Friday, 25 July 2014

Allah Yang Menderita Di Tengah Pesta Natal Umat-Nya (Bacaan : Matius 2:13-15)

 Natal merupakan moment yang tidak akan pernah dilewatkan oleh setiap umat Kristiani. Hal ini dikarenakan natal hanya dirayakan satu kali dalam setahun dan natal merupakan hari dimana setiap umat Kristiani merayakan kelahiran Yesus Kristus. Setiap orang akan memaknai serta merayakan natal dengan cara yang berbeda. Bertolak dari Injil Matius 2:13-15, kita diajak untuk melihat makna natal yang tersembunyi dibalik kisah dalam bacaan kita ini.
Jika kita memperhatikan kisah kelahiran Yesus dengan baik, maka kita akan melihat bahwa kehidupan yang Yesus jalani adalah kehidupan yang penuh dengan penderitaan dan penolakan. Mengapa? karena sejak dalam kandunganpun Yesus sudah ditolak oleh orang terdekatnya yakni Yusuf, walaupun pada akhirnya Yusuf membatalkan apa yang sudah direncanakannya (Lih. Mat.1:19). Penolakan tersebut tidak hanya berhenti di Yusuf saja, melainkan terus berlanjut ketika Herodes mencoba menyingkirkan Yesus dengan segala cara, yaitu dengan jalan ingin membunuh-Nya. Upaya Yusuf dan Maria untuk menyelamatkan Yesus dari kekejaman Herodes  tidak pernah lepas dari campur tangan Tuhan, namun yang menjadi pertanyaan: mengapa Tuhan menyuruh Yusuf membawa Maria dan Yesus ke Mesir? Tidak adakah tempat lain selain di Mesir? Bagi orang Israel, Mesir (Ibrani : Mitsrayim), merupakan tempat yang kelam karena disanalah mereka dijajah dan tidak mendapat kebebasan. Oleh sebab itu, dalam sejarah bangsa Israel, Mesir juga dikenal sebagai negeri yang penuh dengan kejahatan. Lalu mengapa Tuhan menginginkan mereka menyingkir ke Mesir? Bukankah jika Yesus di Mesir akan banyak penderitaan juga, mengingat mereka adalah orang Yahudi? jawabannya adalah karena Tuhan ingin membentuk Yesus melalui penderitaan yang harus Ia lewati ketika Ia berada di Mesir karena di tempat asal-Nya sendiri, Ia telah ditolak. Oleh sebab itu, Yesus mampu membebaskan orang-orang yang mengalami penderitaan, karena Ia sendiri telah dahulu mengalaminya. Kisah kelahiran Yesus pada saat itu selalu identik dengan penderitaan karena ditolak dimana-mana.

            Sejenak kita merenungkan kembali tema kita dalam bacaan ini “Allah yang menderita di tengah pesta natal umat-Nya”. Timbul pertanyaan mengapa Allah menderita ? jawabannya karena sejak dalam kandungan hingga dewasa, Ia sudah mengalami penolakan oleh orang-orang disekitar-Nya. Penolakan tersebut bukan saja terjadi pada zaman Yesus lahir namun tanpa disadari penolakan tersebut juga terjadi pada saat ini, disaat setiap umat Kristiani merayakan akan kelahiran Yesus. Natal yang dirayakan oleh umat Kristiani saat ini sebenarnya bukanlah untuk merayakan kelahiran Yesus melainkan untuk menunjukan kemewahan yang ada. Umat Kristiani merayakan natal sebagai peringatan akan kelahiran Yesus tapi Yesus sendiri ditolak oleh umat-Nya, Ia tidak diundang didalam pesta kelahiran-Nya bahkan pesta kelahiran-Nya bukan untuk diri-Nya melainkan untuk memuaskan diri kita sendiri. Natal tidak dirayakan dalam rangka mengingat kisah kelahiran Yesus yang penuh dengan penderitaan dan kesederhanaan, namun natal dirayakan sebagai ajang untuk menunjukan kemewahan yang ada , karena bukan natal namanya jika anggaran yang dikeluarkan tidak mencapai puluhan juta sedangkan masih banyak orang-orang yang menderita dan membutuhkan uluran tangan dari kita diluar sana. Natal dirayakan bukan lagi untuk memperingati apa yang Yesus alami melainkan natal sekarang sudah disekulerkan. Mungkin umat Kristiani saat ini terlalu dimanjakan dengan kemewahan yang ada sehingga mereka lupa bagaimana cara untuk berbagi dengan orang-orang lain yang menderita. Oleh sebab itu, melalui Firman Tuhan yang datang kepada kita saat ini, kita diajak untuk memaknai kelahiran Yesus sebagai suatu bentuk ungkapan kasih Allah yang nyata dalam kehidupan kita agar melaluinya kita dapat belajar merasakan Yesus Kristus dalam kesederhanaan dan penderitaan supaya kita dapat membuka hati kita untuk lebih peduli kepada sesama kita yang hidup dalam kekurangan serta yang dilanda bencana. (ATS)

No comments:

Post a Comment