Tulisan
ini merupakan renungan berantai yang ditulis oleh beberapa teman secara
bergiliran. Tulisan ini adalah tulisan Keempat. Tulisan ketiga dapat dibaca di
blog kakak terkasih Lastriana Ginting, disini : http://lastrigintinglagie.blogspot.com/2015/05/memantaskan-diri-3ptrb-tulisanini.html?spref=fb
“Apa yang tak pernah dilihat mata dan
tak pernah didengar telinga. Yang tak pernah timbul di dalam hati, semua
disediakan bagi yang mengasihi Dia…”
– Allah Sanggup
Kalau
dalam tulisan-tulisan sebelumnya bercerita mengenai pasangan hidup, maka dalam
tulisan kali ini saya ingin merenungkan betapa kasih Tuhan sangat nyata dalam
kehidupan saya khususnya selama saya melaksanakan praktek pendidikan lapangan 6.
Sebagai seorang mahasiswa Fakultas Teologi yang akan menjalani masa praktek
selama 4 bulan di GKI Ngagel Surabaya, saya mengalami ketakutan yang luar biasa
karena saya tidak mengetahui dengan baik mengenai GKI Ngagel. Saya takut tidak diterima
dengan baik, takut tidak memiliki teman, takut tidak bisa melakukan apa-apa dan
masih banyak ketakutan lainnya. Ketakutan tersebut terasa sangat nyata ketika
saya menginjakan kaki di GKI Ngagel, hingga membuat saya mengalami sakit selama
seminggu karena kecemasan yang saya ciptakan sendiri. Sakit di tempat orang
yang belum kita kenal dengan baik bahkan belum akrab sama sekali bukan sesuatu yang
menyenangkan. Namun apa yang tidak pernah saya pikirkan dan yang tidak pernah
timbul di dalam hati saya, itulah yang Tuhan sediakan. Saat itu ada beberapa
pegawai kantor gereja yang membantu saya, memberikan obat, makanan bahkan
mengantar saya ke dokter untuk diperiksa.
Begitu
halnya dengan pertemanan saya. Selama tiga minggu menjalani masa praktek di GKI
Ngagel, entah kenapa saya sulit sekali untuk membangun hubungan yang baik
dengan pemuda. Alhasil selama tiga minggu pertama, hari-hari saya dipenuhi
dengan tangisan karena saya merasa sendiri. Saya sangat berharap Tuhan mau
menggerakan hati satu orang saja agar mau berteman dengan saya. Ketakutan saya
berkurang satu. Bukan hanya satu orang yang dekat dengan saya tetapi banyak
sekali orang dari setiap tingkatan usia dan bukan hanya dekat melainkan
mengasihi saya layaknya anak, cucu, serta saudara.
Ketakutan
tidak bisa berbuat apa-apa juga bisa dipatahkan. Saya dipercayakan dalam banyak
hal, bahkan dalam pelayanan kedukaan mulai dari memimpin penutupan peti jenazah
hingga pemakaman dipercayakan kepada saya.
Banyak
hal luar biasa yang Tuhan sediakan bagi saya, ketika saya benar-benar berharap
kepada-Nya. Bahkan tempat yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya pun
disediakan bagi saya, Palangka Raya. Selama satu bulan saya diutus dari GKI
Ngagel untuk menjalankan masa praktek disana. Sama halnya yang terjadi di
Ngagel, itu juga yang terjadi di Palangka Raya. Tuhan selalu menyediakan.
Kedua
tempat ini menyimpan cerita tersendiri di hati saya. Cerita tentang hidup dan
pengharapan. Cerita tentang airmata dan kesakitan yang dipakai dan diubah Tuhan
menjadi rasa syukur serta sukacita yang mendalam. Saya tidak tahu GKI Ngagel … saya tidak tahu
GKI BaPos Palangka Raya. Yang saya tahu Tuhan tidak akan membawa saya sejauh
ini hanya untuk ditinggalkan. Kalaupun Ia pergi, Ia tetap mengawasi saya dan
memastikan tempat tersebut aman dan baik buat saya.
No comments:
Post a Comment