Wednesday, 4 February 2015

Part of me 2 - Sebenarnya, Aku tidak sedang baik-baik saja

"Sebenarnya… Aku tidak sedang baik-baik saja." – Cayla Aurellia

“Caylaaaaa, sumpah kamu lama banget Cay. Udah dimana sih?”  
Sorry Jess, sekarang aku udah dijalan tapi macet… Mm, gimana ya?... Oh gini aja, tolong pesankan makananku ya, sumpah laper banget aku. Makanannya terserah kamu aja yang penting bisa dimakan. Hehehe, thanks yaaa”
“Ya udah deh. Hati-hati, Cay”

Setelah mengakhiri percakapannya dengan Jessie, Cayla tersenyum membayangkan wajah sahabatnya yang telah menunggunya selama 25 menit. Dalam perjalanan, Cayla memasang earphone disebelah telinganya sambil mendengarkan lagu-lagu kesukaannya. Ketika musiknya berhenti dan tergantikan oleh lagu selanjutnya, wajah Cayla dari ceria berubah menjadi sedih. Entah kenapa lagu ini membuat Cayla kemudian menangis.

Coba ku dengarkan  alunan cinta
Yang kau nyanyikan
 Teringat kembali saat melepaskan
Kisah mu dari cerita yang kutuliskan

 Baru ku sadari… Tak akan lagi ingkari
 Hanyalah dirimu yang mampu membuat    
Hatiku mengerti akan arti sepi
(Maafkan Aku – Cross bottom)

Cayla memang selalu seperti ini. Cayla Aurellia, begitu nama lengkapnya. Gadis bertubuh mungil ini memang selalu menarik perhatian banyak orang dengan rambut hitam yang panjangnya sampai di pundak, serta mata yang berwarna hitam pekat membuatnya terlihat sangat menarik. Gadis ini memiliki kenangan yang tidak ingin diketahui oleh orang lain. Ya… kenangan dimasa lalu, kenangan yang masih terus menghantuinya hingga saat ini.  Kenangan yang membuatnya harus pindah dari kota asalnya.

Cayla yang sedari tadi melamun, dikejutkan dengan satu tepukan dari Jessie yang kemudian membuatnya tersadar dari lamunannya.
“Ya ampun, Cay… udah deh ngelamunnya. Kasihan tuh makanannya dari tadi teriak minta dimakan” Kata Jessie sambil menggeser makanan kearah Cayla.
“Oh iya.. iya.. thanks ya Jess” balas Cayla sambil menyantap makanannya dan kemudian termenung lagi.
“Kamu kenapa sih, Cay? Tadi ketemu hantu dijalan ya, makanya sekarang kamu kayak gini? Makanannya tuh dihabisin”.
Cayla tetap diam. Bingung melihat tingkah sahabatnya yang mulai aneh, Jessie kemudian bertanya…
“Tadi kamu ketemu siapa?”
Cayla terkejut mendengar pertanyaan Jessie. “Apa?” tanya Cayla
“hmm… tadi kamu ketemu siapa dijalan sampai-sampai kamu jadi berubah pendiam kayak gini?” Jessie mengulang pertanyaannya dengan sabar.
“Ketemu siapa? Nggak ketemu siapa-siapa kok.” Jawab Cayla
“Yakin?” tanya Jessie lagi.
“Yakin. Ya ampun, Jess. Kamu udah kayak detektif aja, nanya-nanya kayak gitu”. Jawab Cayla sambil tersenyum meyakinkan Jessie yang penasaran melihat sikapnya yang tiba-tiba berubah.
“Ohh.. ya udah deh.” Balas Jessie singkat namun tetap yakin bahwa ada yang disembunyikan oleh Cayla. Dalam hatinya bertanya-tanya karena sikap dan wajah Cayla tidak akan pernah berubah secara drastis kalau tidak ada sebabnya. Apakah ini mengenai keluarganya? Atau Given?. Ah.. tidak mungkin Given. Setelah kejadian itu, Cayla memang selalu murung tapi itu hanya berlangsung empat bulan. Lagian Given juga sudah tidak ada kabarnya lagi dan Cayla… Cayla kan sudah punya Gian.  Mungkin ini hanya prasangka burukku. Cayla mungkin sedang pusing dengan pekerjaannya di kantor.
“kamu kenapa Jess? Kok bengong sendiri?” tanya Cayla
“hehehe, nggak kok. Tenang aja”. Jawab Jessie yang tersadar dari lamunannya dan pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal dihatinya.

Kenapa hari ini suasana hatinya memburuk? Kenapa harus Given yang ada dipikirannya ketika mendengarkan lagu tadi? Sampai kapan ia harus seperti ini. Lagi-lagi ia menghembuskan nafas panjang dan membantingkan dirinya di tempat tidur sambil memikirkan kejadian di mobil tadi siang. Entah kenapa ia ingin sekali menghubungi Given dan menanyakan kabarnya setelah tiga tahun tidak berkomunikasi. Tapi itu akan membuat luka tiga tahun yang lalu terbuka lagi, Cayla pun mengurungkan niatnya menghubungi Given. Lagipula ia juga tidak yakin apakah Given masih menggunakan nomor lamanya. Lama Cayla menatap handphone ditangannya, tiba-tiba handphonenya berbunyi. Ketika melihat nama yang tertera dilayar handphone, tanpa menunggu lama, Cayla langsung menerimanya.

“Aurell, kamu udah di rumah?”
“Udah Gian. Kenapa?”
“Nggak. Aku pikir kamu masih dikantor, biar sekalian aku jemput”
“Ohh.. udah kok, aku udah dirumah. Tadi aku bawa mobilnya papa soalnya. Kamu udah makan?”
“Belum sayang, aku ke rumah sekarang ya… kita makan bareng”
“Tapi aku udah makan tadi sama Jessie”
“Oh yah, nggak papa. Aku kesana ya, biar ada yang nemenin makan. Hehehe”
“Oke deh. Aku tunggu ya. Kamu hati-hati ya.”
“Siaappp bos. I Love you”
“I Love you, too”

Satu-satunya orang yang memanggil Cayla dengan nama tengahnya hanya Gian, calon tunangannya. Sejak pertama kali pacaran hingga hampir memasuki masa pertunangan mereka, Gian Stanley tidak pernah memanggil Cayla dengan “Cayla” tetapi “Aurell”. Menurut Gian, Cayla sudah umum dipanggil oleh banyak orang, oleh sebab itu Gian ingin memanggilnya dengan panggilannya sendiri dan Cayla setuju. Setidaknya kedua orangtuanya tidak sia-sia memberikan nama tengah untuknya karena ada Gian yang memanggilnya dengan nama tersebut dan itu membuatnya bahagia. Selang 15 menit kemudian, bunyi bel terdengar. Cayla bergegas menuju pintu rumahnya.

“Hai sayang…” sapa Gian sambil mengecup kening Cayla.
“Hmm… kamu bawa makanan apa aja, Gian? Ya ampun, banyak banget makanannya. Kalo nggak habis gimana? Kamu kebiasaan deh.” Ungkap Cayla spontan ketika melihat banyaknya kantong makanan yang dibawa Gian.
“Udah nggak papa. Nanti juga aku habisin kok, yang penting kamu nemenin aku makan ya, sayang?” bujuk Gian menenangkan.
“Iya-iya. Masuk dulu deh, kamu kayak penagih hutang aja depan pintu” balas Cayla terkekeh melihat Gian masih berdiri didepan pintu rumahnya.
“Oke bos” jawab Gian singkat, sembari melepaskan sepatunya dan memakai sandal rumah yang sudah disiapkan Cayla sebelumnya, kemudian menyusul Cayla di ruang makan.
“papa mama ?” tanya Gian heran melihat rumah Cayla sepi.
“Tadi waktu aku pulang, mereka ke rumahnya tante Dessy” jawab Cayla sambil membuka beberapa kantong makanan yang dibawa Gian dan menuangkannya dipiring dan mangkuk yang sudah disiapkannya, kemudian mempersilahkan Gian untuk makan.
“Terimakasih Aurell, sayang. Kamu memang calon tunangan yang baik dan perhatian” Ungkap Gian sambil tertawa.
“Hahaha… ada aja kata manisnya kalo ada maunya” balas Cayla sembari mengacak-acak rambut Gian karena telah menggodanya.
“Kamu disini sebentar ya, aku mau ngambil handphone sebentar dikamar” kata Cayla sambil melemparkan senyum pada Gian.
“Siap bos” balas Gian singkat.

Dikamar, Cayla duduk termenung menatap handphonenya. Ia berharap dengan datangnya Gian dirumahnya mampu mengalihkan pikirannya dari Given yang sedari tadi dipikirkannya. Lama Cayla termenung menatap handphone ditangannya, tanpa ia sadari Gian sudah berdiri didepan pintu menatapnya penuh tanya. “hmm… kamu kenapa? tanya Gian membuat Cayla tersadar bahwa sudah sangat lama ia meninggalkan Gian menunggunya diruang makan.
“kamu kenapa, rell ?” tanya Gian lagi seakan menunggu jawaban dari tunangannya yang tampak bingung melihatnya sudah berjalan kearahnya. “nggak papa, Gian. Tadi aku nunggu telpon dari Jessie” jawab Cayla singkat mencoba menutupi semuanya dari Gian.
“ohh… lagi tunggu telpon ya? Oh yah, sepertinya aku harus balik ke kantor lagi soalnya ada yang ketinggalan, lagian aku sudah selesai makannya” ungkap Gian.
“maafin aku ya, Gian” ungkap Cayla dengan penuh penyesalan.
“rell, kamu coba dong jangan manggil aku Gian terus-terusan” pinta Gian dengan nada memelas.
“Aku juga sedang mencoba G” balas Cayla
“tapi sampai kapan?” nada suara Gian mulai berubah. Menaham rasa kecewanya, Gian kemudian mengecup kening Cayla yang terdiam mendengar ucapan Gian kemudian bergegas meninggalkannya.

Cayla menatap punggung Gian yang perlahan-lahan menghilang dari pandangannya. Tersadar bahwa selama berpacaran hingga bertunangan, belum pernah Cayla memanggil tunangannya itu dengan panggilan layaknya sepasang kekasih. Cayla selalu memanggilnya “Gian” atau “G”. Entah kenapa kata “sayang” susah untuk diucapkan. Kembali Cayla menatap handphone miliknya dan kemudian menghubungi seseorang.
“Halo… maaf saya sibuk. Bisa anda hubungi saya nanti?”
Ketika mendengar suara tersebut, Cayla terkejut hingga tidak berani mengeluarkan suara sedikitpun.
“Halo… Haloo….” Cayla tetap terdiam hingga orang yang suaranya ia dengar tadi dengan sendirinya menutup telponnya. Wajahnya berubah pucat sementara jantungnya berdetak sangat cepat. Masih tidak percaya apa yang didengarnya tadi, tiba-tiba ia dikejutkan dengan pesan masuk.

Cay, aku didepan pintu rumahmu” – Jessie

“Tumben datang…” heran melihat temannya yang jarang datang kerumahnya.
“sebenarnya nggak dateng tapi karena Gian minta tolong supaya nemenin kamu.. jadinya aku langsung kesini” ungkap Jessie yang langsung membaringkan dirinya di sofa depan TV.
“ohh..” balas Cayla singkat kemudian terdiam disamping Jessie.
“kamu kenapa sih Cay, dari tadi siang loh… tadi juga nada suaranya si Gian kok kayak sedih gitu. Kalian berantem ya? Tanya Jessie yang bingung melihat tingkah sahabatnya.
“nggak. Tadi Gian kesini tapi setelah itu itu langsung balik lagi” jawab Cayla.
“mending cerita deh Cay, pasti ada yang kamu sembunyikan deh. Aku tuh kenal kamu Cay, pasti lagi mikirik sesuatu kan?” tanya Jessie
“nggak kok” balas Cayla
“kamu mikirin Given, bukan?” tanya Jessie meyakinkan.
Plaaaakkkk…. Pertanyaan Jessie seperti tamparan yang keras di wajah Cayla yang menyadarkannya bahwa benar yang ada dipikirannya sedari tadi adalah Given, mantan kekasihnya. Seketika itu juga Cayla terlihat sangat pucat tapi mencoba menenangkan dirinya agar tidak terlihat oleh Jessie.
“hussshhh…. Sembarangan kamu, Jess. Siapa yang mikirin Given. Kita tuh udah lama break dan aku udah mutusin buat jalani semuanya dengan Gian, jadi nggak mungkin aku masih mikirin Given. Lagian ini sudah tiga tahun aku break dengan Given” jawab Cayla lancar.
“ohh… aku pikir…”
“nggak kok, tenang aja, Jess. Aku baik-baik saja, mungkin cuma kelelahan” potong Cayla meyakinkan.
“Baguslah kalau kamu baik-baik saja, setidaknya aku nggak terlalu khawatir. Biar lapor ke Giannya juga aman” jawab Jessie sambil tertawa.

Cayla tersenyum menatap sahabatnya yang tertawa melihatnya, membuat perasaannya merasa lebih baik. Setidaknya ia masih bisa menyembunyikan apa yang sebenarnya terjadi. Namun ingatannya kembali pada orang yang ia hubungi tadi.

“Apa itu Given ? tapi benar itu suaranya… kenapa dia masih pakai nomor itu? Bagaimana kabarnya ya? Arrgghhh… kenapa perasaanku berubah seperti ini? Tidak ! sebenarnya aku tidak sedang baik-baik saja, ada apa dengan diriku?”

No comments:

Post a Comment