Hahaha... ini mungkin latar belakang dan tafsiran paling hancur yang pernah saya buat ^_^
Ayub
8 : 1-7
1
Maka berbicaralah Bildad, orang Suah: 2
"Berapa lamakah lagi engkau akan berbicara begitu, dan perkataan mulutmu
seperti angin yang menderu? 3
Masakan Allah membengkokkan keadilan? Masakan Yang Mahakuasa membengkokkan
kebenaran? 4 Jikalau
anak-anakmu telah berbuat dosa terhadap Dia, maka Ia telah membiarkan mereka
dikuasai oleh pelanggaran mereka. 5
Tetapi engkau, kalau engkau mencari Allah, dan memohon belas kasihan dari
Yang Mahakuasa, 6 kalau
engkau bersih dan jujur, maka tentu Ia akan bangkit demi engkau dan Ia akan
memulihkan rumah yang adalah hakmu. 7
Maka kedudukanmu yang dahulu akan kelihatan hina, tetapi kedudukanmu yang
kemudian akan menjadi sangat mulia.
LATAR BELAKANG
KITAB AYUB
Kitab
Ayub terdiri dari 42 pasal. [1]Menurut
Blommendaal kitab Ayub yang asli hanya terdiri dari 2 pasal saja, yaitu pasal
1,2 dan 42:7-17 sedangkan selebihnya adalah tambahan bahan dalam bentuk puisi
dan berisikan pembicaraan antara Ayub dan kawan-kawan (pasal 3-42:6). Rupanya
cerita Ayub ini adalah cerita kuno yang kemudian ditambahkan oleh seorang
penulis dengan memasukkan pikiran-pikirannya. Kitab Ayub termasuk dalam Sastera
Hikmah (Hikmat) sehingga kitab ini tidak mempunyai hubungan dengan sejarah
Israel.
Kitab
Ayub bukanlah kitab yang berasal dari Israel melainkan berasal dari Edom. Hal
ini dapat dibuktikan dengan pemakaian bahasa dalam penulisannya menggunakan
bahasa Semitis Selatan dan juga terasa pengaruh bahasa Aram di dalamnya. Diduga
kitab ini ditulis sesudah masa pembuangan. Sedangkan [2]menurut
Alkitab Penuntun, tempat terjadinya peristiwa adalah di tanah Us yang kemudian
menjadi wilayah Edom yang terletak di bagian tenggara laut mati/sebelah utara
Arabia. Sehinga latar belakang kitab Ayub bersifat Arab dan bukan Ibrani.
[3]Sumber
lain juga mengatakan bahwa kisah Ayub tampaknya berasl dari negeri Edom yang tetap
dipertahankan sebagai latar belakangnya. Potongan-potongan dari Ayub
ditemukan di antara Naskah Laut Mati,
dan Ayub tetap menonjol dalam legenda Haggadah
(upacara-upacara keagamaan yang di dalamnya dibacakan cerita-cerita leluhur atau
cerita-cerita yang dapat memperkaya iman jemaat. Para sarjana sekular percaya
bahwa bagian pengantar dan penutup dari kitab ini yang merupakan kerangkanya
disusun untuk menempatkan puisi sentralnya ke dalam bentuk prosa "kitab
rakyat" seperti yang diungkapkan oleh para penyusun Jewish Encyclopedia
(Ensiklopedia Yahudi). Di dalam prolog dan epilog, nama Allah adalah Yahweh,
sebuah nama yang bahkan digunakan oleh orang-orang Edom. Para pakar sekular
sepakat bahwa puisi sentralnya berasal dari sumber yang lain.
Penulis
kitab dan waktu penulisan :
[4]Ada
berbagai-bagai pendapat tentang pengarang kitab ini. Dua tradisi Talmud
mengatakan bahwa Ayub
hidup di masa Abraham
atau Yakub.
Lewi ben Lahma mengatakan bahwa Ayub hidup di masa Musa, yang kemudian
menulis Kitab Ayub itu sendiri. Yang lainnya berpendapat bahwa Ayub sendirilah yang
menulis kitab ini, atau Elihu, atau Yesaya. Dari
bukti-bukti internal, seperti misalnya kesamaan perasaan dan bahasa dengan apa
yang ditemukan dalam Kitab Mazmur dan Amsal (Mazmur 88 dan
89), maraknya gagasan tentang "hikmat," dan gaya serta sifat
komposisinya, diduga bahwa kitab ini telah ditulis pada masa Raja Daud dan Raja Salomo. Namun,
sebagian orang menempatkannya di masa pembuangan Babel. Dan Tradisi Talmud
memperlakukan kisah Ayub sebagai sebuah perumpamaan.
[5]Ada
pula sumber yang berpendapat lain tentang tanggal penulisan kitab ini. Dua
tanggal penting yang dicatat adalah :
1.
Tanggal kehidupan Ayub sendiri dan peristiwa-peristiwa
yang diceritakan dalam kitab ini
2. Tanggal penulis kitab ini yang diilhamkan. Beberapa
fakta menunjukkan bahwa Ayub sendiri hidup sekitar zaman Abraham (2000 SM) atau
sebelumnya. Fakta-fakta yang penting adalah :
a. Ayub masih hidup selama 140 tahun setelah
peristiwa-peristiwa dalam kitab ini (42:16) yang menyarankan jangka hidup yang
hampir 200 tahun
b. Kekayaannya dihitung dari jumlah ternak (1:3 dan 42:12)
c. Pelayannaya sebagai imam dalam keluarganya seperti
Abraham, Ishak dan Yakub (1:5)
d. Sistem keluarga pimpinan ayah menjadi kesatuan sosial
mendasar seperti pada zaman Abraham (1:4-5, 13)
e. Serbuan orang-orang Syeba (1:15) dan orang-orang Kasdim
(1:17) yang cocok dengan zaman Abraham
f. Seringkali (31 kali) penulis memakai nama yang dipakai
para patriarkh bagi Tuhan, yaitu Shaddai (Yang
Maha Kuasa)
g. Tidak ada petunjuk sama sekali kepada sejarah Israel
atau hukum Musa sehingga memberi kesan tentang zaman pra-Musa (1500 SZB)
[6]Ada 3 pandangan mengenai tanggal
penulisan kitab ini :
1.
Selama
zaman para leluhur sekitar 2000 SZB dan mungkin ditulis oleh Ayub
sendiri
2.
Selama zaman Salomo atau tidak lama
setelah itu sekitar 950-900 SZB
3. Selama
masa pembuangan sekitar 586-538 SZB, penulisnya tidak dikenal. Jika bukan Ayub
sendiri pastilah penulis memiliki sumber-sumber lisan atau terinci dari zaman
Ayub.
[7]Sulit
untuk menentukan penulis kitab ini karena Kitab Ayub sendiri tidak memberikan
keterangan eksplisit tentang identitas penulisnya. Tradisi Yahudi dalam tulisan
para rabi menunjukkan usulan yang beragam. Secara umum dapat disimpulkan bahwa
penulisnya adalah orang penting yang hidup sebelum atau pada jaman Musa. Sebuah
tradisi Yahudi bahkan menyebut Musa sebagai penulis kitab ini (Baba Bathra
14b). Beberapa teolog Injili modern tetap memegang pandangan ini. Beragam
argumen telah dipaparkan sebagai dukungan[8]
tetapi secara esensial argumen tersebut biasanya berkaitan dengan dua
pertimbangan.
1.
Pertama,
penerimaan kitab ini oleh orang-orang Yahudi walaupun tokoh dan nuansa kitab
ini bukanlah Yahudi. Penerimaan seperti ini pasti memiliki alasan yang sangat
kuat sehingga dapat mengalahkan rasa nasionalisme bangsa Yahudi sendiri.
2.
Kedua,
latar belakang cerita yang menyiratkan situasi pada masa patriakh sebelum jaman
Musa. Teolog modern lain, baik injili maupun liberal mulai mempertanyakan
pandangan di atas. Mereka memilih untuk skeptis terhadap kepenulisan kitab ini
atau bahkan secara eksplisit menolak pandangan tradisional. Mereka menduga
bahwa kitab ini tercipta melalui sebuah proses penulisan yang panjang dan
kompleks. Mereka meyakini bahwa beberapa bagian dari kitab ini adalah tambahan
yang dilakukan seorang atau beberapa editor. Walaupun mereka tidak mencapai
kosensus tentang bagian-bagian yang diduga sebagai tambahan, namun secara umum
mereka setuju bahwa beberapa bagian berikut ini merupakan tambahan, yaitu :
perkataan Elihu (pasal 32-37), pujian tentang hikmat (pasal 28), perkataan
TUHAN (pasal 40:6-41:34), narasi pendahuluan (pasal 1-2) dan penutup (42:7-17).
[9]Sebagian
teolog menganggap kitab ini ditulis pada zaman Salomo. Argumen yang digunakan adalah
kesaksian dari beberapa bapa gereja awal (Gregorius Nazianzen pada akhir abad
ke-4) dan nuansa hikmat yang kental dalam kitab ini. Nuansa ini dianggap sesuai
dengan masa perkembangan popularitas hikmat pada jaman Salomo.
[10]Penyelidikan
yang teliti menunjukkan bahwa tidak ada satu pandangan pun yang konklusif. Hal
ini disebabkan tidak adanya petunjuk yang eksplisit dan sedikit petunjuk yang
ada yang bisa ditafsirkan dalam beragam cara. Bagaimanapun, pandangan
tradisional tampaknya lebih bisa diterima, walaupun kita tidak harus memikirkan
Musa sebagai penulisnya. Kemungkinan penulis tersebut dihormati oleh Musa atau
berkaitan dengan dia.
Pertama,
sebagaimana sudah disinggung di sebelumnya, sikap orang Yahudi yang mau
memelihara dan mengakui otoritas kanonik Kitab Ayub pasti membutuhkan alasan
yang sangat kuat. Kitab ini bahkan tidak termasuk ke dalam antilegomena, yaitu
kitab-kitab yang sempat diperdebatkan otoritasnya (Kitab PL yang termasuk
kategori antilegomena adalah Ester, Pengkhotbah, Kidung Agung, Yehezkiel dan
Amsal).[11]
Kita memang tidak mengetahui secara pasti mengapa Kitab Ayub begitu dihargai di
kalangan orang Yahudi sekalipun para tokoh di dalamnya bukanlah orang Yahudi,
namun kita juga tidak bisa mengabaikan fakta bahwa penerimaan suatu kitab pasti
berkaitan dengan otoritas penulisnya. Penulis ini pasti merupakan orang saleh
yang terkemuka pada zamannya.
Kedua,
latar belakang cerita yang bersumber dari zaman sebelum Musa. Sebagaimana sudah
sering disinggung oleh para teolog, Kitab Ayub memberikan petunjuk yang cukup
jelas bahwa kisah di dalamnya terjadi pada zaman yang sangat kuno :
1.
Tidak ada keterangan atau sebutan yang berkaitan
dengan Hukum Taurat
2.
Tidak ada sistem keimaman atau korban
yang baku. Ayub bertindak sebagai kepala keluarga yang juga berfungsi sebagai
imam (1:5; 42:8), sama seperti Abraham (Kej 12:8, 15:9-11, 22:2, 9-10)
3.
Umur Ayub kemungkinan besar melebihi rata-rata
usia para patriakh (42:16, bdk. Kej 25:7, 35:28, 50:26)[12]
4.
Peristiwa yang ada kemungkinan besar
terjadi sebelum TUHAN secara khusus berkarya melalui bangsa Israel. Hal ini
diketahui dari para tokoh dalam cerita ini yang bukan termasuk orang Israel. Tanah
Us (1:1) hampir dapat dipastikan bukan daerah dari bangsa Israel (Kej 10:23;
Rat 4:21), dengan demikian menyiratkan bahwa Ayub bukan orang Israel. Walaupun
Alkitab juga memberikan petunjuk bahwa TUHAN tetap memakai orang kafir sebagai
hamba-Nya sekalipun Ia sudah memilih bangsa Israel – misalnya Yitro (Kel 3:1;
18:1-12) – tetapi gambaran umum dalam Alkitab tetap lebih mendukung relasi
khusus antara TUHAN dan bangsa Israel.
5.
Sebutan “TUHAN” jarang dipakai untuk
Allah (hanya 32 kali). Sebutan yang lebih umum adalah “Allah” (sekitar 130
kali).
Para teolog yang menolak pandangan tradisional
tentang kepenulisan Kitab Ayub memang mengakui bahwa kisah dalam kitab ini
terjadi pada masa patriakh. Walaupun demikian, mereka berpendapat bahwa latar
belakang peristiwa tidak selalu identik dengan latar belakang penulisan. Dengan
kata lain, sebuah peristiwa belum tentu ditulis segera sesudah peristiwa
itu terjadi. Pendapat di atas memang bisa saja benar. Kitab Ayub mungkin
ditulis jauh setelah peristiwa di dalamnya terjadi. Bagaimanapun, hal ini
hanyalah sebuah dugaan belaka. Tidak ada petunjuk yang pasti tentang hal ini.
Dengan cara yang sama, tidak ada alasan kuat untuk membantah kemungkinan bahwa
kitab ini ditulis segera sesudah peristiwa terjadi.
Argumen ketiga di atas merupakan argumen yang mendukung
pandangan tradisional yang merupakan jawaban terhadap dugaan bahwa kitab Ayub
melewati proses penulisan yang panjang dan kompleks. Sebagai contoh, perkataan Elihu
yang seringkali dianggap tambahan dan tidak esensial bagi keseluruhan kitab.
Elihu memang terkesan muncul secara tiba-tiba karena dia tidak disebutkan
sebelumnya sebagai sahabat Ayub (bdk. 2:11-13). Dia juga menghilang secara
tiba-tiba di bagian penutup (bdk. 42:7, 9). Bagaimanapun, hal itu tidak berarti
bahwa keberadaannya tidak esensial. Cara Elihu ditampilkan tersebut dapat
dijelaskan dengan mudah. Nama Elihu tidak disebutkan di 2:11-13 karena ia masih
sangat muda dan tidak termasuk orang yang terkenal hikmatnya (32:6-7). Karena
itulah ketika ia mulai berbicara, penulis memberikan keterangan khusus tentang
asal-usul Elihu (32:2). Menghilangnya nama Elihu di bagian akhir kitab juga
dapat dijelaskan karena ia tidak termasuk orang yang dianggap bersalah oleh
Allah (42:7, 9). Sebagai tambahan, sekarang semakin banyak teolog yang meyakini
peranan sentral Elihu dalam keseluruhan cerita. Beberapa di antara mereka
bahkan menduga bahwa Elihu adalah penulis dari Kitab Ayub. Berikut ini adalah
beberapa argumen yang seringkali dikemukakan untuk menunjukkan pentingnya
peranan Elihu:
1.
Nama Elihu diberi keterangan yang
relative lebih detil (32:2, 6; bdk. 2:11)
2.
Hikmat Elihu terlihat dengan jelas dari
usianya yang muda dan tidak adanya kesalahan dalam dirinya
3.
Perkataan Elihu adalah satu-satunya yang
tidak dibantah oleh Ayub
4.
Perkataan Elihu merefleksikan inti dari
jawaban TUHAN terhadap Ayub dan dengan demikian sekaligus berfungsi sebagai
inti dari keseluruhan kitab.[13]
Dari semua
penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pandangan modern tidak
memberikan bukti yang kuat. Pandangan tersebut hanyalah sebuah dugaan.
Sebaliknya, walaupun pandangan tradisional juga tidak memberikan bukti yang
konklusif namun pandangan ini tetap memiliki kemungkinan yang lebih besar
dibandingkan pandangan lain. Keyakinan sebagian teolog bahwa Musa atau Elihu
merupakan penulis Kitab Ayub tetap tidak boleh diabaikan begitu saja.
Ciri-Ciri Khas
Tujuh
Ciri utama menandai kitab ini. :
1. Ayub,
penduduk Arab Utara, seorang yang bukan Israel yang benar dan takut akan Allah,
mungkin telah hidup sebelum keluarga perjanjian Israel ada. (1:1)
2. Kitab
ini menyajikan pembahasan terdalam yang pernah ditulis mengenai rahasia
penderitaan. Sebagai puisi dramatic, drama dalam kitab ini berisi rasa
kesedihan yang mengharukan dan dialog intelektual yang menggugah perasaan
3. Kitab
ini mengungkapkan suatu dinamika penting yang beroperasi dalam setiap ujian
berat yang dialami orang saleh : sementara iblis berusaha untuk menghansurkan
iman orang saleh, Allah bekerja untuk membuktikan iman itu dan memperdalamnya.
4. Kitab
ini memberikan sumbangan tak ternilai kepada seluruh penyataan Alkitabiah
tentang pokok-pokok penting seperti Allah, umat manusia, penciptaan, iblis,
dosa, kebenaran, penderitaan, keadilan, pertobatan dan iman
5. Sebagian
besar kitab ini mencatat penilaian teologis yang salah tentang penderitaan ayub
oleh teman-temannya.
6. Peran
iblis sebagai ‘penuduh’ orang benar ditunjukkan dengan lebih jelas dalam ayub
dari kitab PL lainnya.
7. Secara
dramatis, kitab ayub mempertunjukkan prinsip Alkitabiah bahwa orang percaya diubah
oleh penyataan dan bukan informasi (42:5-6)
Tujuan Penulisan
Kitab
Hampir semua teolog sepakat bahwa tujuan Kitab Ayub
adalah memberikan penjelasan tentang keadilan Tuhan bagi orang benar.
Penderitaan yang dialami oleh Ayub merupakan sesuatu yang sulit untuk dipahami
menurut konteks keagamaan pada waktu itu. Konsep tradisional mengajarkan bahwa
ketaatan akan membawa berkat (1:1-3), sedangkan ketidaktaatan menghasilkan
kutukan. [14]Berkaitan
dengan hal ini dalam tradisi PL sendiri dikenal dua macam aliran tradisi
hikmat. Aliran hikmat yang pertama adalah aliran yang bersifat keduniawian
seperti yang secara baik termuat dalm kitab Amsal, aliran ini dikukuhkan oleh
pandangan theodisi yang mengatakan
bahwa Tuhan mengganjar orang benar dan menghukum orang jahat. Aliran hikmat
yang kedua adalah aliran yang menekankan bahwa hikmat dan kuasa Tuhan nyata
dalam karya-karya kreatif Allah (band Yes 40:12-13, Ayub 28). Aliran ini
menekankan sifat Tuhan yang transendens, yang penuh rahasia dan rasa takut dan
gentar pada diri manusia apabila manusia berhadapan dengan kuasa Tuhan itu.
Dalam kerangka pikir seperti inilah Ayub dan tiga orang sahabatnya bergumul
tentang keadaan Ayub. Bagi Ayub yang tidak merasa bersalah (bdk. 1:5; 10:7;
13:18, 23; 27:5; 31:1-40), penderitaannya tampak sebagai sesuatu yang tidak
adil. Sebaliknya, para sahabat Ayub dengan yakin menuduh Ayub telah berbuat
dosa tertentu (bdk. 4:7-8).
Pergumulan seperti inilah yang ingin dijawab dalam
Kitab Ayub. Jika kita meneliti dengan lebih seksama, maka kita akan menemukan
sesuatu yang lebih dalam daripada pergumulan manusia di atas. Sejak awal kitab
ini para pembaca sudah diberi petunjuk bahwa inti persoalan bukan terletak pada
penderitaan Ayub. Yang paling disorot [15]Tremper
Longman III & Taymond B. Dillard, dalam bukunya An Introduction
to the Old Testament sebenarnya bukan alasan mengapa Ayub
menderita, tetapi keputusan Allah yang memberkati orang benar.[16]
Setan menganggap keputusan tersebut bersifat kontraproduktif karena kesalehan
seseorang menjadi tidak murni. Seseorang cenderung untuk hidup dengan saleh hanya
karena menginginkan berkat TUHAN (1:9-11; 2:3-5). Dengan demikian, yang menjadi
aktor yang paling disorot dalam kisah ini sebenarnya adalah Tuhan, bukan Ayub. Bagian
selanjutnya dari Kitab Ayub membuktikan bahwa keputusan Tuhan yang memberkati orang
benar memang bisa dipertanggungjawabkan. Paling tidak Ayub merupakan bukti konkrit
dari tepatnya keputusan tersebut. Sejak awal Ayub menolak untuk meninggalkan Tuhan
sekalipun ia tidak memiliki berkat apapun secara materi (1:21-22; 2:10). Pada
akhir cerita, Ayub tetap meyakini Tuhan dalam segala yang Ia perbuat (42:1-6).
Ayub bukan hanya bertahan, tetapi ia sendiri justru mengalami perkembangan
kerohanian (42:5). Menariknya, sebagai respon terhadap kesalehan Ayub ini,
TUHAN memberkati dia lebih daripada sebelumnya (42:10-17). Berkat ini tidak
diberikan pada saat Ayub sedang bergumul supaya tidak menimbulkan kesan bahwa
Ayub bertahan semata-mata karena menginginkan berkat itu. Berkat ini diberikan
setelah Ayub mempertahankan kesalehannya untuk membuktikan bahwa tuduhan setan
terhadap keputusan Allah adalah tidak tepat.
[17]Struktur Kitab Ayub
Pasal 1-2 Sidang Ilahi Setan mencoba ayub, walaupun demikian Ayub tetap
setia kepada Allah.
Pasal 3-27 Perdebatan
antara Ayub dan kawan-kawannya, yaitu Elifas, Zofar, dan Bildad. Menurut
kawan-kawannya itu Ayub menderita karena dosa-dosanya.
Pasal 28-31 Hikmat dipuji Ayub
membela diri bahwa dia tidak bersalah.
Pasal 32-37 Elihu
kawan yang keempat muncul dengan mengatakan bahwa selain Allah bisa memberi
pederitaan agar orang yang berdosa itu bertobat, maka Allah juga bisa member
pencobaan kepada orang saleh untuk mencobai mereka
Pasal 38-42:6 Allah
sendiri datang dan menjawab, “Aku adalah pencipta segala sesuatu makanya Aku
terlalu besar untuk dimengerti oleh manusia”. Lantas Ayub mengaku bahwa ia
orang kecil saja yang memang tidak bisa mengerti kebesaran Allah.
Pasal 42:7-14 Allah
mengatakan bahwa kawan-kawannya itu tidak benar dan Ayub memperoleh kembali
kesehatan, kekayaan dan kebahagiaannya.
TAFSIRAN
“AYUB
8 : 1-7”
Ayat 1 :
Maka berbicaralah Bildad, orang Suah:
-
Bildad
orang Suah : Keturunan Suah, merupaka salah satu dari
anak-anak Abraham, oleh Keturah, yang tinggal di Saudi Arabia, yang disebut dalam
Kitab Suci. Lihat Kejadian 25:1, 25:2 Kejadian, Kejadian 25:6.
Ayat 2 : "Berapa lamakah lagi engkau
akan berbicara begitu, dan perkataan mulutmu seperti angin yang menderu?
-
Berapa
lamakah lagi engkau akan berbicara begitu : Dalam kalimat
ini, Bildad orang Suah itu mulai kesal dengan Ayub yang selalu berbicara
tentang Tuhan yang mungkin menurut Bildad adalah sesuatu yang konyol.
-
perkataan
mulutmu seperti angin yang menderu : Septuaginta
menerjemahkannya, "Semangat mulutmu adalah berlimpah kata-kata".
Disini menurut Bildad setiap perkataan yang keluar dari mulut Ayub, baik itu
keluhan kepada Tuhan atau Ayub bergumam, layaknya seperti angin yang menderu,
siapa yang menghalangipun tidak bisa.
Ayat 3
: Masakan Allah membengkokkan keadilan?
Masakan Yang Mahakuasa membengkokkan kebenaran?
-
Masakan
Allah membengkokkan keadilan? : Tentu saja TUHAN tetap adil kepada Ayub. Namun di balik
pertanyaan retoris Bildad terdapat nada menghakimi bahwa Ayub sedang menuai
dosa yang ia taburkan. Masalah keadilan TUHAN ini, walaupun pasti tercakup
dalam keluhan Ayub, sebelumnya bukan merupakan pemikiran utamanya. Ayub telah
merenungkan nasibnya lebih dari perspektif metafisika tentang transendensi TUHAN
dan keterbatasan manusia. Dengan memusatkan perhatian pada aspek keadilan, para
penghibur itu hanya berhasil meningkatkan pencobaan sahabat mereka. Teodise
Ayub sama tidak memadainya dengan teodise para sahabat itu. Karena itu, Ayub
berpikir bahwa TUHAN pasti sangat tidak senang kepadanya. Namun, nuraninya
menolak untuk mengakui bahwa ia telah melakukan suatu pelanggaran yang sepadan
dengan penderitaannya. Jadi, di manakah keadilan? Di manakah TUHAN yang baik
yang dikenalnya selama ini?
-
Masakan
Yang Mahakuasa membengkokkan kebenaran? : Memiliki makna yang
sama dimana kebenaran dan keadilan dari TUHAN dipertanyakan.
Ayat 4 : Jikalau
anak-anakmu telah berbuat dosa terhadap Dia, maka Ia telah membiarkan mereka
dikuasai oleh pelanggaran mereka.
-
Jikalau
anak-anakmu telah berbuat dosa terhadap Dia : Disini Bildad
sepertinya mencoba mempengaruhi pikiran Ayub tentang TUHAN dengan membuat
perbandingan antara Ayub dan anak-anaknya (7 anak lelaki dan 3 anak perempuan).
Jika kita lihat pada pasal sebelumnya dikatakan dengan jelas dosa dari
anak-anak Ayub. Oleh sebab itu Bildad mengatakan hal seperti itu.
-
maka
Ia telah membiarkan mereka dikuasai oleh pelanggaran mereka :
Ia yang dimaksud adalah TUHAN. Mereka yang dimaksud adalah anak-anak
Ayub yang sudah melakukan dosa. Disini, mungkin Bildad mau mengatakan bahwa
jika anak-anak dari Ayub yang berdosa, maka TUHAN akan menimpakan tulah kepada
mereka (dikuasai oleh pelanggaran mereka).
Ayat 5 : Tetapi
engkau, kalau engkau mencari Allah, dan memohon belas kasihan dari Yang
Mahakuasa.
- Tetapi
engkau : engkau yang dimaksudkan adalah Ayub.
- kalau
engkau mencari Allah : suatu kalimat nasihat. Disini Bildad
menasihatkan Ayub untuk kembali dan merendahkan diri kepada TUHAN.
- memohon
belas kasihan dari Yang Mahakuasa : memohon belas kasihan
mungkin bisa ditafsirkan bahwa Bildad menyarankan kepada Ayub agar Ayub
benar-benar meminta pengampunan daripada TUHAN.
Ayat 6 : kalau
engkau bersih dan jujur, maka tentu Ia akan bangkit demi engkau dan Ia akan
memulihkan rumah yang adalah hakmu.
-
kalau
engkau bersih dan jujur : Kalau Ayub hidup bersih dan
jujur. (hidup benar dihadapan TUHAN.
-
maka
tentu Ia akan bangkit demi engkau : Ia adalah TUHAN,
jadi Bildad seakan-akan mau mengatakan bahwa jika Ayub memang hidup benar
dihadapan TUHAN, maka TUHAN akan membelanya. Tuhan tidak akan terus-terusan
membiarkan Ayub menderita.
-
Ia
akan memulihkan rumah yang adalah hakmu : Memulihkan, menjadikan
pulih; menjadikan suatu keadaan kembali (baik, sehat) seperti semula. Rumah, Di dalam PL maupun PB kata rumah bisa
dijadikan kata dengan arti kiasan soal hidup rumah-tangga secara keseluruhan,
soal hidup keluarga, atau soal keturunan (Misalnya: Kej
7:1) dan lagi soal jangkauan penguasaan
(Misalnya: rumah perbudakan = Mesir. Lihat Kel
13:3).
Jadi
maksud dari perkataan Bildad yaitu seakan-akan Bildad mau menghakimi bahwa Ayub
sudah bersalah kepada TUHAN sehingga Ayub dihukum oleh TUHAN. Dan satu-satunya
cara agar Ayub terbebas dari hukumannya, Ayub harus berserah, merendahkan diri
di hadapan TUHAN. Yang dimaksud dengan kalimat dalam ayat 6b ini
adalah TUHAN akan memulihkan atau memperbaiki kembali keluarga Ayub secara
keseluruhan karena keluarga Ayub merupakan bagian dari hidup Ayub dan itu
merupakan haknya,
Ayat 7 : Maka
kedudukanmu yang dahulu akan kelihatan hina, tetapi kedudukanmu yang kemudian
akan menjadi sangat mulia.
-
Maka
kedudukanmu yang dahulu akan kelihatan hina : Kedudukan, bisa saja tempat tinggal tapi
bisa juga suatu tingkatan atau martabat. Bildad mengatakan ini karena ia tahu bahwa
kehidupan Ayub dan keluarganya seperti apa. Oleh sebab itu Bildad mengatakan
hal ini agar supaya Ayub mau hidup benar karena Bildad beranggapan bahwa Ayub
adalah seorang yang berdosa.
-
tetapi
kedudukanmu yang kemudian akan menjadi sangat mulia
: ini merupakan perbandingan dengan kalimat yang sebelumnya. Jadi kedudukan
Ayub yang dahulu (mungkin berdosa) adalah suatu kedudukan yang hina tapi jika
Ayub mau hidup benar dihadapan Tuhan maka Tuhan akan memulihkannya.
[1]
Dr. J. Blommendaal, Pengantar Kepada
Perjanjian Lama, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2009), Hal 150
[2]
LAI, Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan,
(Jakarta : LAI, 1993, hal 754-755
[3]www.google.com, Latar
Belakang Kitab Ayub
[4] www.google.com, ibid
[5]
LAI, ibid
[6]
LAI, ibid
[7] www.google.com, Pengantar
Perjanjian Lama/Kitab Ayub
[8] Archer, A Survey of the Old Testament, hal
505.
[9]
Edward J.
Young, An
Introduction to the Old Testament (Grand Rapids: Erdmann’s, 1970), hal 319-320.
[10] www.google.com, Pengantar Perjanjian Lama, opcit
[11] Norman L.
Geisler & William E. Nix, A General
Introduction to the Bible (Chicago: Moody Press, 1968), hal
163-165.
[12]
Sebagian teolog menduga Ram, nenek moyang Elihu
(32:2), adalah keturunan Yehuda (Rut 4:18-19, 1Taw 2:8-10, 25-27, Mat 1:3-4).
Sebagian teolog lain menolak anggapan ini karena orang Bus kemungkinan besar
bukanlah orang Israel (bdk. Kej 22:20-21, Yer 25:23). Kita tidak dapat
memastikan apakah Elihu dalam Kitab Ayub merupakan keturunan Yehuda atau tidak.
Jika benar, maka Elihu bisa jadi hidup pada jaman sesudah para patriakh.
Mengingat pada waktu kisah di Kitab Ayub terjadi Elihu masih sangat muda dan
Ayub sendiri termasuk kategori yang lanjut usia (32:4, 6), tetap ada
kemungkinan bahwa Ayub dan tiga orang temannya lahir pada masa para patriakh.
[13]
J. P.
Weinberg, “Authorship and Author in the Ancient Near East and in the Hebrew
Bible”, Hebrew Studies 44 (2003) hal 157-168.
[14]
Prof. Dr. S. Wismoady Wahono, Di sini
Kutemukan, (Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2009), hal 232
[15]
Tremper Longman
III & Taymond B. Dillard, An Introduction to the Old Testament (Grand Rapids :
Zondervan, 2006), hal 225.
[16] J. P. Weinberg, “Authorship and Author in the Ancient
Near East and in the Hebrew Bible”, Hebrew
Studies 44 (2003) : 157-168.
[17]
LAI. ibid

No comments:
Post a Comment