Hidup memang tidak mudah ditebak, begitu juga perkataan dan perbuatan. Hari ini kita bisa bilang "iya" namun belum tentu besok kita akan mengatakan hal yang sama pula atau bahkan belum tentu kita akan melakukan apa yang kita katakan.
Selama satu bulan lebih saya berada ditengah-tengah jemaat tempat saya menjalani PPL 6, banyak hal baru yang saya pelajari disini.
Saya belajar untuk menghargai...
Saya belajar untuk menerima...
Saya belajar untuk berbagi...
Saya belajar untuk menjadi pribadi yang melayani...
dan pada akhirnya saya belajar untuk konsisten dengan apa yang saya katakan, walaupun belum sepenuhnya berhasil karena segala sesuatu butuh proses.
"Belajar menghidupi apa yang kau khotbahkan dan khotbahkan apa yang sudah kau hidupi"
Penggalan kalimat ini merupakan kalimat favorit dari salah satu dosen homiletika saya. Dosen saya berkali-kali mengingatkan bahwa khotbah bukan hanya sebatas mulut saja. Khotbah yang hanya sebatas mulut adalah khotbah yang mati.
Kalimat ini bukan hanya sekali diucapkan oleh dosen saya, tetapi berkali-kali. Beliau sangat mengetahui dengan baik bahwa banyak orang bahkan pelayan-pelayan Tuhan menyimpang dari apa yang mereka katakan.
Awalnya saya menganggap bahwa kalimat ini biasa-biasa saja, hingga saya dipercayakan untuk ikut terlibat dalam kepanitiaan paska Gereja.
Dalam kepanitiaan tersebut, ibadah-ibadah seperti Rabu abu, Kamis putih, Jumat Agung, Sabtu sunyi, Minggu paska disusun sedemikian rupa agar ibadahnya khusyuk dan terlihat menarik. Saya menikmati suatu kerjasama tim yang baik dalam kepanitiaan ini. Namun yang membuat saya sangat tertarik dari kepanitiaan ini adalah aksi sosial yang akan direncanakan selama masa paska ini.
AMANUBAN !
Ya itu tempatnya. Memang ini masih direncanakan, entah jadi atau tidak saya kurang begitu paham karena semuanya belum diputuskan.
Gereja tempat saya PPL ini, tahun sebelumnya pernah mengadakan aksi sosial ditempat ini juga tapi dalam bidang pendidikan. Jadi tidak heran jika mereka cukup paham bagaimana situasi dan kondisi tempat tersebut.
Ketika kami berbincang-bincang saya sempat tercengang-cengang mendengar pemaparan dari rekan-rekan panitia mengenai tempat ini.
Masalah yang dihadapi oleh masyarakat setempat adalah mengenai air bersih dan juga pendidikan yang kurang memadai. Masyarakat setempat jika ingin mengambil air, harus berjalan kaki dengan jarak 8 kilometer.
Kondisi masyarakat ditempat itu sangat memprihatinkan. Saya salut karena ada Gereja yang ikut terbeban dengan masalah yang dihadapi masyarakat ini dan ikut serta dalam aksi sosial tersebut walaupun itu sudah dilaksanakan tahun yang lalu. Ini membuktikan bahwa jemaat yang ada di Gereja ini bukan hanya mengumandangkan tentang kasih, bukan hanya mendengar tapi mau turun dan merasakan apa yang di dengar oleh mereka...
Tapi kira-kira ada berapa banyak Gereja yang jemaatnya turut merasakan beban yang dirasakan oleh orang lain?
Ada berapa banyak Gereja yang jemaatnya dibukakan matanya untuk melihat orang-orang yang membutuhkan uluran tangan diluar sana?
Mungkin mereka tahu tapi pengetahuan tidak cukup untuk merepresentasikan KASIH.
KASIH dikumandangkan berkali-kali di Gereja-gereja tapi KASIH seperti apa?
Apakah kasih yang dimaksud adalah kasih terhadap diri sendiri untuk memperkaya diri sendiri dan melupakan orang lain?
Itulah mengapa perbuatan itu harus selaras dengan perkataan. KASIH bukan hanya sebatas mulut saja...
Tetapi...
Kasih adalah mata. Mata yang mampu melihat penderitaan sesama...
Kasih adalah Telinga. Telinga yang mampu mendengar jerit tangis sesama...
Kasih adalah hati. Hati yang tergerak oleh belas kasihan...
Kasih adalah Kaki. Kaki yang mau berjalan ketempat-tempat orang yang menderita...
Kasih adalah Tangan. Tangan yang siap terbuka untuk memberi...

No comments:
Post a Comment