Friday, 9 August 2013

Latar Belakang Kitab Daniel (Tugas HPL 2)


LATAR BELAKANG

Kitab Daniel merupakan kitab yang  sangat kental dengan semua ciri khas tulisan apokaliptis (“apokalypsis”).  Walaupun beberapa kitab lain juga mengandung muatan apokaliptis (Yesaya, Yehezkiel, dan Zakharia), namun Kitab Daniel lebih jelas merefleksikan apa yang menjadi karakteristik tulisan apokaliptis.
Kata “apokaliptik” berasal dari bahasa Yunani yang artinya “menyingkapkan” atau “membukakan” dan merujuk pada sesuatu yang sebelumnya tersembunyi dan sekarang telah disingkapkan. Sastra apokaliptik adalah jenis tulisan mengenai penyataan Ilahi yang berasal dari masyarakat Yahudi kurang lebih antara tahun 250 SM dan 100 M yang kemudian diambil alih dan diteruskan oleh Gereja Kristen. Sastra Apokaliptik sendiri muncul setelah kemerosotan peran kenabian di Israel dan tekanan dari situasi politik yang dialami bangsa Yahudi pada periode Helenistis.[1]
Ciri sastra Apokaliptik adalah memakai nama penulis samaran. Tulisan yang penulisnya menggunakan nama samaran dikenal dengan istilah pseudonymous. Pemakaian nama samaran merupakan hal yang lazim dan tidak hanya terjadi di lingkungan penulis Yahudi saja, tetapi juga di dunia Yunani dan Romawi. Dengan menggunakan nama samaran, biasanya nama figur-figur dari masa lampau yang dihormati, maka tulisan-tulisan apokaliptik mendapatkan otoritas dan dihadirkan sebagai tulisan-tulisan yang memprediksikan masa depan yang sedang digenapi.[2] Ciri lain dari sastra apokaliptik yang membuatnya mudah dikenali adalah banyak menggunakan bahasa simbolis. Kadang bahasa simbolis yang digunakan mudah dimengerti namun kadang sulit dipahami. Simbol-simbol yang sering dipakai adalah binatang-binatang, manusia dan bintang-bintang, makhluk-makhluk mitologi,  dan angka-angka. Ini dapat kita temukan dalam Kitab Daniel yang memakai nama-nama binatang untuk menyebutkan nama empat Negara.[3] Sering dikemukakan juga bahwa Apokaliptik Yahudi dipengaruhi oleh Persia dan Zoroaster.
Siapakah Daniel ?
Menurut Daniel 1:1-21, Daniel adalah seorang keturunan raja Yehuda, yang atas perintah raja Nebukadnezar dari kerajaan Babilonia yang jaya pada waktu itu, dibawa ke dalam istana raja untuk dilatih menjadi pelayan raja Nebukadnezar. Kemungkinan Daniel turut diangkut sewaktu masa mudanya bersama raja Yoyakim ke Babilonia sebagai tawanan perang. Jadi Daniel mendapat pendidikan di dalam istana pada masa mudanya. Daniel mulai terkenal saat ia berhasil membuka tabir mimpi raja Nebukadnezar dengan tepat. Sosok Daniel merupakan tokoh utama dalam kitab Daniel. Nama Daniel ini hampir tidak disinggung dalam buku-buku lain dalam bagian kitab suci lainnya. Timbul pertanyaan, kenapa justru nama Daniel di dalam kitab Daniel ini yang dijadikan figur saksi Tuhan yang sangat menentukan? Didalam Yehezkiel 28:3 ada disebut nama Daniel, seorang yang bijaksana. Daniel dalam Yehezkiel dipergunakan sebagai perbandingan dengan raja Tirus yang tinggi hati. Menurut tradisi Yahudi, Daniel ini identik dengan Daniel yang menjadi tokoh utama dalam kitab Daniel. Namun, perbedaannya Daniel yang dimaksudkan dalam kitab Yehezkiel adalah Daniel yang bijaksana, saleh dan seseorang yang bukan Israel, bahkan berasal dari zaman sebelum air bah.
Oleh sebab itu, kemungkinan juga para pencerita riwayat Daniel telah mengenal tokoh ceritanya sebagai seorang yang bijaksana dan seorang yang disayangi oleh Tuhannya, yang menyelamatkannya dari bahaya besar. Jadi, ada kemungkinan bahwa cerita tentang penyelamatan Daniel dari gua singa bukanlah hasil cerita yang baru melainkan cerita-cerita yang telah berakar dari materi atau cerita tua.[4] Timbul pertanyaan, apakah kisah tentang Daniel dalam kitab Daniel benar-benar ada ? ataukah ada sejarah dibalik penulisan kitab Daniel ini?
Kitab Daniel merupakan sastra apokaliptik yang paling tua, ditulis  pada masa puncak perjuangan Makkabeus. Kitab ini menjadi satu-satunya kitab apokaliptik yang masuk dalam kanon Perjanjian Lama. Tulisan ini sebagian ditulis dengan menggunakan bahasa Ibrani dan sebagian lagi dalam bahasa Aram. Kitab Daniel pasal 11 menguraikan sejarah penguasa seleuka sampai pada zaman Antiokhus IV. Mengapa penulis kitab ini memakai tokoh Daniel dan menempatkan peristiwanya seolah-olah terjadi pada zaman Nebukadnezar raja Babil (605-562)? Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya tentang sosok Daniel yang sudah dikenal sebelumnya, banyak orang mengatakan bahwa pemakaian nama samaran seperti itu disengaja untuk menghindarkan diri dari berbagai kesulitan. Di katakan juga bahwa orang-orang Yahudi sebenarnya hendak menampilkan Antiokhus melalui tokoh Nebukadnezar itu.[5]
Latar belakang historis kitab Daniel ini, yang dipusatkan tokoh dalam kitab Daniel itu, yaitu latar belakang sekitar Antiokhus III dari Syria dan anaknya, yang sekaligus penggantinya kedua, yaitu Antiokhus IV.
Antiokhus III dari Syria, memerintah sekitar tahun 223 – 187 SZB. Para peneliti Alkitab Perjanjian Lama, khususnya kitab Daniel berpendapat bahwa kitab Daniel dan bagian-bagiannya yang beraneka ragam, dituliskan sekitar tahun 200 dan 160 SZB, yaitu pada masa atau zaman Helenistik terakhir. Zaman Helenistik ini dimulai dengan penyerbuan raja Alexander dari Makedonia, yang memerintah tahun 336 – 323 SZB dan merebut kerajaan Persia serta berhasil dengan bantuan tentaranya, yang terdiri dari orang-orang Yunani, menerobos hingga perbatasan India. Dengan kemenangan raja Yunani ini, maka kerajaan-kerajaan di Timur Tengah kuno, yang selama ini dikuasai oleh raja Persia, sekarang menjadi jajahan raja Alexander untuk beberapa ratus tahun kemudian, melalui keturunannya. Hal ini dapat dilihat dari Daniel 8 : 21, yang menyebutkan : “Dan kambing jantan yang berbulu kesat itu ialah raja negeri Yunani, dan tanduk besar yang di antara kedua matanya itu ialah raja yang pertama.” Raja pertama dan raja-raja berikutnya itu biasanya disebut “Raja-raja dari Yunani”.
Dengan kemenangan kerajaan Yunani ini, maka melalui tentara dan pegawai-pegawai yang duduk di jabatan-jabatan tertinggi, juga dengan bantuan pedagang-pedagang, seluruh daerah jajahannya dipaksakan berbahasa Yunani, baik dalam pergaulan sehari-hari, maupun dikantor-kantor pemerintah. Namun bukan hanya bahasa Yunani yang dipaksakan menjadi bahasa Nasional atau Internasional, tetapi juga cara berpikir dan gaya hidup Yunani secara bertahap diajarkan diseluruh kekuasaan kerajaan Yunani. Namun, Kematian Alexander Agung yang tiba-tiba mengakibatkan pecahnya perang kembali diantara pewarisnya yang memang sudah lama merupakan perang dingin diantara mereka sendiri dan berlangsung lama sekitar tahun 301 SZB. Beberapa kerajaannya yang berada disebelah timur dari Laut Tengah dapat memperkokoh kedudukan mereka, dipimpin oleh pewaris Alexander, yang dikenal dengan kerajaan “diadokhe”. Diantara kerajaan ini adalah antara lain : Mesir yang dipimpin oleh dinasti Ptolomeus, Syria, Babilonia dan Persia yang diperintah oleh dinasti Seleuka.[6] Alexander dan para penggantinya memperkenalkan suatu kebudayaan ke Timur, suatu kebudayaan urban yang bercorak Yunani, kosmopolitan dan Helenistik.[7]
Pada tahun 175, Antiokhus IV yaitu anak dari Antiokhus III naik takhta di kerajaan Seleuka. Kerajaannya masih tetap terpecah-pecah dan untuk mempersatukannya dia mendorong dan memajukan segala unsur kebudayaan Hellenistis, termasuk ibadah kepada dewa Zeus, selaku dewa-dewa Yunani, serta dewa-dewa Yunani yang lain. Bahkan ia menghendaki supaya para penduduk kerajaannya memuja dia sendiri sebagai penjelmaan dari dewa Zeus. Keadaan ini sangat mempengaruhi orang-orang Yahudi dalam kehidupan kemasyarakatan dan kebudayaan mereka.
Bertepatan dengan tindakan Antiokhus yang sudah diluar batas untuk memaksakan pengangkatan seorang imam besar pilihannya sendiri, maka meletuslah pemberontakan didalam kota. Sang raja menjadi sangat marah karena kekuasaannya ditentang, sehingga ia memutuskan untuk memberi pelajaran kepada orang-orang Yahudi.[8] Antiokhus mulai campur tangan dalam agama Yahudi jauh lebih banyak dari semua raja asing terdahulu. Korban sehari-hari di bait suci dilarang dan dihentikan. Orang-orang Yahudi tidak boleh menguduskan hari Sabat atau merayakan hari-hari raya mereka. Salinan kitab Taurat Musa harus dibinasakan dan anak-anak tidak boleh disunat. Mezbah-mezbah ditempatkan bagi dewa-dewa asing diseluruh negeri dan binatang-binatang haram dipersembahkan diatasnya. Pada akhirnya patung dewa Zeus mulai ditempatkan dan dipuja di Bait Suci Yerusalem. Sebuah Mezbah bagi Zeus didirikan diatas mezbah yang diperuntukkan bagi Tuhan, Allah orang Israel.
Oleh karena hal itu, maka beberapa kelompok Yahudi mulai melawan Antiokhus. Satu kelompok disebut kaum Mursid. Kebanyakan ahli-ahli tafsir berpendapat bahwa kemungkinan salah satu dari anggota kelompok inilah yang menyusun kitab Daniel antara tahun 167-164 SZB. Sementara Antiokhus menganiaya orang-orang Yahudi pada saat itu. Dalam 1 dan II Makabe (Kitab-kitab Deoterokanonika dalam Alkitab Gereja Katolik Roma) terdapat riwayat-riwayat tentang perlawanan yang dipimpin oleh satu keluarga, yaitu Matatias dan lima anak lelakinya. Mereka melaksanakan perang gerilya melawan orang-orang seleuka dan salah seorang anak dari Matatias yaitu Yudas Makabe berhasil melakukan perlawanan dengan baik sehingga pada tahun 164, bait suci di Yerusalem disucikan kembali.
            Penulisan kitab Daniel menurut cerita yang ada terjadi pada abad ke 6 SZB ketika orang-orang Israel dibuang ke Babel, dan penglihatan-penglihatan yang dilihat dalam pasal 7-12, dianggap sebagai yang dilihat pada masa yang sama. Tetapi menurut ahli-ahli tafsir kebanyakan, kitab Daniel bukan disusun pada masa itu, tetapi disusun pada abad kedua SZB yaitu sekitaran tahun 167-164 SZB. Ada alasan-alasan yang memperkuat pendapat daripada mereka yaitu :
·         Dalam Alkitab bahasa Ibrani, kitab Danie bukan terdapat antara kitab nabi-nabi, tetapi bagian ketiga yaitu surat-surat. Kitab Sirakh membuktikan secara jelas bahwa kitab nabi-nabi dikimpulkan sebelum abad kedua SZB dan jika kitab Daniel sudah ada ketika kitab-kitab itu disusun maka sulit dimengerti mengapa kitab Daniel tidak termasuk didalamnya.
·         Gaya bahasa Ibrani dan Aram sesuai dengan abad kedua bukan abad keenam SZB. Misalnya kata “kasdim” selalu menunjuk dalam abad keenam kepasa suatu bangsa di negeri Babel bagian selatan, tetapi dalam kitab Daniel biasanya menunjuk kepada suatu kelompok imam atau peramal yang khusus, menurut kebiasaan kemudian. Disamping itu banyak kata bahasa Persia. Kemungkinan bahasa Ibrani dan Aram yang dipakai sudah lama dipengaruhi oleh bahasa Persia. Bahkan terdapat kata-kata bahsa Yunani, misalnya nama tiga alat musik dalam Daniel 3:5.
·         Pengetahuan penyusun kitab Daniel tentang zaman pembuangan orang-orang Israel di Babel pada abad keenam itu sangat terbatas dan tidak tepat. Karena : (1) tidak ada bukti lain bahwa orang-orang Yehuda dibuang Nebukadnezar ke Babel dalam tahun ketiga pemerintahan Yoyakim; (2) Belsyazar adalah seorang anak Nabunidus, bukan anak Nebukadnezar, dan dia tidak pernah menjadi raja Babel; (3) Tidak mungkin mengidentifikasikan Darius dari Media itu dengan seorang tokoh bersejarah.
·         Pengetahuan penyusun tentang zaman Hellenistis sangatlah tepat khususnya pada pasal 11:3-39, Raja-raja dari dinasti Ptolomeus dan seleukus yang disebut dalam ayat itu dapat diidentifikasikan tanpa kesulitan.
Alasan-alasan diatas merupakan bukti, bahwa kitab Daniel bukan disusun pada abad keenan SZB melainkan pada abad kedua dan secara lebih tepat sesudah penganiayaan orang-orang Yahudi oleh Antiokhus Epifanes mulai tahun 167 SZB. Tetapi ada juga bukti bahwa susunan itu dibuat sebelum kematian Antiokhus yaitu pada tahun 164 SZB. Secara ringkas, Kitab Daniel dialamatkan kepada orang-orang Yahudi yang pada saat itu dianiaya oleh Antiokhus Epifanes oleh sebab itu kitab Daniel mencoba menggambarkan Antiokhus dalam kitab Daniel sebagai raja Nebukadnezar yang angkuh dan jahat karena pada saat itu orang Yehudi dianiaya, agar supaya mereka tetap setia kepada Tuhan dan jangan murtad.



[1] alviyan julyanto sihotang , http://alviyanjulyantosihotang.wordpress.com/2012/12/14/apokaliptik/. 29 Juli 2013
[2] Harry Mowvley, Penuntun ke dalam Nubuat Perjanjian Lama, Jakarta: BPK Gunung Mulia,2006, hlm. 113
[3] alviyan julyanto sihotang , http://alviyanjulyantosihotang.wordpress.com/2012/12/14/apokaliptik/. 29 Juli 2013
[4] S.M Siahaan dan Robert M. Paterson. Kitab Daniel,  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007,  hlm. 11, 14-15
[5] S. Wismoady Wahono. Disini Kutemukan. Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2009, hlm. 275
[6] S.M Siahaan dan Robert M. Paterson. Kitab Daniel,  Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2007,  hlm. 42-43
[7] Robert Coote dan Mary p. Coote. Kuasa, politik dan proses pembuatan Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004, hlm  110
[8] D.S. Russel. Penyingkapan Ilahi. Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2007 , hlm. 34

No comments:

Post a Comment