LATAR BELAKANG
Kitab Daniel merupakan kitab yang
sangat kental dengan semua ciri khas tulisan apokaliptis (“apokalypsis”). Walaupun beberapa kitab lain juga mengandung
muatan apokaliptis (Yesaya, Yehezkiel, dan Zakharia), namun Kitab Daniel lebih
jelas merefleksikan apa yang menjadi karakteristik tulisan apokaliptis.
Kata “apokaliptik” berasal dari bahasa Yunani yang
artinya “menyingkapkan” atau “membukakan” dan merujuk pada sesuatu yang
sebelumnya tersembunyi dan sekarang telah disingkapkan. Sastra apokaliptik
adalah jenis tulisan mengenai penyataan Ilahi yang berasal dari masyarakat Yahudi kurang lebih antara tahun 250 SM dan 100 M yang kemudian diambil alih dan diteruskan oleh Gereja Kristen. Sastra Apokaliptik sendiri muncul setelah
kemerosotan peran kenabian di Israel dan tekanan dari situasi politik yang dialami bangsa Yahudi pada periode Helenistis.[1]
Ciri sastra Apokaliptik adalah memakai nama penulis
samaran. Tulisan yang penulisnya menggunakan nama samaran dikenal dengan
istilah pseudonymous. Pemakaian nama samaran merupakan hal yang
lazim dan tidak hanya terjadi di lingkungan penulis Yahudi saja, tetapi
juga di dunia Yunani dan Romawi. Dengan
menggunakan nama samaran, biasanya nama figur-figur dari masa lampau yang
dihormati, maka tulisan-tulisan apokaliptik mendapatkan otoritas dan dihadirkan
sebagai tulisan-tulisan yang memprediksikan masa depan yang sedang digenapi.[2] Ciri lain dari sastra
apokaliptik yang membuatnya mudah dikenali adalah banyak menggunakan bahasa
simbolis. Kadang bahasa simbolis yang digunakan mudah dimengerti namun kadang
sulit dipahami. Simbol-simbol yang sering dipakai adalah binatang-binatang,
manusia dan bintang-bintang, makhluk-makhluk mitologi, dan angka-angka. Ini dapat kita
temukan dalam Kitab Daniel yang memakai nama-nama binatang untuk menyebutkan
nama empat Negara.[3]
Sering dikemukakan juga bahwa Apokaliptik Yahudi dipengaruhi oleh Persia dan
Zoroaster.
Siapakah Daniel ?
Menurut Daniel 1:1-21, Daniel adalah seorang keturunan
raja Yehuda, yang atas perintah raja Nebukadnezar dari kerajaan Babilonia yang
jaya pada waktu itu, dibawa ke dalam istana raja untuk dilatih menjadi pelayan
raja Nebukadnezar. Kemungkinan Daniel turut diangkut sewaktu masa mudanya
bersama raja Yoyakim ke Babilonia sebagai tawanan perang. Jadi Daniel mendapat
pendidikan di dalam istana pada masa mudanya. Daniel mulai terkenal saat ia
berhasil membuka tabir mimpi raja Nebukadnezar dengan tepat. Sosok Daniel
merupakan tokoh utama dalam kitab Daniel. Nama Daniel ini hampir tidak
disinggung dalam buku-buku lain dalam bagian kitab suci lainnya. Timbul pertanyaan,
kenapa justru nama Daniel di dalam kitab Daniel ini yang dijadikan figur saksi
Tuhan yang sangat menentukan? Didalam Yehezkiel 28:3 ada disebut nama Daniel,
seorang yang bijaksana. Daniel dalam Yehezkiel dipergunakan sebagai
perbandingan dengan raja Tirus yang tinggi hati. Menurut tradisi Yahudi, Daniel
ini identik dengan Daniel yang menjadi tokoh utama dalam kitab Daniel. Namun,
perbedaannya Daniel yang dimaksudkan dalam kitab Yehezkiel adalah Daniel yang
bijaksana, saleh dan seseorang yang bukan Israel, bahkan berasal dari zaman
sebelum air bah.
Oleh sebab itu, kemungkinan juga para pencerita riwayat
Daniel telah mengenal tokoh ceritanya sebagai seorang yang bijaksana dan
seorang yang disayangi oleh Tuhannya, yang menyelamatkannya dari bahaya besar. Jadi,
ada kemungkinan bahwa cerita tentang penyelamatan Daniel dari gua singa
bukanlah hasil cerita yang baru melainkan cerita-cerita yang telah berakar dari
materi atau cerita tua.[4] Timbul pertanyaan, apakah
kisah tentang Daniel dalam kitab Daniel benar-benar ada ? ataukah ada sejarah
dibalik penulisan kitab Daniel ini?
Kitab Daniel merupakan sastra apokaliptik yang paling tua, ditulis pada masa puncak perjuangan Makkabeus. Kitab
ini menjadi satu-satunya kitab apokaliptik yang masuk dalam kanon Perjanjian Lama. Tulisan
ini sebagian ditulis dengan menggunakan bahasa Ibrani dan sebagian lagi dalam
bahasa Aram. Kitab Daniel pasal 11 menguraikan sejarah penguasa seleuka sampai
pada zaman Antiokhus IV. Mengapa penulis kitab ini memakai tokoh Daniel dan
menempatkan peristiwanya seolah-olah terjadi pada zaman Nebukadnezar raja Babil
(605-562)? Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya tentang sosok Daniel yang
sudah dikenal sebelumnya, banyak orang mengatakan bahwa pemakaian nama samaran
seperti itu disengaja untuk menghindarkan diri dari berbagai kesulitan. Di katakan
juga bahwa orang-orang Yahudi sebenarnya hendak menampilkan Antiokhus melalui
tokoh Nebukadnezar itu.[5]
Latar belakang historis
kitab Daniel ini, yang dipusatkan tokoh dalam kitab Daniel itu, yaitu latar
belakang sekitar Antiokhus III dari Syria dan anaknya, yang sekaligus
penggantinya kedua, yaitu Antiokhus IV.
Antiokhus III dari
Syria, memerintah sekitar tahun 223 – 187 SZB. Para peneliti Alkitab Perjanjian
Lama, khususnya kitab Daniel berpendapat bahwa kitab Daniel dan
bagian-bagiannya yang beraneka ragam, dituliskan sekitar tahun 200 dan 160 SZB,
yaitu pada masa atau zaman Helenistik terakhir. Zaman Helenistik ini dimulai
dengan penyerbuan raja Alexander dari Makedonia, yang memerintah tahun 336 –
323 SZB dan merebut kerajaan Persia serta berhasil dengan bantuan tentaranya,
yang terdiri dari orang-orang Yunani, menerobos hingga perbatasan India. Dengan
kemenangan raja Yunani ini, maka kerajaan-kerajaan di Timur Tengah kuno, yang
selama ini dikuasai oleh raja Persia, sekarang menjadi jajahan raja Alexander
untuk beberapa ratus tahun kemudian, melalui keturunannya. Hal ini dapat
dilihat dari Daniel 8 : 21, yang menyebutkan : “Dan kambing jantan yang berbulu
kesat itu ialah raja negeri Yunani, dan tanduk besar yang di antara kedua
matanya itu ialah raja yang pertama.” Raja pertama dan raja-raja berikutnya itu
biasanya disebut “Raja-raja dari Yunani”.
Dengan kemenangan
kerajaan Yunani ini, maka melalui tentara dan pegawai-pegawai yang duduk di
jabatan-jabatan tertinggi, juga dengan bantuan pedagang-pedagang, seluruh
daerah jajahannya dipaksakan berbahasa Yunani, baik dalam pergaulan
sehari-hari, maupun dikantor-kantor pemerintah. Namun bukan hanya bahasa Yunani
yang dipaksakan menjadi bahasa Nasional atau Internasional, tetapi juga cara
berpikir dan gaya hidup Yunani secara bertahap diajarkan diseluruh kekuasaan
kerajaan Yunani. Namun, Kematian Alexander Agung yang tiba-tiba mengakibatkan
pecahnya perang kembali diantara pewarisnya yang memang sudah lama merupakan
perang dingin diantara mereka sendiri dan berlangsung lama sekitar tahun 301
SZB. Beberapa kerajaannya yang berada disebelah timur dari Laut Tengah dapat
memperkokoh kedudukan mereka, dipimpin oleh pewaris Alexander, yang dikenal
dengan kerajaan “diadokhe”. Diantara kerajaan ini adalah antara lain : Mesir
yang dipimpin oleh dinasti Ptolomeus, Syria, Babilonia dan Persia yang
diperintah oleh dinasti Seleuka.[6]
Alexander dan para penggantinya memperkenalkan suatu kebudayaan ke Timur, suatu
kebudayaan urban yang bercorak Yunani, kosmopolitan dan Helenistik.[7]
Pada tahun 175,
Antiokhus IV yaitu anak dari Antiokhus III naik takhta di kerajaan Seleuka. Kerajaannya
masih tetap terpecah-pecah dan untuk mempersatukannya dia mendorong dan
memajukan segala unsur kebudayaan Hellenistis, termasuk ibadah kepada dewa
Zeus, selaku dewa-dewa Yunani, serta dewa-dewa Yunani yang lain. Bahkan ia
menghendaki supaya para penduduk kerajaannya memuja dia sendiri sebagai
penjelmaan dari dewa Zeus. Keadaan ini sangat mempengaruhi orang-orang Yahudi
dalam kehidupan kemasyarakatan dan kebudayaan mereka.
Bertepatan dengan
tindakan Antiokhus yang sudah diluar batas untuk memaksakan pengangkatan
seorang imam besar pilihannya sendiri, maka meletuslah pemberontakan didalam
kota. Sang raja menjadi sangat marah karena kekuasaannya ditentang, sehingga ia
memutuskan untuk memberi pelajaran kepada orang-orang Yahudi.[8] Antiokhus
mulai campur tangan dalam agama Yahudi jauh lebih banyak dari semua raja asing
terdahulu. Korban sehari-hari di bait suci dilarang dan dihentikan. Orang-orang
Yahudi tidak boleh menguduskan hari Sabat atau merayakan hari-hari raya mereka.
Salinan kitab Taurat Musa harus dibinasakan dan anak-anak tidak boleh disunat.
Mezbah-mezbah ditempatkan bagi dewa-dewa asing diseluruh negeri dan
binatang-binatang haram dipersembahkan diatasnya. Pada akhirnya patung dewa
Zeus mulai ditempatkan dan dipuja di Bait Suci Yerusalem. Sebuah Mezbah bagi
Zeus didirikan diatas mezbah yang diperuntukkan bagi Tuhan, Allah orang Israel.
Oleh karena hal itu,
maka beberapa kelompok Yahudi mulai melawan Antiokhus. Satu kelompok disebut
kaum Mursid. Kebanyakan ahli-ahli tafsir berpendapat bahwa kemungkinan salah
satu dari anggota kelompok inilah yang menyusun kitab Daniel antara tahun
167-164 SZB. Sementara Antiokhus menganiaya orang-orang Yahudi pada saat itu.
Dalam 1 dan II Makabe (Kitab-kitab Deoterokanonika dalam Alkitab Gereja Katolik
Roma) terdapat riwayat-riwayat tentang perlawanan yang dipimpin oleh satu
keluarga, yaitu Matatias dan lima anak lelakinya. Mereka melaksanakan perang
gerilya melawan orang-orang seleuka dan salah seorang anak dari Matatias yaitu
Yudas Makabe berhasil melakukan perlawanan dengan baik sehingga pada tahun 164,
bait suci di Yerusalem disucikan kembali.
Penulisan
kitab Daniel menurut cerita yang ada terjadi pada abad ke 6 SZB ketika
orang-orang Israel dibuang ke Babel, dan penglihatan-penglihatan yang dilihat
dalam pasal 7-12, dianggap sebagai yang dilihat pada masa yang sama. Tetapi
menurut ahli-ahli tafsir kebanyakan, kitab Daniel bukan disusun pada masa itu,
tetapi disusun pada abad kedua SZB yaitu sekitaran tahun 167-164 SZB. Ada
alasan-alasan yang memperkuat pendapat daripada mereka yaitu :
·
Dalam Alkitab bahasa Ibrani, kitab Danie
bukan terdapat antara kitab nabi-nabi, tetapi bagian ketiga yaitu surat-surat.
Kitab Sirakh membuktikan secara jelas bahwa kitab nabi-nabi dikimpulkan sebelum
abad kedua SZB dan jika kitab Daniel sudah ada ketika kitab-kitab itu disusun
maka sulit dimengerti mengapa kitab Daniel tidak termasuk didalamnya.
·
Gaya bahasa Ibrani dan Aram sesuai
dengan abad kedua bukan abad keenam SZB. Misalnya kata “kasdim” selalu menunjuk
dalam abad keenam kepasa suatu bangsa di negeri Babel bagian selatan, tetapi
dalam kitab Daniel biasanya menunjuk kepada suatu kelompok imam atau peramal
yang khusus, menurut kebiasaan kemudian. Disamping itu banyak kata bahasa
Persia. Kemungkinan bahasa Ibrani dan Aram yang dipakai sudah lama dipengaruhi
oleh bahasa Persia. Bahkan terdapat kata-kata bahsa Yunani, misalnya nama tiga
alat musik dalam Daniel 3:5.
·
Pengetahuan penyusun kitab Daniel
tentang zaman pembuangan orang-orang Israel di Babel pada abad keenam itu
sangat terbatas dan tidak tepat. Karena : (1) tidak ada bukti lain bahwa
orang-orang Yehuda dibuang Nebukadnezar ke Babel dalam tahun ketiga
pemerintahan Yoyakim; (2) Belsyazar adalah seorang anak Nabunidus, bukan anak
Nebukadnezar, dan dia tidak pernah menjadi raja Babel; (3) Tidak mungkin
mengidentifikasikan Darius dari Media itu dengan seorang tokoh bersejarah.
·
Pengetahuan penyusun tentang zaman
Hellenistis sangatlah tepat khususnya pada pasal 11:3-39, Raja-raja dari
dinasti Ptolomeus dan seleukus yang disebut dalam ayat itu dapat
diidentifikasikan tanpa kesulitan.
Alasan-alasan
diatas merupakan bukti, bahwa kitab Daniel bukan disusun pada abad keenan SZB
melainkan pada abad kedua dan secara lebih tepat sesudah penganiayaan
orang-orang Yahudi oleh Antiokhus Epifanes mulai tahun 167 SZB. Tetapi ada juga
bukti bahwa susunan itu dibuat sebelum kematian Antiokhus yaitu pada tahun 164
SZB. Secara ringkas, Kitab Daniel dialamatkan kepada orang-orang Yahudi yang
pada saat itu dianiaya oleh Antiokhus Epifanes oleh sebab itu kitab Daniel
mencoba menggambarkan Antiokhus dalam kitab Daniel sebagai raja Nebukadnezar
yang angkuh dan jahat karena pada saat itu orang Yehudi dianiaya, agar supaya
mereka tetap setia kepada Tuhan dan jangan murtad.
[1]
alviyan julyanto sihotang
, http://alviyanjulyantosihotang.wordpress.com/2012/12/14/apokaliptik/. 29 Juli 2013
[2]
Harry Mowvley, Penuntun ke dalam Nubuat
Perjanjian Lama, Jakarta: BPK Gunung Mulia,2006, hlm. 113
[3]
alviyan julyanto sihotang
, http://alviyanjulyantosihotang.wordpress.com/2012/12/14/apokaliptik/. 29 Juli 2013
[4]
S.M Siahaan dan Robert M. Paterson. Kitab
Daniel, Jakarta: BPK Gunung Mulia,
2007, hlm. 11, 14-15
[5]
S. Wismoady Wahono. Disini Kutemukan.
Jakarta : BPK Gunung Mulia, 2009, hlm. 275
[6]
S.M Siahaan dan Robert M. Paterson. Kitab
Daniel, Jakarta: BPK Gunung Mulia,
2007, hlm. 42-43
[7]
Robert Coote dan Mary p. Coote. Kuasa,
politik dan proses pembuatan Alkitab. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2004,
hlm 110
[8]
D.S. Russel. Penyingkapan Ilahi. Jakarta
: BPK Gunung Mulia, 2007 , hlm. 34

No comments:
Post a Comment