Friday, 13 February 2015

Indomie : Kehangatan ditengah perbedaan


Perbedaan bukanlah tembok pemisah antar manusia. Kebanyakan orang menggunakan “perbedaan” sebagai alasan mendasar dalam membatasi bahkan memisahkan hubungan antar sesama. Hal ini juga yang saya alami ketika saya masih duduk dibangku SMA. Perbedaan itu memisahkan. Yang tadinya mencintai jadi membenci. Sepertinya “perbedaan” memang tidak menyenangkan. Akan ada banyak masalah didalamnya.

Namun pandangan tersebut sedikit demi sedikit mulai menghilang, ketika saya bertemu dengan orang-orang yang berasal dari latarbelakang yang berbeda-beda. Baik suku, agama, ras, antar golongan. Ya ! kampus yang selalu disebut sebagai “Indonesia Mini” merupakan tempat yang baik untuk membongkar pemikiran yang keliru mengenai perbedaan. Perbedaan tidak lagi dijadikan alasan bagi saya dan juga teman-teman untuk menjaga jarak, saling menyalahkan atau saling membenci. Karena semakin kami sadar bahwa kami berbeda, semakin kami yakin bahwa kami harus selalu berdampingan untuk saling melengkapi.

Sama seperti kata-kata dalam sebuah iklan “Indomie” :
"Perbedaan bukanlah mengenai siapa yang benar tapi untuk memperkaya warna dunia. Seperti air dan minyak. Sulit bersatu namun bisa berdampingan"

Mungkin sulit bagi kita untuk menyatukan setiap perbedaan yang ada. Namun kita dapat mengubahnya menjadi sesuatu hal yang menarik, yaitu dengan senyum, kata-kata dan pelukan yang hangat. Karena dengan adanya perbedaan maka dunia akan penuh dengan warna yang indah bukan hanya hitam putih. Bersatu bukan berarti harus menyatu. Bersatu berarti mampu menciptakan suasana kondusif ditengah perbedaan yang ada.



Thursday, 12 February 2015

Today

Today I remember you
Today I am thinking of you and I realized
There is something wrong on this day in my heart
I miss you


Hari ini merupakan hari yang spesial bagiku. Entah kenapa dua tahun belakangan ini, ketika hari ini datang aku sering menghabiskan waktuku untuk merenungkan baik-baik semua yang pernah terjadi dihari ini. Tidak ! tepatnya tanggal ini.

Tujuh tahun yang lalu, tanggal ini merupakan tanggal keramat bagiku. Aku memulai semuanya dari tanggal ini. Namun seiring berjalannya waktu... mungkin karena sudah terbiasa, aku mulai melupakan tanggal ini. Aku bersyukur karena selalu ada yang mengingatkanku akan tanggal ini. Yup! dia...

Dia tidak pernah lupa bahkan ketika aku lupa atau pura-pura lupa...
Dia tidak pernah bosan mengingatkanku akan tanggal keramat ini ketika aku masa bodoh dengan semuanya... bahkan...
Dia tidak pernah tidak berdoa ketika tanggal ini datang walaupun ketika dia memintaku untuk berdoa, aku selalu menolaknya. Pada akhirnya... dengan bahasanya yang sederhana dan hampir membuatku tertawa, dia berhasil menaikkan doa dan harapannya ditanggal ini.

Banyak hal bahagia, aneh, menggemaskan dan menyedihkan terjadi ditanggal ini.
Tapi itu tidak berlangsung lama...
dua tahun belakangan ini, aku merindukan saat-saat dimana dia mengingatkanku akan tanggal ini...
tanggal yang sering aku lupakan karena terlalu sibuk dengan segala organisasi dikampus dan di Gereja...
Pada akhirnya, semuanya sudah berlalu...
Dia berhasil melupakan tanggal ini, ketika aku berhasil mengingat dan menyimpan baik-baik dalam hati dan pikiranku...

Ahh, sudahlah!
Setidaknya aku pernah melewati lima kali tanggal yang sama setiap tahunnya bersama dia...

12 Februari, mari kita mencoba menyimpan semua kenangan ini... kita hanya terjebak diwaktu yang salah, tempat yang salah dan mungkin orang yang salah...

Mari menata semuanya dengan baik dan beranikan diri bahwa setiap pertemuan tidak akan terjadi tanpa sebab... mungkin kita bertemu bukan untuk dipersatukan, tetapi untuk belajar bagaimana membahagiakan orang yang akan bersama kita nanti...

Tuesday, 10 February 2015

Ketika Kasih Hanya Sebatas Mulut

Hidup memang tidak mudah ditebak, begitu juga perkataan dan perbuatan. Hari ini kita bisa bilang "iya" namun belum tentu besok kita akan mengatakan hal yang sama pula atau bahkan belum tentu kita akan melakukan apa yang kita katakan.

Selama satu bulan lebih saya berada ditengah-tengah jemaat tempat saya menjalani PPL 6, banyak hal baru yang saya pelajari disini.
Saya belajar untuk menghargai...
Saya belajar untuk menerima...
Saya belajar untuk berbagi...
Saya belajar untuk menjadi pribadi yang melayani...
dan pada akhirnya saya belajar untuk konsisten dengan apa yang saya katakan, walaupun belum sepenuhnya berhasil karena segala sesuatu butuh proses.

"Belajar menghidupi apa yang kau khotbahkan dan khotbahkan apa yang sudah kau hidupi"

Penggalan kalimat ini merupakan kalimat favorit dari salah satu dosen homiletika saya. Dosen saya berkali-kali mengingatkan bahwa khotbah bukan hanya sebatas mulut saja. Khotbah yang hanya sebatas mulut  adalah khotbah yang mati.
Kalimat ini bukan hanya sekali diucapkan oleh dosen saya, tetapi berkali-kali. Beliau sangat mengetahui dengan baik bahwa banyak orang bahkan pelayan-pelayan Tuhan menyimpang dari apa yang mereka katakan.
Awalnya saya menganggap bahwa kalimat ini biasa-biasa saja, hingga saya dipercayakan untuk ikut terlibat dalam kepanitiaan paska Gereja.
Dalam kepanitiaan tersebut, ibadah-ibadah seperti Rabu abu, Kamis putih, Jumat Agung, Sabtu sunyi, Minggu paska disusun sedemikian rupa agar ibadahnya khusyuk dan terlihat menarik. Saya menikmati suatu kerjasama tim yang baik dalam kepanitiaan ini. Namun yang membuat saya sangat tertarik dari kepanitiaan ini adalah aksi sosial yang akan direncanakan selama masa paska ini.

AMANUBAN !
Ya itu tempatnya. Memang ini masih direncanakan, entah jadi atau tidak saya kurang begitu paham karena semuanya belum diputuskan.
Gereja tempat saya PPL ini, tahun sebelumnya pernah mengadakan aksi sosial ditempat ini juga tapi dalam bidang pendidikan. Jadi tidak heran jika mereka cukup paham bagaimana situasi dan kondisi tempat tersebut.
Ketika kami berbincang-bincang saya sempat tercengang-cengang mendengar pemaparan dari rekan-rekan panitia mengenai tempat ini.
Masalah yang dihadapi oleh masyarakat setempat adalah mengenai air bersih dan juga pendidikan yang kurang memadai. Masyarakat setempat jika ingin mengambil air, harus berjalan kaki dengan jarak 8 kilometer. 
Kondisi masyarakat ditempat itu sangat memprihatinkan. Saya salut karena ada Gereja yang ikut terbeban dengan masalah yang dihadapi masyarakat ini dan ikut serta dalam aksi sosial tersebut walaupun itu sudah dilaksanakan tahun yang lalu. Ini membuktikan bahwa jemaat yang ada di Gereja ini bukan hanya mengumandangkan tentang kasih, bukan hanya mendengar tapi mau turun dan merasakan apa yang di dengar oleh mereka...
Tapi kira-kira ada berapa banyak Gereja yang jemaatnya turut merasakan beban yang dirasakan oleh orang lain?
Ada berapa banyak Gereja yang jemaatnya dibukakan matanya untuk melihat orang-orang yang membutuhkan uluran tangan diluar sana?
Mungkin mereka tahu tapi pengetahuan tidak cukup untuk merepresentasikan KASIH.
KASIH dikumandangkan berkali-kali di Gereja-gereja tapi KASIH seperti apa?
Apakah kasih yang dimaksud adalah kasih terhadap diri sendiri untuk memperkaya diri sendiri dan melupakan orang lain?

Itulah mengapa perbuatan itu harus selaras dengan perkataan. KASIH bukan hanya sebatas mulut saja...
Tetapi...
Kasih adalah mata. Mata yang mampu melihat penderitaan sesama...
Kasih adalah Telinga. Telinga yang mampu mendengar jerit tangis sesama...
Kasih adalah hati. Hati yang tergerak oleh belas kasihan...
Kasih adalah Kaki. Kaki yang mau berjalan ketempat-tempat orang yang menderita...
Kasih adalah Tangan. Tangan yang siap terbuka untuk memberi...

Wednesday, 4 February 2015

Teologi UKSW 2011 - I Can't Smile Without You

                           


Tidak semua persahabatan dimulai dari hal-hal yang sama... persahabatan juga bisa diawali dengan segala perbedaan. Baik suku, bahasa, budaya serta pendapat yang berbeda. Perbedaan ada bukan untuk memisahkan tapi justru bisa mempersatukan asalkan ada sikap saling pengertian satu dengan yang lain.
Terimakasih atas persahabatan yang indah ini...

Part of me 2 - Sebenarnya, Aku tidak sedang baik-baik saja

"Sebenarnya… Aku tidak sedang baik-baik saja." – Cayla Aurellia

“Caylaaaaa, sumpah kamu lama banget Cay. Udah dimana sih?”  
Sorry Jess, sekarang aku udah dijalan tapi macet… Mm, gimana ya?... Oh gini aja, tolong pesankan makananku ya, sumpah laper banget aku. Makanannya terserah kamu aja yang penting bisa dimakan. Hehehe, thanks yaaa”
“Ya udah deh. Hati-hati, Cay”

Setelah mengakhiri percakapannya dengan Jessie, Cayla tersenyum membayangkan wajah sahabatnya yang telah menunggunya selama 25 menit. Dalam perjalanan, Cayla memasang earphone disebelah telinganya sambil mendengarkan lagu-lagu kesukaannya. Ketika musiknya berhenti dan tergantikan oleh lagu selanjutnya, wajah Cayla dari ceria berubah menjadi sedih. Entah kenapa lagu ini membuat Cayla kemudian menangis.

Coba ku dengarkan  alunan cinta
Yang kau nyanyikan
 Teringat kembali saat melepaskan
Kisah mu dari cerita yang kutuliskan

 Baru ku sadari… Tak akan lagi ingkari
 Hanyalah dirimu yang mampu membuat    
Hatiku mengerti akan arti sepi
(Maafkan Aku – Cross bottom)

Cayla memang selalu seperti ini. Cayla Aurellia, begitu nama lengkapnya. Gadis bertubuh mungil ini memang selalu menarik perhatian banyak orang dengan rambut hitam yang panjangnya sampai di pundak, serta mata yang berwarna hitam pekat membuatnya terlihat sangat menarik. Gadis ini memiliki kenangan yang tidak ingin diketahui oleh orang lain. Ya… kenangan dimasa lalu, kenangan yang masih terus menghantuinya hingga saat ini.  Kenangan yang membuatnya harus pindah dari kota asalnya.

Cayla yang sedari tadi melamun, dikejutkan dengan satu tepukan dari Jessie yang kemudian membuatnya tersadar dari lamunannya.
“Ya ampun, Cay… udah deh ngelamunnya. Kasihan tuh makanannya dari tadi teriak minta dimakan” Kata Jessie sambil menggeser makanan kearah Cayla.
“Oh iya.. iya.. thanks ya Jess” balas Cayla sambil menyantap makanannya dan kemudian termenung lagi.
“Kamu kenapa sih, Cay? Tadi ketemu hantu dijalan ya, makanya sekarang kamu kayak gini? Makanannya tuh dihabisin”.
Cayla tetap diam. Bingung melihat tingkah sahabatnya yang mulai aneh, Jessie kemudian bertanya…
“Tadi kamu ketemu siapa?”
Cayla terkejut mendengar pertanyaan Jessie. “Apa?” tanya Cayla
“hmm… tadi kamu ketemu siapa dijalan sampai-sampai kamu jadi berubah pendiam kayak gini?” Jessie mengulang pertanyaannya dengan sabar.
“Ketemu siapa? Nggak ketemu siapa-siapa kok.” Jawab Cayla
“Yakin?” tanya Jessie lagi.
“Yakin. Ya ampun, Jess. Kamu udah kayak detektif aja, nanya-nanya kayak gitu”. Jawab Cayla sambil tersenyum meyakinkan Jessie yang penasaran melihat sikapnya yang tiba-tiba berubah.
“Ohh.. ya udah deh.” Balas Jessie singkat namun tetap yakin bahwa ada yang disembunyikan oleh Cayla. Dalam hatinya bertanya-tanya karena sikap dan wajah Cayla tidak akan pernah berubah secara drastis kalau tidak ada sebabnya. Apakah ini mengenai keluarganya? Atau Given?. Ah.. tidak mungkin Given. Setelah kejadian itu, Cayla memang selalu murung tapi itu hanya berlangsung empat bulan. Lagian Given juga sudah tidak ada kabarnya lagi dan Cayla… Cayla kan sudah punya Gian.  Mungkin ini hanya prasangka burukku. Cayla mungkin sedang pusing dengan pekerjaannya di kantor.
“kamu kenapa Jess? Kok bengong sendiri?” tanya Cayla
“hehehe, nggak kok. Tenang aja”. Jawab Jessie yang tersadar dari lamunannya dan pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal dihatinya.

Kenapa hari ini suasana hatinya memburuk? Kenapa harus Given yang ada dipikirannya ketika mendengarkan lagu tadi? Sampai kapan ia harus seperti ini. Lagi-lagi ia menghembuskan nafas panjang dan membantingkan dirinya di tempat tidur sambil memikirkan kejadian di mobil tadi siang. Entah kenapa ia ingin sekali menghubungi Given dan menanyakan kabarnya setelah tiga tahun tidak berkomunikasi. Tapi itu akan membuat luka tiga tahun yang lalu terbuka lagi, Cayla pun mengurungkan niatnya menghubungi Given. Lagipula ia juga tidak yakin apakah Given masih menggunakan nomor lamanya. Lama Cayla menatap handphone ditangannya, tiba-tiba handphonenya berbunyi. Ketika melihat nama yang tertera dilayar handphone, tanpa menunggu lama, Cayla langsung menerimanya.

“Aurell, kamu udah di rumah?”
“Udah Gian. Kenapa?”
“Nggak. Aku pikir kamu masih dikantor, biar sekalian aku jemput”
“Ohh.. udah kok, aku udah dirumah. Tadi aku bawa mobilnya papa soalnya. Kamu udah makan?”
“Belum sayang, aku ke rumah sekarang ya… kita makan bareng”
“Tapi aku udah makan tadi sama Jessie”
“Oh yah, nggak papa. Aku kesana ya, biar ada yang nemenin makan. Hehehe”
“Oke deh. Aku tunggu ya. Kamu hati-hati ya.”
“Siaappp bos. I Love you”
“I Love you, too”

Satu-satunya orang yang memanggil Cayla dengan nama tengahnya hanya Gian, calon tunangannya. Sejak pertama kali pacaran hingga hampir memasuki masa pertunangan mereka, Gian Stanley tidak pernah memanggil Cayla dengan “Cayla” tetapi “Aurell”. Menurut Gian, Cayla sudah umum dipanggil oleh banyak orang, oleh sebab itu Gian ingin memanggilnya dengan panggilannya sendiri dan Cayla setuju. Setidaknya kedua orangtuanya tidak sia-sia memberikan nama tengah untuknya karena ada Gian yang memanggilnya dengan nama tersebut dan itu membuatnya bahagia. Selang 15 menit kemudian, bunyi bel terdengar. Cayla bergegas menuju pintu rumahnya.

“Hai sayang…” sapa Gian sambil mengecup kening Cayla.
“Hmm… kamu bawa makanan apa aja, Gian? Ya ampun, banyak banget makanannya. Kalo nggak habis gimana? Kamu kebiasaan deh.” Ungkap Cayla spontan ketika melihat banyaknya kantong makanan yang dibawa Gian.
“Udah nggak papa. Nanti juga aku habisin kok, yang penting kamu nemenin aku makan ya, sayang?” bujuk Gian menenangkan.
“Iya-iya. Masuk dulu deh, kamu kayak penagih hutang aja depan pintu” balas Cayla terkekeh melihat Gian masih berdiri didepan pintu rumahnya.
“Oke bos” jawab Gian singkat, sembari melepaskan sepatunya dan memakai sandal rumah yang sudah disiapkan Cayla sebelumnya, kemudian menyusul Cayla di ruang makan.
“papa mama ?” tanya Gian heran melihat rumah Cayla sepi.
“Tadi waktu aku pulang, mereka ke rumahnya tante Dessy” jawab Cayla sambil membuka beberapa kantong makanan yang dibawa Gian dan menuangkannya dipiring dan mangkuk yang sudah disiapkannya, kemudian mempersilahkan Gian untuk makan.
“Terimakasih Aurell, sayang. Kamu memang calon tunangan yang baik dan perhatian” Ungkap Gian sambil tertawa.
“Hahaha… ada aja kata manisnya kalo ada maunya” balas Cayla sembari mengacak-acak rambut Gian karena telah menggodanya.
“Kamu disini sebentar ya, aku mau ngambil handphone sebentar dikamar” kata Cayla sambil melemparkan senyum pada Gian.
“Siap bos” balas Gian singkat.

Dikamar, Cayla duduk termenung menatap handphonenya. Ia berharap dengan datangnya Gian dirumahnya mampu mengalihkan pikirannya dari Given yang sedari tadi dipikirkannya. Lama Cayla termenung menatap handphone ditangannya, tanpa ia sadari Gian sudah berdiri didepan pintu menatapnya penuh tanya. “hmm… kamu kenapa? tanya Gian membuat Cayla tersadar bahwa sudah sangat lama ia meninggalkan Gian menunggunya diruang makan.
“kamu kenapa, rell ?” tanya Gian lagi seakan menunggu jawaban dari tunangannya yang tampak bingung melihatnya sudah berjalan kearahnya. “nggak papa, Gian. Tadi aku nunggu telpon dari Jessie” jawab Cayla singkat mencoba menutupi semuanya dari Gian.
“ohh… lagi tunggu telpon ya? Oh yah, sepertinya aku harus balik ke kantor lagi soalnya ada yang ketinggalan, lagian aku sudah selesai makannya” ungkap Gian.
“maafin aku ya, Gian” ungkap Cayla dengan penuh penyesalan.
“rell, kamu coba dong jangan manggil aku Gian terus-terusan” pinta Gian dengan nada memelas.
“Aku juga sedang mencoba G” balas Cayla
“tapi sampai kapan?” nada suara Gian mulai berubah. Menaham rasa kecewanya, Gian kemudian mengecup kening Cayla yang terdiam mendengar ucapan Gian kemudian bergegas meninggalkannya.

Cayla menatap punggung Gian yang perlahan-lahan menghilang dari pandangannya. Tersadar bahwa selama berpacaran hingga bertunangan, belum pernah Cayla memanggil tunangannya itu dengan panggilan layaknya sepasang kekasih. Cayla selalu memanggilnya “Gian” atau “G”. Entah kenapa kata “sayang” susah untuk diucapkan. Kembali Cayla menatap handphone miliknya dan kemudian menghubungi seseorang.
“Halo… maaf saya sibuk. Bisa anda hubungi saya nanti?”
Ketika mendengar suara tersebut, Cayla terkejut hingga tidak berani mengeluarkan suara sedikitpun.
“Halo… Haloo….” Cayla tetap terdiam hingga orang yang suaranya ia dengar tadi dengan sendirinya menutup telponnya. Wajahnya berubah pucat sementara jantungnya berdetak sangat cepat. Masih tidak percaya apa yang didengarnya tadi, tiba-tiba ia dikejutkan dengan pesan masuk.

Cay, aku didepan pintu rumahmu” – Jessie

“Tumben datang…” heran melihat temannya yang jarang datang kerumahnya.
“sebenarnya nggak dateng tapi karena Gian minta tolong supaya nemenin kamu.. jadinya aku langsung kesini” ungkap Jessie yang langsung membaringkan dirinya di sofa depan TV.
“ohh..” balas Cayla singkat kemudian terdiam disamping Jessie.
“kamu kenapa sih Cay, dari tadi siang loh… tadi juga nada suaranya si Gian kok kayak sedih gitu. Kalian berantem ya? Tanya Jessie yang bingung melihat tingkah sahabatnya.
“nggak. Tadi Gian kesini tapi setelah itu itu langsung balik lagi” jawab Cayla.
“mending cerita deh Cay, pasti ada yang kamu sembunyikan deh. Aku tuh kenal kamu Cay, pasti lagi mikirik sesuatu kan?” tanya Jessie
“nggak kok” balas Cayla
“kamu mikirin Given, bukan?” tanya Jessie meyakinkan.
Plaaaakkkk…. Pertanyaan Jessie seperti tamparan yang keras di wajah Cayla yang menyadarkannya bahwa benar yang ada dipikirannya sedari tadi adalah Given, mantan kekasihnya. Seketika itu juga Cayla terlihat sangat pucat tapi mencoba menenangkan dirinya agar tidak terlihat oleh Jessie.
“hussshhh…. Sembarangan kamu, Jess. Siapa yang mikirin Given. Kita tuh udah lama break dan aku udah mutusin buat jalani semuanya dengan Gian, jadi nggak mungkin aku masih mikirin Given. Lagian ini sudah tiga tahun aku break dengan Given” jawab Cayla lancar.
“ohh… aku pikir…”
“nggak kok, tenang aja, Jess. Aku baik-baik saja, mungkin cuma kelelahan” potong Cayla meyakinkan.
“Baguslah kalau kamu baik-baik saja, setidaknya aku nggak terlalu khawatir. Biar lapor ke Giannya juga aman” jawab Jessie sambil tertawa.

Cayla tersenyum menatap sahabatnya yang tertawa melihatnya, membuat perasaannya merasa lebih baik. Setidaknya ia masih bisa menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi. Namun ingatannya kembali pada orang yang ia hubungi tadi.

“Apa itu Given ? tapi benar itu suaranya… kenapa dia masih pakai nomor itu? Bagaimana kabarnya ya? Arrgghhh… kenapa perasaanku berubah seperti ini? Tidak ! sebenarnya aku tidak sedang baik-baik saja, ada apa dengan diriku?”

Tuesday, 3 February 2015

I Want To Move On, February !

Beberapa hari yang lalu saya pergi ke toko buku dan membeli sebuah novel yang berjudul "PINDAH". Novel ini sudah sangat saya idam-idamkan sejak bulan Agustus 2014 yang lalu, namun tidak sempat saya beli karena memang pada saat itu saya tidak berjodoh untuk memiliki novel ini. Saya sangat tertarik dengan novel ini karena sampul bukunya yang cantik, sederhana namun tetap terlihat elegant. Selain itu, daya tarik novel ini terletak pada review yang ada sampul belakangnya, yang tertulis : 

"Waktu adalah hal yang bisa menyapu dan mengantar segalanya. Baik kenangan, maupun perasaan. Baik hal-hal buruk, maupun hal-hal baik. Baik awal maupun kesudahan. Hanya saja, tak banyak manusia yang mau merelakan sedikit detik lebih lama untuk berproses, untuk berani melangkahi sesuatu yang teramat dicintai. Untuk berpindah dari satu pijakan ke pijakan lain yang terasa begitu asing—tapi sesungguhnya adalah rumah yang seharusnya. Karena dalam hidup ini, manusia selalu butuh berpindah. Pindah dari hal-hal yang salah, pindah dari perasaan-perasaan yang keliru. Namun, untuk melakukannya diperlukan keteguhan, dan manusia terlalu tidak sabar menjalaninya; terlalu tidak berani memilihnya"

Kata-kata ini ada benarnya juga. Sebenarnya setiap kita memilih untuk pindah dari hal-hal yang salah dan perasaan yang keliru serta kenyataan yang pahit itu ada baiknya. Mungkin awalnya terasa berat namun pasti bisa berjalan dengan baik seiring berjalannya waktu. Namun, tak banyak yang memilih jalan ini. Kebanyakan orang lebih memilih diam yang menyakitkan daripada pindah ke suatu hal yang membahagiakan. Mengapa? ya.. karena pindah dari sesuatu yang sudah kita jalani bertahun-tahun itu tidak semudah membalikan telapak tangan. Itu juga yang ada dalam  novel ini dan yang mungkin dialami banyak orang.

Banyak kenangan yang tersimpan didalam kardus yang kita bawa... Kardus Februari! Februari adalah bulan yang penuh kenangan... bulan yang tidak bisa tergantikan...
Namun ada baiknya pindah daripada diam !
Waktu akan menyapu segalanya... dan kuharap, waktu dapat menghapus semua perasaan dan kenyataan pahit yang selama ini kupendam...