"Sebenarnya… Aku tidak
sedang baik-baik saja." –
Cayla Aurellia
“Caylaaaaa, sumpah kamu lama banget Cay. Udah dimana sih?”
“Sorry Jess,
sekarang aku udah dijalan tapi macet… Mm, gimana ya?... Oh gini aja, tolong
pesankan makananku ya, sumpah laper banget aku. Makanannya terserah kamu aja
yang penting bisa dimakan. Hehehe, thanks yaaa”
“Ya udah deh. Hati-hati, Cay”
Setelah mengakhiri percakapannya dengan Jessie, Cayla
tersenyum membayangkan wajah sahabatnya yang telah menunggunya selama 25 menit.
Dalam perjalanan, Cayla memasang earphone
disebelah telinganya sambil mendengarkan lagu-lagu kesukaannya. Ketika musiknya
berhenti dan tergantikan oleh lagu selanjutnya, wajah Cayla dari ceria berubah
menjadi sedih. Entah kenapa
lagu ini membuat Cayla kemudian menangis.
Coba ku dengarkan
alunan cinta
Yang kau nyanyikan
Teringat kembali saat melepaskan
Kisah mu dari cerita yang kutuliskan
Baru ku sadari… Tak akan lagi ingkari
Hanyalah dirimu yang mampu membuat
Hatiku mengerti akan arti sepi
Yang kau nyanyikan
Teringat kembali saat melepaskan
Kisah mu dari cerita yang kutuliskan
Baru ku sadari… Tak akan lagi ingkari
Hanyalah dirimu yang mampu membuat
Hatiku mengerti akan arti sepi
(Maafkan
Aku – Cross bottom)
Cayla
memang selalu seperti ini. Cayla Aurellia, begitu nama lengkapnya. Gadis bertubuh
mungil ini memang selalu menarik perhatian banyak orang dengan rambut hitam
yang panjangnya sampai di pundak, serta mata yang berwarna hitam pekat
membuatnya terlihat sangat menarik. Gadis ini memiliki kenangan yang tidak
ingin diketahui oleh orang lain. Ya… kenangan dimasa lalu, kenangan yang masih
terus menghantuinya hingga saat ini.
Kenangan yang membuatnya harus pindah dari kota asalnya.
Cayla
yang sedari tadi melamun, dikejutkan dengan satu tepukan dari Jessie yang
kemudian membuatnya tersadar dari lamunannya.
“Ya
ampun, Cay… udah deh ngelamunnya. Kasihan tuh makanannya dari tadi teriak minta
dimakan” Kata Jessie sambil menggeser makanan kearah Cayla.
“Oh
iya.. iya.. thanks ya Jess” balas Cayla sambil menyantap makanannya dan
kemudian termenung lagi.
“Kamu
kenapa sih, Cay? Tadi ketemu hantu
dijalan ya, makanya sekarang kamu kayak gini? Makanannya tuh dihabisin”.
Cayla
tetap diam. Bingung melihat tingkah sahabatnya yang mulai aneh, Jessie kemudian
bertanya…
“Tadi
kamu ketemu siapa?”
Cayla
terkejut mendengar pertanyaan Jessie. “Apa?” tanya Cayla
“hmm…
tadi kamu ketemu siapa dijalan sampai-sampai kamu jadi berubah pendiam kayak
gini?” Jessie mengulang pertanyaannya dengan sabar.
“Ketemu
siapa? Nggak ketemu siapa-siapa kok.” Jawab Cayla
“Yakin?”
tanya Jessie lagi.
“Yakin.
Ya ampun, Jess. Kamu udah kayak detektif aja, nanya-nanya kayak gitu”. Jawab
Cayla sambil tersenyum meyakinkan Jessie yang penasaran melihat sikapnya yang
tiba-tiba berubah.
“Ohh..
ya udah deh.” Balas Jessie singkat namun tetap yakin bahwa ada yang
disembunyikan oleh Cayla. Dalam hatinya bertanya-tanya karena sikap dan wajah
Cayla tidak akan pernah berubah secara drastis kalau tidak ada sebabnya. Apakah
ini mengenai keluarganya? Atau Given?. Ah.. tidak mungkin Given. Setelah
kejadian itu, Cayla memang selalu murung tapi itu hanya berlangsung empat
bulan. Lagian Given juga sudah tidak ada kabarnya lagi dan Cayla… Cayla kan
sudah punya Gian. Mungkin ini hanya
prasangka burukku. Cayla mungkin sedang pusing dengan pekerjaannya di kantor.
“kamu
kenapa Jess? Kok bengong sendiri?” tanya Cayla
“hehehe,
nggak kok. Tenang aja”. Jawab Jessie yang tersadar dari lamunannya dan
pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal dihatinya.
Kenapa
hari ini suasana hatinya memburuk? Kenapa harus Given yang ada dipikirannya
ketika mendengarkan lagu tadi? Sampai kapan ia harus seperti ini. Lagi-lagi ia
menghembuskan nafas panjang dan membantingkan dirinya di tempat tidur sambil
memikirkan kejadian di mobil tadi siang. Entah kenapa ia ingin sekali menghubungi
Given dan menanyakan kabarnya setelah tiga tahun tidak berkomunikasi. Tapi itu
akan membuat luka tiga tahun yang lalu terbuka lagi, Cayla pun mengurungkan
niatnya menghubungi Given. Lagipula ia juga tidak yakin apakah Given masih
menggunakan nomor lamanya. Lama Cayla menatap handphone ditangannya, tiba-tiba handphonenya berbunyi. Ketika melihat nama yang tertera dilayar handphone, tanpa menunggu lama, Cayla
langsung menerimanya.
“Aurell,
kamu udah di rumah?”
“Udah
Gian. Kenapa?”
“Nggak.
Aku pikir kamu masih dikantor, biar sekalian aku jemput”
“Ohh..
udah kok, aku udah dirumah. Tadi aku bawa mobilnya papa soalnya. Kamu udah
makan?”
“Belum
sayang, aku ke rumah sekarang ya… kita makan bareng”
“Tapi
aku udah makan tadi sama Jessie”
“Oh
yah, nggak papa. Aku kesana ya, biar ada yang nemenin makan. Hehehe”
“Oke
deh. Aku tunggu ya. Kamu hati-hati ya.”
“Siaappp
bos. I Love you”
“I
Love you, too”
Satu-satunya
orang yang memanggil Cayla dengan nama tengahnya hanya Gian, calon tunangannya.
Sejak pertama kali pacaran hingga hampir memasuki masa pertunangan mereka, Gian
Stanley tidak pernah memanggil Cayla dengan “Cayla” tetapi “Aurell”. Menurut
Gian, Cayla sudah umum dipanggil oleh banyak orang, oleh sebab itu Gian ingin
memanggilnya dengan panggilannya sendiri dan Cayla setuju. Setidaknya kedua
orangtuanya tidak sia-sia memberikan nama tengah untuknya karena ada Gian yang
memanggilnya dengan nama tersebut dan itu membuatnya bahagia. Selang 15 menit
kemudian, bunyi bel terdengar. Cayla bergegas menuju pintu rumahnya.
“Hai
sayang…” sapa Gian sambil mengecup kening Cayla.
“Hmm…
kamu bawa makanan apa aja, Gian? Ya ampun, banyak banget makanannya. Kalo nggak
habis gimana? Kamu kebiasaan deh.” Ungkap Cayla spontan ketika melihat
banyaknya kantong makanan yang dibawa Gian.
“Udah
nggak papa. Nanti juga aku habisin kok, yang penting kamu nemenin aku makan ya,
sayang?” bujuk Gian menenangkan.
“Iya-iya.
Masuk dulu deh, kamu kayak penagih hutang aja depan pintu” balas Cayla terkekeh
melihat Gian masih berdiri didepan pintu rumahnya.
“Oke
bos” jawab Gian singkat, sembari melepaskan sepatunya dan memakai sandal rumah
yang sudah disiapkan Cayla sebelumnya, kemudian menyusul Cayla di ruang makan.
“papa
mama ?” tanya Gian heran melihat rumah Cayla sepi.
“Tadi
waktu aku pulang, mereka ke rumahnya tante Dessy” jawab Cayla sambil membuka
beberapa kantong makanan yang dibawa Gian dan menuangkannya dipiring dan
mangkuk yang sudah disiapkannya, kemudian mempersilahkan Gian untuk makan.
“Terimakasih
Aurell, sayang. Kamu memang calon tunangan yang baik dan perhatian” Ungkap Gian
sambil tertawa.
“Hahaha…
ada aja kata manisnya kalo ada maunya” balas Cayla sembari mengacak-acak rambut
Gian karena telah menggodanya.
“Kamu
disini sebentar ya, aku mau ngambil handphone
sebentar dikamar” kata Cayla sambil melemparkan senyum pada Gian.
“Siap
bos” balas Gian singkat.
Dikamar,
Cayla duduk termenung menatap handphonenya.
Ia berharap dengan datangnya Gian dirumahnya mampu mengalihkan pikirannya dari
Given yang sedari tadi dipikirkannya. Lama Cayla termenung menatap handphone ditangannya, tanpa ia sadari
Gian sudah berdiri didepan pintu menatapnya penuh tanya. “hmm… kamu kenapa?
tanya Gian membuat Cayla tersadar bahwa sudah sangat lama ia meninggalkan Gian
menunggunya diruang makan.
“kamu
kenapa, rell ?” tanya Gian lagi seakan menunggu jawaban dari tunangannya yang tampak
bingung melihatnya sudah berjalan kearahnya. “nggak papa, Gian. Tadi aku nunggu
telpon dari Jessie” jawab Cayla singkat mencoba menutupi semuanya dari Gian.
“ohh…
lagi tunggu telpon ya? Oh yah, sepertinya aku harus balik ke kantor lagi
soalnya ada yang ketinggalan, lagian aku sudah selesai makannya” ungkap Gian.
“maafin
aku ya, Gian” ungkap Cayla dengan penuh penyesalan.
“rell,
kamu coba dong jangan manggil aku Gian terus-terusan” pinta Gian dengan nada
memelas.
“Aku
juga sedang mencoba G” balas Cayla
“tapi
sampai kapan?” nada suara Gian mulai berubah. Menaham rasa kecewanya, Gian
kemudian mengecup kening Cayla yang terdiam mendengar ucapan Gian kemudian
bergegas meninggalkannya.
Cayla
menatap punggung Gian yang perlahan-lahan menghilang dari pandangannya.
Tersadar bahwa selama berpacaran hingga bertunangan, belum pernah Cayla
memanggil tunangannya itu dengan panggilan layaknya sepasang kekasih. Cayla
selalu memanggilnya “Gian” atau “G”. Entah kenapa kata “sayang” susah untuk
diucapkan. Kembali Cayla menatap handphone
miliknya dan kemudian menghubungi seseorang.
“Halo…
maaf saya sibuk. Bisa anda hubungi saya nanti?”
Ketika
mendengar suara tersebut, Cayla terkejut hingga tidak berani mengeluarkan suara
sedikitpun.
“Halo…
Haloo….” Cayla tetap terdiam hingga orang yang suaranya ia dengar tadi dengan
sendirinya menutup telponnya. Wajahnya berubah pucat sementara jantungnya berdetak
sangat cepat. Masih tidak percaya apa yang didengarnya tadi, tiba-tiba ia
dikejutkan dengan pesan masuk.
“Cay, aku didepan pintu rumahmu” – Jessie
“Tumben
datang…” heran melihat temannya yang jarang datang kerumahnya.
“sebenarnya
nggak dateng tapi karena Gian minta tolong supaya nemenin kamu.. jadinya aku
langsung kesini” ungkap Jessie yang langsung membaringkan dirinya di sofa depan
TV.
“ohh..”
balas Cayla singkat kemudian terdiam disamping Jessie.
“kamu
kenapa sih Cay, dari tadi siang loh… tadi juga nada suaranya si Gian kok kayak
sedih gitu. Kalian berantem ya? Tanya Jessie yang bingung melihat tingkah
sahabatnya.
“nggak.
Tadi Gian kesini tapi setelah itu itu langsung balik lagi” jawab Cayla.
“mending
cerita deh Cay, pasti ada yang kamu sembunyikan deh. Aku tuh kenal kamu Cay,
pasti lagi mikirik sesuatu kan?” tanya Jessie
“nggak
kok” balas Cayla
“kamu
mikirin Given, bukan?” tanya Jessie meyakinkan.
Plaaaakkkk….
Pertanyaan Jessie seperti tamparan yang keras di wajah Cayla yang
menyadarkannya bahwa benar yang ada dipikirannya sedari tadi adalah Given,
mantan kekasihnya. Seketika itu juga Cayla terlihat sangat pucat tapi mencoba
menenangkan dirinya agar tidak terlihat oleh Jessie.
“hussshhh….
Sembarangan kamu, Jess. Siapa yang mikirin Given. Kita tuh udah lama break dan aku udah mutusin buat jalani
semuanya dengan Gian, jadi nggak mungkin aku masih mikirin Given. Lagian ini
sudah tiga tahun aku break dengan
Given” jawab Cayla lancar.
“ohh…
aku pikir…”
“nggak
kok, tenang aja, Jess. Aku baik-baik saja, mungkin cuma kelelahan” potong Cayla
meyakinkan.
“Baguslah
kalau kamu baik-baik saja, setidaknya aku nggak terlalu khawatir. Biar lapor ke
Giannya juga aman” jawab Jessie sambil tertawa.
Cayla
tersenyum menatap sahabatnya yang tertawa melihatnya, membuat perasaannya
merasa lebih baik. Setidaknya ia masih bisa menyembunyikan apa yang sebenarnya
terjadi. Namun ingatannya kembali pada orang yang ia hubungi tadi.
“Apa itu Given ? tapi benar itu
suaranya… kenapa dia masih pakai nomor itu? Bagaimana kabarnya ya? Arrgghhh…
kenapa perasaanku berubah seperti ini? Tidak ! sebenarnya aku tidak sedang
baik-baik saja, ada apa dengan diriku?”
No comments:
Post a Comment