Pernahkah kamu mengharapkan akan datangnya keajaiban dari Tuhan agar Ia menjawab semua doamu tentangnya?
Atau pernahkah kamu terlalu lelah untuk menunggu dan memilih untuk berhenti bahkan mengakhiri semuanya?
Aku pernah !
Ingatan tentang orang itu kembali berputar di kepalaku. Ya ! Ingatan yang telah ku kubur 6 tahun yang lalu, kini terbuka kembali ketika dia menyapaku.
'Fanya ???'
'Dillan ?!' Kataku dengan nada terkejut. Bagaimana tidak? Orang yang dulu pernah menjadi bagian dalam kehidupanku kini berdiri dengan gagahnya di hadapanku. Wajahnya, senyumnya, bahkan matanya... Oh Tuhan, cabut nyawaku saat ini juga. Dia Dillan dan dia masih sama seperti 6 tahun yang lalu. Sekeras apapun aku mencoba mengubur semua kisah, kenangan, harapan, bahkan perasaanku padanya 6 tahun yang lalu runtuh seketika saat ia kembali menyapaku. Hati kecilku berteriak bahwa aku merindukannya.
'Ya ampun, aku gak nyangka kita bakalan ketemu. Kamu dimana aja selama ini? Gimana kabarmu, Anya?'
Deggg !!!
Anya? Dia masih mengingatnya? 6 tahun yang lalu, hanya dia satu-satunya orang yang memanggilku dengan nama itu. Nama yang bahkan tak ingin aku ingat lagi.
'Anya... Heiii'
Ku lihat dia menggerak-gerakkan tangannya di depan wajahku dan mengembalikan jiwaku yang pergi entah kemana karena keterkejutanku.
'Ehh... Dillan. Iya iya... Aku juga gak nyangka kita bakalan ketemu. Selama ini aku di Bandung, Di dan seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja. Kamu?'
Aku balik bertanya untuk menutupi perasaanku yang sebenarnya bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.
'Aku juga baik, An. By the way, kamu ada keperluan apa disini?'
'Hmm... aku lagi nunggu temenku, kebetulan dia kerja disini. Kamu sendiri, ngapain disini?'
'Aku datang untuk fitting baju, An'
'Menikah ? dengan siapa?' pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutku.
'Hahaha, belum Anya. Belum menikah, kami akan tunangan bulan depan. Orangnya sedang di toilet, An. Kamu gak tau sama sekali?' tanyanya dengan wajah terkejut. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku. Kaget? iya. Ku lihat raut wajahnya berubah menatapku. Tatapan kesedihan...
'Anya... terimakasih sudah hadir dalam kehidupanku 6 tahun yang lalu. Aku mohon jangan menghilang lagi, An' katanya sambil menggenggam erat tanganku. Tanpa aba-aba, airmataku meluncur begitu saja. Ya Tuhan, kenapa harus seperti ini? Dia memelukku...
'Kenapa? kenapa, Di? kenapa harus kita? Aku benar-benar gak sanggup, Di.' tanyaku disela-sela tangisanku yang semakin menjadi-jadi. Dia? Dia hanya diam dan memelukku erat. Namun perlahan-lahan ku rasakan pelukannya mulai mengendur.
'Anya.. kenalin ini calon tunanganku dan Reina kenalin ini Anya sepupuku'
Dia mencoba mengenalkanku dengan orang yang nantinya akan bersanding dengannya. Oh Tuhan, situasi macam apa ini? Ku lihat tatapan kesedihan terpampang jelas di wajah Dillan, sepupuku. Ya! Sepupu yang tidak pernah ku ketahui sebelumnya hingga pertemuan 6 tahun yang lalu menghancurkan semua harapan dan perasaanku.
'Fanya...'
'Reina...Senang bertemu denganmu Fanya. Kamu satu-satunya sepupu yang selalu diceritakan kepadaku. Aku harap kamu akan datang dalam acara pertunangan kami nanti. Fanya.. Dillan, aku masuk duluan yah, mau coba gaunku dulu hehehe'
Aku hanya bisa mengangguk sambil tersenyum kecil. Ku rasakan Dillan menarikku ke dalam ruangan yang sepi dan kembali menarikku dalam pelukannya. Aku hanya bisa terdiam dengan airmata yang tak berhenti mengalir.
'Maaf... Maafin aku, kita harus bertemu di situasi seperti ini. Untuk saat ini dan untuk yang terakhir kalinya, aku mau melupakan siapa kita dan apa hubungan yang mengikat kita saat ini. Aku hanya ingin kamu tau, perasaanku tetap sama seperti 6 tahun yang lalu. Aku mencintaimu Fanya Prawesti.'
Aku hanya bisa terdiam dalam tangisanku, aku merasakan dia melepaskan pelukannya, mengecup pelan keningku dan berjalan menjauh... Aku jatuh tersungkur di lantai dan pecahlah tangisanku. Dia, senyumnya, matanya... bukan milikku lagi. Aku salah. Kupikir waktu 6 tahun cukup menguatkanku untuk bisa tegar berdiri dihadapannya. Saat ini juga, aku ingin kamu tahu bahwa aku masih menyimpan perasaan yang sama seperti 6 tahun yang lalu. Kenyataan menjatuhkan semua impianku dan menghancurkan perasaanku...
Itulah mengapa, lebih menenangkan menunggu seseorang yang belum pasti bisa kau dapatkan daripada menunggu sesuatu yang sudah pasti tak akan menjadi milikmu...
Kamu adalah titik yang semakin menjauh ketika aku berusaha mendekat
Kamu adalah sesuatu yang hanya bisa aku pandangi namun tak bisa aku gapai
Kamu adalah Utopiaku
Dillan, Aku mencintaimu