Natal merupakan moment yang tidak akan pernah dilewatkan oleh setiap umat Kristiani.
Hal ini dikarenakan natal hanya dirayakan satu kali dalam setahun dan natal
merupakan hari dimana setiap umat Kristiani merayakan kelahiran Yesus Kristus.
Setiap orang akan memaknai serta merayakan natal dengan cara yang berbeda. Bertolak
dari Injil Matius 2:13-15, kita diajak untuk melihat makna natal yang
tersembunyi dibalik kisah dalam bacaan kita ini.
Jika kita memperhatikan kisah kelahiran
Yesus dengan baik, maka kita akan melihat bahwa kehidupan yang Yesus jalani
adalah kehidupan yang penuh dengan penderitaan dan penolakan. Mengapa? karena sejak
dalam kandunganpun Yesus sudah ditolak oleh orang terdekatnya yakni Yusuf,
walaupun pada akhirnya Yusuf membatalkan apa yang sudah direncanakannya (Lih.
Mat.1:19). Penolakan tersebut tidak hanya berhenti di Yusuf saja, melainkan
terus berlanjut ketika Herodes mencoba menyingkirkan Yesus dengan segala cara,
yaitu dengan jalan ingin membunuh-Nya. Upaya Yusuf dan Maria untuk
menyelamatkan Yesus dari kekejaman Herodes
tidak pernah lepas dari campur tangan Tuhan, namun yang menjadi
pertanyaan: mengapa Tuhan menyuruh Yusuf membawa Maria dan Yesus ke Mesir?
Tidak adakah tempat lain selain di Mesir? Bagi orang Israel, Mesir (Ibrani : Mitsrayim), merupakan tempat
yang kelam karena disanalah mereka dijajah dan tidak mendapat kebebasan. Oleh
sebab itu, dalam sejarah bangsa Israel, Mesir juga dikenal sebagai negeri yang
penuh dengan kejahatan. Lalu mengapa Tuhan menginginkan mereka menyingkir ke
Mesir? Bukankah jika Yesus di Mesir akan banyak penderitaan juga, mengingat
mereka adalah orang Yahudi? jawabannya adalah karena Tuhan ingin membentuk
Yesus melalui penderitaan yang harus Ia lewati ketika Ia berada di Mesir karena
di tempat asal-Nya sendiri, Ia telah ditolak. Oleh sebab itu, Yesus mampu
membebaskan orang-orang yang mengalami penderitaan, karena Ia sendiri telah
dahulu mengalaminya. Kisah kelahiran Yesus pada saat itu selalu identik dengan
penderitaan karena ditolak dimana-mana.
Sejenak kita merenungkan kembali
tema kita dalam bacaan ini “Allah yang
menderita di tengah pesta natal umat-Nya”. Timbul pertanyaan mengapa Allah
menderita ? jawabannya karena sejak dalam kandungan hingga dewasa, Ia sudah
mengalami penolakan oleh orang-orang disekitar-Nya. Penolakan tersebut bukan
saja terjadi pada zaman Yesus lahir namun tanpa disadari penolakan tersebut
juga terjadi pada saat ini, disaat setiap umat Kristiani merayakan akan
kelahiran Yesus. Natal yang dirayakan oleh umat Kristiani saat ini sebenarnya
bukanlah untuk merayakan kelahiran Yesus melainkan untuk menunjukan kemewahan
yang ada. Umat Kristiani merayakan natal sebagai peringatan akan kelahiran
Yesus tapi Yesus sendiri ditolak oleh umat-Nya, Ia tidak diundang didalam pesta
kelahiran-Nya bahkan pesta kelahiran-Nya bukan untuk diri-Nya melainkan untuk
memuaskan diri kita sendiri. Natal tidak dirayakan dalam rangka mengingat kisah
kelahiran Yesus yang penuh dengan penderitaan dan kesederhanaan, namun natal
dirayakan sebagai ajang untuk menunjukan kemewahan yang ada , karena bukan
natal namanya jika anggaran yang dikeluarkan tidak mencapai puluhan juta
sedangkan masih banyak orang-orang yang menderita dan membutuhkan uluran tangan
dari kita diluar sana. Natal dirayakan bukan lagi untuk memperingati apa yang
Yesus alami melainkan natal sekarang sudah disekulerkan. Mungkin umat Kristiani
saat ini terlalu dimanjakan dengan kemewahan yang ada sehingga mereka lupa
bagaimana cara untuk berbagi dengan orang-orang lain yang menderita. Oleh sebab
itu, melalui Firman Tuhan yang datang kepada kita saat ini, kita diajak untuk
memaknai kelahiran Yesus sebagai suatu bentuk ungkapan kasih Allah yang nyata
dalam kehidupan kita agar melaluinya kita dapat belajar merasakan Yesus Kristus
dalam kesederhanaan dan penderitaan supaya kita dapat membuka hati kita untuk
lebih peduli kepada sesama kita yang hidup dalam kekurangan serta yang dilanda
bencana. (ATS)

No comments:
Post a Comment