itulah yang sering kita jalani. Jika kita masih hidup dalam cara-cara lama kita, maka kita sama seperti perumpamaan Yesus mengenai lalang diantara gandum.
Lalang merupakan tanaman liar yang selalu tumbuh bersama dengan gandum. Tumbuhan ini dapat tumbuh subur melebihi tumbuhan gandum yang tumbuh bersamanya. Terkadang kehidupan kita juga sama dengan ini. Kita tumbuh bersama, mendengarkan kebenaran Firman Tuhan bersama namun hidup kita masih sama dengan yang lama. Kita tahu apa yang benar, apa yang sesuai dengan kebenaran Firman Allah namun kita tidak melakukannya malah mengabaikannya. Pada akhirnya sama seperti lalang, akan datang waktunya dimana setiap orang yang hidup menurut daging akan dicabut dan dicampakkan kedalam api.  Timbul pertanyaan dalam hati kita : lalu bagaimana solusinya agar kehidupan kita tidak sama dengan kehidupan Yakub dalam jilid pertama melainkan sama dengan jilid kedua?. Jawabannya adalah kita harus mengalami PERJUMPAAN DENGAN TUHAN. Sama seperti Yakub yang kehidupannya diubah setelah mengalami perjumpaan dengan Tuhan begitu juga dengan kehidupan kita. Suatu perjumpaan yang sejati mampu memberikan makna tersendiri bagi orang yang mengalaminya. Bayangkan jika kita bertemu dengan keluarga yang sudah lama terpisah jauh dengan kita, saat bertemu pasti ada kesan mendalam yang kita dapatkan. Begitu juga ketika kita benar-benar mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan Yesus, itu merupakan suatu peristiwa yang akan mengubah kehidupan kita secara luar biasa. Perjumpaan pribadi yang mampu mengubah kehidupan kita, ketika kita tidak menganggap doa dan persekutuan hanyalah formalitas belaka. Melainkan kesempatan untuk membuka hati kita. Perjumpaan pribadi dengan Tuhan juga bukan hanya ketika kita ada didalam gereja setiap minggunya namun dimanapun kita berada, ketika kita mampu membuka hati kita untuk sejenak merasakan kehadiran Tuhan dalam doa, persekutuan-persekutuan jemaat, dan lewat kebenaran Firman Tuhan, maka disitulah Tuhan ada karena pemazmur mengatakan bahwa Tuhan ada dan selalu memantau kita dimanapun kita berada. Ketika kita benar-benar telah mengalami perjumpaan dengan Tuhan, maka saat itu juga kita harus siap mengubah kehidupan lama kita dan memilih untuk hidup dalam tuntunan Roh Kudus. Sehingga kata rasul Paulus, kita yang hidup menurut roh dan dituntun oleh Roh memanggil Allah sebagai Bapa! (hal yang luar biasa).
Namun, ada hal penting yang kita perlu ingat bahwa hidup menurut Roh bukan serta merta kita akan bahagia dan merasakan hal-hal yang luar biasa. Jika dibandingkan dengan orang-orang yang hidup dalam kehidupan lama mereka dan yang selalu mengabaikan kehendak Tuhan, sepertinya mereka lebih diberkati. Sebaliknya, kita yang melakukan kehendak Tuhan masih hidup dalam kemiskinan, ketidakadilan, masalah datang silih beganti dalam kehidupan kita. Sepertinya lebih enak hidup seperti mereka daripada harus hidup seturut dengan kebenaran Firman Tuhan, benarkan? Saya juga seringkali mengalami hal seperti ini. Tapi ingat, lalang memang tumbuh lebih subur ketika tumbuh bersama gandum, namun lalang tidak memiliki masa depan karena pada akhirnya lalang akan dicabut. Begitu juga dengan kehidupan kita. Jangan pernah takut karena jika kita siap berubah dari kehidupan lama kita, maka masa depan itu ada. Seperti Yakub, Tuhan berjanji akan menyertai Yakub dimanapun ia pergi dan berada, Tuhan akan memberkatinya serta anak cucunya, maka janji itu juga yang akan kita pegang pada saat ini.
Sangat terlihat berbeda antara orang yang mendengar Firman Tuhan pada dan melakukannya dengan yang hanya asal mendengarnya saja. Mungkin dulu kita tidak sungguh-sungguh dalam melayani akan Tuhan namun saat ini ketika kita membuka hati dan siap dijumpai oleh Tuhan serta bersedia mengubah kehidupan kita untuk terus hidup dalam tuntunan Roh Kudus kita akan terus dikuatkan untuk bertumbuh dalam pelayanan kita dengan Tuhan. Pilihan itu ada ditangan kita pada saat ini, apakah kita mau hidup sama seperti Yakub sebelum mengalami perjumpaan dengan Tuhan ataukah Yakub sesudah mengalami perjumpaan dengan Tuhan? Renungkanlah dalam kehidupan kita masing-masing, Tuhan Yesus memberkati. AMIN









Kerispatih - Lihat Hatiku - Official Music Video - Nagaswara