"Mencintaimu adalah hal yang paling menyakitkan dalam hidup
ini... Seharusnya aku tak boleh mencintaimu sedalam ini kalau pada akhirnya…
kau menyakitiku" - Given Farrelino
Ruangan itu sangat sepi seperti biasanya
dengan lampu yang masih menyala. Ruangan yang seharusnya sudah kosong setelah
aktivitas dikantor berakhir, namun nampaknya masih ada seorang lelaki yang
betah bertahan didalamnya. Entah apa yang dilakukannya didalam ruangan
tersebut, tapi tatapan lelaki tersebut tertuju pada bingkai foto yang berada
ditangannya. Sepertinya ia sedang melamunkan sesuatu.
“Kenapa sih, lo kerjaannya melamun terus tiap selesai kantor?”
Lamunannya terhenti dan langsung menoleh kearah datangnya
suara. Michael yang berdiri dipintu
ruangan tersebut tersenyum padanya. Ia cepat-cepat berusaha menyembunyikan
bingkai foto yang sedari tadi dipandanginya.
“udah. Gak perlu disembunyiin, gue udah tau kok kalo itu
foto Cayla. Udahlah, Giv. Lo itu
mestinya move on ! ngapain mikirin
hal-hal yang bikin lo sakit hati?”
kata Michael mencemaskan sahabatnya yang masih memegang bingkai foto
ditangannya.
“Ngapain lo kesini?
Ganggu orang aja. Lagian gue rencana mau lembur malam ini karena ada beberapa
hal yang harus gue selesaikan” gumam Given seakan mencoba menyembunyikan
sesuatu dari Michael.
“Alasan klasik, bro. Udah berapa kali lo bilang kayak gitu? Tapi ujung-ujungnya ya kayak tadi, bukannya
lembur karena kerja, eh malah lembur karena liatin fotonya Cayla. Ckckck.
Prihatin gue sama lo… Ya udah deh,
gue cabut duluan ya. Si Jenny udah nunggu dibawah. Ingat Move On !!!” Balas
Michael seraya meninggalkannya dengan tetap memegang bingkai foto tersebut
dalam kesunyian.
Given dan Michael sudah bersahabat sejak SMP. Mereka berdua
selalu bersama hingga Given menjabat sebagai direktur utama di Perusahaan
tersebut menggantikan ayahnya. Tidak heran, banyak hal tentang Given sudah
terekam jelas dalam pikiran Michael, seolah-olah tidak ada satupun yang tidak
diketahui Michael dari Given begitupun sebaliknya. Given, lelaki tampan yang memiliki pipi tirus
berbentuk kurva, bermata coklat dan memiliki alis yang tebal serta hidung yang
mancung dengan rambut hitam dipotong serta ditata dengan rapi layaknya seorang
pemimpin perusahaan serta senyumnya yang indah dengan giginya yang putih dan rapi membuat wanita-wanita yang melihatnya jatuh
cinta kepadanya. Namun sayang senyuman yang dulu sering menghiasi bibirnya,
kini menghilang tanpa jejak. Senyum yang membuat ia terlihat ramah dan
bersahabat hilang dan tergantikan dengan wajah datar, dingin dan tanpa
ekspresi. Walaupun begitu Given Farrelino, begitu nama lengkapnya tetap
terlihat tampan dimata orang-orang yang melihatnya. Entah sejak kapan Given
kehilangan senyum indahnya, yang pasti kejadian empat tahun yang lalu
membuatnya sangat terpukul dan hidup dalam keterpurukan. Sejak saat itu ia
tidak pernah lagi bersikap ramah kepada orang-orang selain Michael.
“Oh God ! seharusnya aku tak boleh mencintaimu sedalam ini,
karena pada akhirnya kau akan tetap menyakitiku” Ungkap Given dan tanpa sadar airmatanya mulai menetes membasahi bingkai foto yang sedang dipandanginya.
No comments:
Post a Comment