Saturday, 29 August 2015

UTOPIA

Pernahkah kamu mengharapkan akan datangnya keajaiban dari Tuhan agar Ia menjawab semua doamu tentangnya?

Atau pernahkah kamu terlalu lelah untuk menunggu dan memilih untuk berhenti bahkan mengakhiri semuanya?

Aku pernah !
Ingatan tentang orang itu kembali berputar di kepalaku. Ya ! Ingatan yang telah ku kubur 6 tahun yang lalu, kini terbuka kembali ketika dia menyapaku.

'Fanya ???'

'Dillan ?!' Kataku dengan nada terkejut. Bagaimana tidak? Orang yang dulu pernah menjadi bagian dalam kehidupanku kini berdiri dengan gagahnya di hadapanku. Wajahnya, senyumnya, bahkan matanya... Oh Tuhan, cabut nyawaku saat ini juga. Dia Dillan dan dia masih sama seperti 6 tahun yang lalu. Sekeras apapun aku mencoba mengubur semua kisah, kenangan, harapan, bahkan perasaanku padanya 6 tahun yang lalu runtuh seketika saat ia kembali menyapaku. Hati kecilku  berteriak bahwa aku merindukannya.

'Ya ampun, aku gak nyangka kita bakalan ketemu. Kamu dimana aja selama ini? Gimana kabarmu, Anya?'

Deggg !!!
Anya? Dia masih mengingatnya? 6 tahun yang lalu, hanya dia satu-satunya orang yang memanggilku dengan nama itu. Nama yang bahkan tak ingin aku ingat lagi.

'Anya... Heiii'
Ku lihat dia menggerak-gerakkan tangannya di depan wajahku dan mengembalikan jiwaku yang pergi entah kemana karena keterkejutanku.

'Ehh... Dillan. Iya iya... Aku juga gak nyangka kita bakalan ketemu. Selama ini aku di Bandung, Di  dan seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Kamu?'
Aku balik bertanya untuk menutupi perasaanku yang sebenarnya bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.

'Aku juga baik, An. By the way, kamu ada keperluan apa disini?'

'Hmm... aku lagi nunggu temenku, kebetulan dia kerja disini. Kamu sendiri, ngapain disini?'

'Aku datang untuk fitting baju, An'

'Menikah ? dengan siapa?' pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku.

'Hahaha, belum Anya. Belum menikah, kami akan tunangan bulan depan. Orangnya sedang di toilet, An. Kamu gak tau sama sekali?' tanyanya dengan wajah terkejut. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku. Kaget? iya. Ku lihat raut wajahnya berubah menatapku. Tatapan kesedihan...

'Anya... terimakasih sudah hadir dalam kehidupanku 6 tahun yang lalu. Aku mohon jangan menghilang lagi, An'  katanya sambil menggenggam erat tanganku. Tanpa aba-aba, airmataku meluncur begitu saja. Ya Tuhan, kenapa harus seperti ini? Dia memelukku...

'Kenapa? kenapa, Di? kenapa harus kita? Aku benar-benar gak sanggup, Di.' tanyaku disela-sela tangisanku yang semakin menjadi-jadi. Dia? Dia hanya diam dan memelukku erat. Namun perlahan-lahan ku rasakan pelukannya mulai mengendur.

'Anya.. kenalin ini calon tunanganku dan Reina kenalin ini Anya sepupuku'
Dia mencoba mengenalkanku dengan orang yang nantinya akan bersanding dengannya. Oh Tuhan, situasi macam apa ini? Ku lihat tatapan kesedihan terpampang jelas di wajah Dillan, sepupuku. Ya! Sepupu yang tidak pernah ku ketahui sebelumnya hingga pertemuan 6 tahun yang lalu menghancurkan semua harapan dan perasaanku.

'Fanya...'
'Reina...Senang bertemu denganmu Fanya. Kamu satu-satunya sepupu yang selalu diceritakan kepadaku. Aku harap kamu akan datang dalam acara pertunangan kami nanti. Fanya.. Dillan, aku  masuk duluan yah, mau coba gaunku dulu hehehe' 

Aku hanya bisa mengangguk sambil tersenyum kecil. Ku rasakan Dillan menarikku ke dalam ruangan yang sepi dan kembali menarikku dalam pelukannya. Aku hanya bisa terdiam dengan airmata yang tak berhenti mengalir.

'Maaf... Maafin aku, kita harus bertemu di situasi seperti ini. Untuk saat ini dan untuk yang terakhir kalinya, aku mau melupakan siapa kita dan apa hubungan yang mengikat kita saat ini. Aku hanya ingin kamu tau, perasaanku tetap sama seperti 6 tahun yang lalu. Aku mencintaimu Fanya Prawesti.'

Aku hanya bisa terdiam dalam tangisanku, aku merasakan dia melepaskan pelukannya, mengecup pelan keningku dan berjalan menjauh... Aku jatuh tersungkur di lantai dan pecahlah tangisanku. Dia, senyumnya, matanya... bukan milikku lagi. Aku salah. Kupikir waktu 6 tahun cukup menguatkanku untuk bisa tegar berdiri dihadapannya. Saat ini juga, aku ingin kamu tahu bahwa aku masih menyimpan perasaan yang sama seperti 6 tahun yang lalu. Kenyataan menjatuhkan semua impianku dan menghancurkan perasaanku...

Itulah mengapa, lebih menenangkan  menunggu seseorang yang belum pasti bisa kau dapatkan daripada menunggu sesuatu yang sudah pasti tak akan menjadi milikmu...

Kamu adalah titik yang semakin menjauh ketika aku berusaha mendekat
Kamu adalah sesuatu yang hanya bisa aku pandangi namun tak bisa aku gapai
Kamu adalah Utopiaku
Dillan, Aku mencintaimu












Monday, 17 August 2015

Long Distance Relationship

"...akan selalu ada pengorbanan dalam setiap penantian"

Bagi pasangan yang tidak pernah merasakan Long Distance Relationship,  pertemuan adalah hal yang biasa saja. Namun bagi pasangan yang sedang menjalani Long Distance Relationship, pertemuan adalah waktu yang tepat dan berharga untuk mengungkapkan kesedihan, kekesalan, dan kebahagiaan.

Tidak banyak pasangan yang mampu menjalani hubungan seperti ini. Hubungan tanpa melihat satu dengan lainnya secara langsung, hubungan tanpa skinship. Oleh sebab itu banyak orang mengatakan pasangan yang hebat bukan hanya pasangan yang tiap hari bertemu tanpa ada bosannya, tetapi juga pasangan yang sedang menjalani LDR. Mengapa?
LDR itu susah karena membutuhkan komitmen serta kepercayaan yang teguh saat berjauhan karena akan ada banyak godaan melebihi pasangan yang menjalani CDR (Close Distance Relationship).

Itulah mengapa saya mengatakan bahwa akan ada pengorbanan dalam setiap penantian. Berkorban waktu, perasaan, dan kebahagiaan.

But it's okay...
Semua pengorbananmu akan terbayar ketika kamu bertemu dengan pasanganmu. Jarak akan membuktikan seberapa besar kesetiaanmu kepada pasanganmu...

You are My...

Semua berjalan dengan semestinya dan tak terbayangkan hingga saat ini !

Satu hari, dua hari, berganti menjadi satu bulan hingga bertahun-tahun. Banyak kisah yang dijalani bersama. Suka dan duka mewarnai perjalanan panjang ini.

Hei! ini kisahku, aku penulisnya. Tahukah kamu ? Jari-jariku ini menjadi saksi bisu, bagaimana aku berusaha melatihnya agar bisa menari indah untuk menulis kisah ini dengan coretan pena diatas lembaran-lembaran kertas yang kusebut diary ?

Terkadang ia bisa menari dengan indah tanpa mengenal lelah dan paksaan ketika kisah yang akan ditulis adalah kisah yang bahagia... namun, ia enggan menari ketika kisah tersebut adalah kisah yang menyedihkan. Walaupun demikian aku tetap berusaha melatihnya, agar dia tidak hanya menari dengan coretan pena dilembaran kertasku ketika kisah tersebut indah dan bahagia, namun ia juga harus tetap menari ketika kisah itu merupakan kisah yang menyedihkan, mengharukan hingga menguras air mata. Dengan begitu jari-jariku ini akan terbiasa dalam segala situasi yang harus diabadikan.

Berkat jari-jariku,  kini kisahmu, kisahku, kisah kita ada didalam diary-diary itu. Lembaran pertama  mengingatkanku bagaimana cara kita bertemu hingga perpisahan itu merenggut semua kebahagian kita. 

Kau sahabatku, tak ada yang bisa menggantikan kenyataan itu hingga saat ini. Jarak bumi ke bulan itulah penyebabnya. Aku tidak tahu dengan pasti apa yang membuat semuanya terjadi bahkan ketika aku mencoba menulisnya, jari-jariku, lembaran kertasku hingga coretan-coretan pena itu bertanya kepadaku, apa yang sebenarnya terjadi?. Aku hanya bisa diam dan terus memaksa mereka mengikuti keinginan hatiku untuk menuliskan sesuatu... ya ! sesuatu tentang dirimu...

Ini MISTERI yang belum dapat kupecahkan saat ini... Perjalanan ini sudah terlalu panjang. Namun, jika suatu saat kita harus bertemu lagi... mari kita menjadi sahabat dan mungkin bisa menjadi saudara...
Mari dijalani, sobat !

Malam yang gelap... sungguh sangat menyedihkan ketika bintang itu tak nampak dalam penglihatanmu ! Menunggu?  sampai kapan ? Ketika pagi kembali merenggut gelapnya malam yang ditandai dengan hadirnya sinar matahari...
Sepertinya sedikit terhibur, namun awan gelap mulai menutupi cahaya tersebut dan kemudian... hujan turun..... berharap dapat melihat pelangi, namun hujannya tak kunjung reda hingga malam tiba... kembali mengharapkan bintang itu nampak, tapi kenyataan berkata lain. Kini, terlihat seorang anak kecil yang juga sedang menunggu cahaya bintang yang tak kunjung datang !
Berbeda... anak itu kemudian mengalihkan pandangannya pada setiap tetes air hujan yang jatuh. Ia menikmatinya... dan kemudian melupakan apa yang ditunggunya sedari tadi... Kedatangan cahaya bintang itu menjadi misteri. Tapi jika cahaya bintang itu nampak kembali... mari kita saling bersapa dan melupakan kekesalan hati karena penantian yang cukup panjang :)